MENDENGARKAN MUSIK DAN KESEHATAN

Efek Gerak-Badan dan Musik dalam Jangka Pendek pada Performa Kognitif

pada Para Peserta Program Rehabilitasi Jantung


TUJUAN: Gerak-badan selama ini berhubungan dengan perbaikan performa kognitif diantara para pasien dengan coronary artery disease. Mendengarkan musik selama ini berhubungan dengan perbaikan fungsi kognitif diantara para orang dewasa sehat. Studi ini mengevaluasi kombinasi pengaruh gerak-badan dan mendengarkan musik pada performa kognitif diantara para pasien dalam rehabilitasi jantung (CR).

DESAIN DAN SETTING: Dengan menggunakan desain ukuran ulangan dalam- -subyek, studi ini dilakukan pada pasien rawat jalan di fasilitas rehabilitasi jantung berbasis-universitas.

 

SAMPLE: Tigapuluh tiga pria dan wanita (usia rata-rata _ 62. 6 _ 10. 5 tahun)  berpartisipasi dalam studi ini.

 

METODE: Para peserta mengikuti satu sesi gerak-badan yang diiringi dengan musik dan sesi gerak-badan kedua  tanpa musik.  Tatanan kondisinya diatur secara acak. Sebelum dan sesudah tiap sesi gerak-badan, para peserta mengikuti sesi assessment depresi dan ansietas, dan tes kognitif berupa kelancaran verbal

HASIL: Kondisi  musik berhubungan dengan perbaikan yang signifikan pada kelancaran verbal (lisan), tapi kondisi kontrol tanpa musik tidak berhubungan dengan perubahan kognitif.

KESIMPULAN: Studi ini memberikan bukti awal tentang kombinasi manfaat gerak-badan dan mendengarkan musik bagi performa kognitif diantara pasien dalam CR. (Heart Lung® 2003;32:368-73. )

 

PENDAHULUAN

Studi-studi dimasa lalu telah menunjukkan manfaat rehabilitasi jantung (CR) untuk kesehatan fisik dan psikologis diantara para pasien dengan coronary artery disease (CAD). Standar perawatan untuk rawat jalan program-program CR diantaranya gerak-badan fisik 12 minggu dan pendidikan mengenai modifikasi faktor-faktor risiko jantung. Gerak-badan adalah komponen sentral dalam program-program CR, yang berkontribusi pada peningkatan daya tahan fisik dan peningkatan fungsi kardiopulmonary. Selain itu, gerak-badan diantara pasien jantung telah terbukti berkontribusi pada pengurangan depresi dan ansietas dan dan peningkatan fungsi kognitif.

Fungsi kognitif adalah sesuatu yang menjadi perhatian diantara pasien dengan CAD karena data telah menunjukkan neuropsikologis deficits diantara pasien pada CR. Selain itu,  sejumlah besar pasien dalam CR telah menjalani coronary artery bypass graft surgery, yang berhubungan dengan gangguan kognitif jangka pendek dan jangka panjang. Meskipun data yang mengindikasikan risiko yang lebih besar pada deficit kognitif diantara pasien CR dan data yang mengindikasikan bahwa fungsi kognitif berhubungan dengan kualitas hidup diantara pasien CR hanya 1 studi yang telah mengevaluasi efek gerak-badan pada fungsi kognitif diantara para pasien jantung,, yang menunjukkan bahwa berjalan secara teratur berhubungan

dengan meningkatnya performa ingatan.

 

Dalam sejumlah studi terpisah lain, telah ditunjukkan mendengarkan musik mungkin bermanfaat untuk kesehatan dan kesejahteraan para pasien kedokteran dan bermanfaat untuk performa kognitif pada orang dewasa yang sehat.   Efek yang menguntungkan dari musik pada suasana hati,  kecemasan, tekanan darah, dan degup jantung telah terdokumentasikan pada para pasien rawat inap jantung. Selain itu, diantara pasien dengan chronic obstructive pulmonary disease

(COPD), mendengarkan musik tampaknya memberikan pengalihan perhatian dari gejala-gejala fisik berupa sesak napas, yang pada gilirannya, bias meningkatkan performa gerak-badan. Selain itu

Selain itu, data menunjukkan bahwa mendengarkan musik klasik  (contoh, Mozart) bias memberikan efek positif pada aspek-aspek fungsi kognitif (contoh,  penalaran ruang dan waktu) diantara para mahasiswa. Komponen  fungsi kognitif yang tampaknya dipengaruhi oleh intervensi jangka-pendek  adalah fungsi eksekutif, sebagaimana tercermin pada assessments  tugas pemecahan masalah  yang memerlukan perilaku bertujuan atau terarah (purposive), control diri, dan kemampuan untuk mengalihkan perhatian.

Studi-studi terdahulu telah mengindikasikan efek positif gerak-badan pada fungsi kognitif eksekusi

diantara para orang dewasa sehat dan diantara pasien  dengan COPD. Salah satu studi terbaru diantara pasien dengan COPD menemukan perbaikan performa pada suatu test verbal processing sesudah satu gerak-badan.   Maka, data menunjukkan bahwa mungkin ada perubahan-perubahan fungsi eksekutif segera sesudah gerak-badan dan changes pada performa kognitif sesudah intervensi gerak-badan jangka panjang. Data dari studi-studi tentang musik telah mendokumentasikan hanya perubahan-perubahan jangka pendek dalam fungsi eksekutif segera sesudah mendengarkan musik.

Mengingat pentingnya gerak-badan diantara pasien dengan CAD dan  adanya potensi manfaat musik untuk meningkatkan efek positif gerak-badan, tujuan studi ini adalah untuk meneliti efek

mendengarkan musik pada hasil-hasil kognitif diantara  para pasien jantung  sesudah satu gerak-badan.  Fungsi kognitif dievaluasi dengan indicator standar fungsi kognitif yang merefleksikan kemampuan pengolahan verbal. Berdasarkan pada data sebelumnya yang mengindikasikan bahwa gerak-badan mungkin berhubungan dengan perubahan-perubahan akut dalam pengolahan verbal, dihipotesa bahwa gerak-badan  akan memiliki efek positif  pada pengolahan verbal, tetapi

bahwa  kombinasi efek gerak-badan dan mendengarkan musik  akan lebih besar daripada efek gerak-badan tanpa  musik.

METODE

Peserta

Tigapuluh tiga orang dewasa (19 laki-laki dan 14 perempuan; usia rata-rata _ 62. 6 _ 10. 5 tahun; kisaran usia: 34-78 tahun) dengan CAD berpartisipasi dalam studi ini. Analisis kekuatan yang menggunakan estimasi besaran efek dari studi-studi sebelumnya mengindikasikan bahwa ukuran sample 33 akan menghasilkan kekuatan yang cukup (0. 80). Para peserta direkrut dari pasien yang  mengikuti  program CR fase II 12 minggu berbasis-universitas. Para peserta ini direkrut karena 3 alasan. Pertama, data tes stress, yang bias digunakna untuk menentukan treadmill grade dan kecepatan selama intervensi gerak-badan, tersedia dari re-evaluasi paska-CR tiap pasien. Protokol gerak-badan mensyaratkan bahwa para peserta melakukan gerak-badan dengan kepasitas maksimum 85% (VO2max), sebagaimana tercermin pada data pertukaran gas dari tes stress. Semua tes stress dilakukan oleh staf fisiolog  gerak-badan dalam program rehabilitasi jantung  dan diinterpretasikan oleh dokter ahli penyakit jantung. Kedua, rekrutmen pasien yang sudah terbiasa dengan gerak-badan meminimalkan factor pengganggu yang berhubungan dengan efek peristiwa jantung terkini dan ketidakbiasaan dengan aktivitas gerak-badan. Ketiga, para peserta cenderung lebih mampu menyelesaikan gerak-badan sesuai dengan protocol studi karena telah menyelesaikan pelatihan gerak-badan 12 minggu sebelumnya.   Semua peserta telah didiagnose mengalami CAD. Informasi demografi dan medis tambahan diberikan di in Table I.

Prosedur

Tiap peserta menyelesaikan 2 sesi gerak-badan dengan treadmill yang dijadwalkan 1 minggu.  Selama satu dari sejumlah  sesi gerak-badan itu, para peserta mendengarkan pilihan musik yang direkam dalam tape (Vivaldi’s Four Seasons) melalui earphones yang dikaitkan pada sebuah personal cassette recorder. Pilihan musik ini dipilih berdasarkan pada tempo dan irama yang sedang dan efek positifnya pada riset sebelumnya diantara para pasien dengan COPD. Selama sesi gerak-badan lainnya, para peserta mendengarkan tape kosong melalui earphones yang dihubungkan dengan personal cassette recorder.

Tiap peserta menyelesaikan kedua sesi gerak-badans, dengan urutan kondisi yang ditentukan secara acak.  Sesi gerak-badans terdiri dari 10 menit dengan peningkatan kecuraman dan kecepatan secara bertahap hingga mencapai setara 85% VO2max,  sebagaimana ditentukan dari tes stress terbaru peserta. Para peserta selanjutnya meneruskan  gerak-badan selama mungkin pada level itu. Untuk meminimalkan pengganggu eksternal, subyek-subyek melakukan gerak-badand di sebuah ruang pribadi dengan didampingi hanya seorang fisiolog gerak-badan. Sebelum dan sesudah tiap sesi gerak-badan, para peserta mengisi self-report assessments tentang suasana hati (mood) dan assessment kognitif, yang dilakukan oleh seorang mahasiswa doctoral terlatih yang tidak memahami  kondisi eksperimen. Tekanan darah dan degup jantung diukur di baseline dan pada interval 3 menit selama sesi gerak-badan.

Penilaian / Pengukuran

Performa Gerak-badan. Degup jantung dan tekanan darah dimonitor secara terus menerus selama sesi gerak-badan. Untuk masing-masing dari 3 variabel primary cardiovascular (degup jantung, tekanan darah sistolik dan diastolik) pada saat baseline dan saat puncak selama gerak-badan digunakan untuk analisis data. Selain itu, total waktu gerak-badan dicatat sebagai indicator performa gerak-badan.

Depresi dan ansietas. Simptom-simptom  depresi dan ansietas diukur dengan sub-skala dari versi modifikasi Profile of Mood States-Short Form (POMS-SF). Para peserta menyatakan seberapa besar masing-masing dari 30 kata sifat itu menggambarkan diri mereka pada saat ini. The POMS-SF sangat berkorelasi dengan POMS 60-item asli. Untuk tujuan studi ini, subskala depresi-dejeksi (kekesalan hati) dan ketegangan-kecemasan dievaluasi. Estimasi reliabilitas untuk 2 subskala ini sangat baik (alphas: 0. 81-0. 88).

 

Fungsi Kognitif. Tes kelancaran verbal dimasukkan sebagai salahs atu indicator kapasitas subyek untuk mengorganisir pemrosesan verba.   Tes ini dianggap sensitive untuk mengetahui gangguan frontal lobe dan memiliki reliabilitas tes-retes sebesar 0. 88.  Untuk tes ini responden diberi 2 percobaan selama masing-masing 1 menit untuk menyebutkan sebanyak mungkin kata mulai dari huruf tertentu dalam alphabet.   Bentuk ain tes ini (yaitu tes dengan huruf-huruf lain) juga ada untuk assessment paska-gerak-badan kedua.

.

Harapan dan Pengalaman Musik. Untuk memperhitungkan perbedaan-perbedaan individual pada ekspektasi (harapan) peserta atas suatu musik, sebuah angket paska-gerak-badan 4-item diberikan untuk menentukan sikap peserta tentang musik (contoh, suka musiknya, menikmati gerak-badan dan musiknya,  beranggapan bahwa musik akan meningkatkan performa gerak-badan, dan yakin bahwa musik cocok untuk studi itu). Masing-masing dari 4 item itu diberi rating dengan skala Likert 4-poin, dan reliabilitas internal skala ini tinggi (Cronbach alpha _ 0. 88). Selain itu, sebagai ukuran exposure musik,  para peserta mengindikasikan dengan satu item (ya atau tidak) apakah mereka telah berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan musikal di masa lalu.

Analisis Data

Moda utama analisis data adalah repeated measures analysis of covariance (ANCOVA) dengan kondisi (musik vs no musik) dan waktu (pra-gerak-badan vs paska -gerak-badan) sebagai factor-faktor  dalam-subyek dan ke 2 variable ekspektasi musik sebagai covariates. Besaran atau ukuran efek untuk interaksi yang signifikan dilaporkan sebagai partial eta squared (_2). Dengan adanya interaksi Waktu x Group yang signifikan, repeated measures ANOVA digunakan untuk mengevaluasi perubahan seiring waktu dalam masing-masing kondisi. Karena tingginya interkorelasi dianara ke 3 ukuran kardiovaskuler (degup jantung dan tekanan darah systolic dan diastolic), koreksi Bonferroni digunakan dalam mengevaluasi signifikansi statistic  untuk variable-variabel ini. Maka, untuk hasil-hasil psikologis dan kognitif,  level signifikansi statistiknya  adalah P _ . 05,  sedangkan untuk hasil-hasil kardiovaskuler level signifikansi statistiknya P _ . 017.

HASIL

Sebagaimana ditunjukan di Table II, respon fisiologis terhadap gerak-badan sama pada semua kondisi. Tidak ada interaksi yang signifikan untuk degup jantung atau  tekanan darah, tetapi ada efek waktu yang signifikan untuk degup jantung [F (1,30) _ 11. 1, P _ . 002]  dan untuk tekanan darah systolic [F (1,30) _ 10. 2, P _ 003]. Seperti yang sudah diduga, pada kedua kondisi itu, para peserta mengalami peningkatan degup jantung dan tekanan darah systolic secara signifikan. Sesuai dengan data kardiovaskuler, tidak ada perbedaan antar kondisi dalam waktu gerak-badan total, seperti yang ditunjukkan di Table

II.

 

Repeated measures ANCOVA mengindikasikan tidak adanya interaksi yang signifikan pada subskala depresi atau kecemasan dalam POMS-SF. Namun, analisis efek waktu yang signifikan untuk subskala depresi [F (1,30) _ 14. 3, P _ . 001], yang mencerminkan pengurangan gejala-gejala depresi secara keseluruhan yang berhubungan dengan gerak-badan, sebagaimana yang ditunjukkan di Table 2. Analisis skor kelancaran verbal menunjukkan interaksi Waktu x Kondisi yang signifikan [F (1,30) _4. 92, P _ . 03, _2 _ 0. 14]. Seperti yang ditunjukkan di Table II, analisis efek sederhana mengindikasikan peningkatan yang signifikan pada performa yang berhubungan dengan kondisi musik [F (1,30) _ 6. 55, P _ . 02, _2 _ 0. 18], tetapi tidak ada perubahan yang berhubungan dengan kondisi tanpa -musik.

PEMBAHASAN

Hasil studi ini mengindikasikan bahwa gerak-badan berhubungan dengan peningkatan bangkitan fisiologis dan penurunan gejala-gejala depresi terlepas dari apakah para peserta mendengarkan musik atau tidak. Temuan-temuan ini sesuai dengan studi-studi sebelumnya yang dilakukan pada orang dewasa muda dan dewasa lanjut, yang menunjukkan bahwa gerak-badan jangka-pendek berhubungan dengan peningkatan bangkitan dan perbaikan suasana hati, khususnya untuk gerak-badan intensitas lebih tinggi. Selain itu,  data ini menunjukkan bahwa mendengarkan musik berhubungan dengan perbaikan performa pada test kelancaran verbal, yang mencerminkan kemampuan kognitif yang lebih baik untuk mengorganisir dan mengurutkan informasi. Walau ukuran efek interaksi yang disebut terakhir adalah kecil, hasil-hasilnya sesuai dengan studi-studi  lain yang mencerminkan efek positif gerak-badan dan musik pada performa kognitif.

Studi ini tidak mengevaluasi mekanisme bagaimana gerak-badan dan musik mempengaruhi performa kognitif, tetapi  penjelasan tentang efek ini bisa ditemukan dalam studi-studi sebelumnya dari literature riset. Efek positif gerak-badan pada performa kognitif performa selama ini dikaitkan dengan perubahan-perubahan neurofisiologis (contoh, electroencephalograph, evoked

potential) yang berhubungan dengan stimulasi system syaraf pusat . Mendengarkan musik bisa mempengaruhi fungsi kognitif melalui saluran-saluran alternatif dengan membantu untuk lebih bisa mengorganisir transmisi otak kortikal. Maka, sampai tingkat tertentu dimana gerak-badan dan musik bisa memiliki efek simultan pada performa kognitif, kombinasi gerak-badan dan musik akan bisa meningkatkan bangkitan kognitif sekaligus membantu mengorganisir output kognitif. Walau

mekanisme ini tidak bisa didukung oleh hasil-hasil ini, perbaikan kognitif dalam studi ini dijumpai hanya diantara subyek-subyek yang terekspose pada gerak-badan sekaligus musik

Ada sejumlah wilayah penelitian yang bisa menjadi tindak lanjut dari studi ini.  Sebagai contoh, , karena studi ini tidak memasukkan kelompok control sehat, tidak jelas bagaimana efek yang dijumpai bisa digeneralisasi pada orang-orang dewasa lanjut diluar setting CR. Selain itu, studi ini tidak didesain untuk mengevaluasi efek berbagai level intensitas gerak-badan pada performa kognitif, dan studi ini tidak membahas efek mendengarkan musik daam jangka panjang pada performa kognitif.  Selain itu, walau musik klasik digunakan dalam studi ini , tampaknya gaya-gaya dan tempo-tempo lain dalam musik bisa memberikan efek yang menguntungkan juga. . Rekrutmen para peserta yang telah menyelesaikan CR 12 minggu dimaksudkan untuk meminimalisir risiko kesehatan yang berhubungan dengan gerak-badan jangka-pendek. Namun, prosedur ini mungkin saja justru membatasi besarnya efek kelancaran verbal pada para pesertayang diduga telah mendapatkan perbaikan jangka-panjang dalam fungsi kognitif yang

berhubungan dengan gerak-badan. Bisa jadi bahwa peningkatan yang lebih besar pada performa kognitif bisa dijumpai dengan meneliti para peserta yang banyak duduk dengan tidak banyak memberikan kesempatan gerak-badan.

Ini adalah studi pertama untuk mengevaluasi kombinasi efek gerak-badan dan musik pada performa kognitif akut. Mengingat adanya perbedaan selera musik diantara para pasien dalamCR, perlu diingat untuk mengevaluasi pengaruh gaya-gaya alternative musik pada performa kognitif.   Selain itu, data ini menunjukkan pentingnya mengevaluasi efek musik pada  hasil-hasil gerak-badan diantara populasi medis tambahan yang berpartisipasi daam rehabilitasi gerak-badan

 

Leave a Reply