OBSTRUCTIVE SLEEP APNEA DAN RISIKO HIPERTENSI

Konteks: Hipetensi sistemik adalah lazim pada para pasien dengan obstructive sleep apnea (OSA). Sejumlahpenelitian jangka-pendek menunjukkan bahwa terapi continuous positive airway pressure (CPAP)  mengurangi tekanan darah pada pasien dengan hiprtensi dan OSA.

Tujuan:  untuk menentukan apakah terapi CPAP berhubungan dengan  penurunan risiko hipertensi.

Desain, Seting, dan Peserta: Sebuah prospective cohort sudy yang terdiri dari  1889 peserta tanpa hipertensi yang dirujuk ke Sleep Center di Zaragoza, Spanyol, karena nocturnal polysomnography antara 1 Januari 1994 dan 31 Deesmber 2000.  Hipertensi dijumpai pada kunjungan follow-up tahunan hingga 1 Januari 2001. Multivariable model yang diatur sedemikian rupa untuk mengenali faktor -faktor pengganggu,t ermasuk perubahan body mass index dari baseline sampai waktu yang telah ditentukan, digunakan untuk menghitung hazard ratios (HRs) hipertensi pada para peserta tanpa OSA (kontrol), dengan OSA yang tidak dirawat, dan pada mereka yang dirawat dengan terapi CPAP menurut pedoman nasional.

Yang diukur : insidensi hipertensi onset-baru

Hasil: selama 21 003 orang-tahun tindak lanjut (median, 12,2 tahun), 705 kasus (37,3%) insidensi hipertensi diamati. Insidensi  hipertensi per 100 orang-tahun adalah 2,19 (95% CI, 1,71 – 2,67) pada kontrol, 3,35 (95% CI, 2,85-3,82) pada pasien dengan OSA yang tidak memenuhi syarat mendapatkan terapi CPAP, 5,84 (95% CI, 4,82 – 6,86 pada pasien dengan OSA  yang menolak terapi CPAP, 5,12 (95% CI, 3,76-6,47) pada pasien dengan OSA  yang tidak mematuhi terapi CPAP, dan 3,06 (95% CI, 2,70-3,41) pada pasien dengan OSA dan dirawat dengan terapi CPAP. Dibandingkan dengan kontrol, adjusted HRs untuk insiden hipertensi lebih besar pada para pasien dengan OSA yang tidak bisa mendapatkan terapi CPAP (1,33; 95% CI, 1,01-1,75), pada para pasien yang menolak terapi CPAP (1,96; 95% CI, 1,44-2,66), dan pada para pasien yang tidak mematuhi  terapi CPAP (1,78; 95% CI, 1,23 – 2,58), sedangkan HR lebih rendah pada para pasien denganOSA yang dirawat dengan terapi CPAP (0,71; 95% CI, 0,53 – 0,94).

Kesimpulan

Dibandingkan dengan peserta tanpa OSA, adanya OSA berhubungan dengan meningkatnya risiko insiden hipertensi ; perawatan dengan terapi CPAP berhubungan dengan penurunan risiko hipertensi.

OSA adalah kondisi yang lazim  yang diperkirakan diderita 17% penduduk dewasa AS , berhubungan dengan meningkatnya risiko penyakit-penyakit kardiovaskuler dan mortalitas secara umum. Walau perawatan OSA dengan terapi CPAP  berhubungan dengan penurunan risiko kardiovaskuler secara keseluruhan, efikasinya dalam mencegah hipertensi onset-baru masih belum diketahui.

Sejumlah cross-sectional studies menghubungkan OSA dengan hipertensi arterial, sebuah faktor  risiko utama bagi terjadinya gangguan kardiovaskuler fatal maupun nonfatal. Namun, hubungan antara OSA dan peningkatan insiden hipertensi belum diobservasi secara konsisten dalam studi-studi prospektif.  Masa tindak lanjut yang relative pendek (<5 tahun) dan termatasnya inklusi pasien dengan OSA berat menghambat dibuatnya kesimpulan-kesimpulan mengenai hubungan OSA dengan insiden hipertensi. Selain itu, kontribusi perubahan berat badan seiring waktu,  sebuah faktor  risiko hipertensi maupun OSA,  pada perkembangan hipertensi onset-baru belum diteliti pada para pasien OSA.

Peawtan OSA menghapuskan episode-episode hypoxia yang berulang yang berhubngan dengan tersendatnya pernapasan sepintas  dan menstabilkan fungsi kardiovaskuler. Studi-studi jangka-pendek menunjukkan bahwa penggunaan CPAP berhubungan dengan penuruna tekanan darah pada para pasien dengan hipertensi dan OSA. Apakah terapi CPAP mencegah atua mengurangi tingkat hipertensi onset-baru pada para pasien dengan OSA belum diteliti.  Kami menduga bahwa OSA adalah sebuah faktor  risiko independen  bagi terbentuknya hipertensi onset-baru dan terapi CPAP jangka-panjang mengurangi risiko  terlepas dari ada tidaknya perubahan berat badan seiring waktu.

 

Metode

Populasi Studi

Kami menggunakan data dari Zaragova Sleep Cohort Study, sebuah studi obsrevasi berbasis-klinis prospective  pada para pasien  yang mengalami gangguan bernapas saat tidur. Semua peserta dirujuk ke sleep cener oleh dokter  perawatan tingkat petama untuk dievaluasi dugaan gangguan pernapasan saat tidur berdasrakan pada keluhan seperti mendengkur, letih di siang hari, dan mengantuk di siang hari. Para peserta yang memenuhi syarat sesuai kriteria inklusi (tidak punya riwayat hipertensi, tidak ada perwatan hipertensi sebelumnya maupun saat ini tekanan darah sistolik < 140 mmHg, dan tekanan darah diastolic <190 mmHg) dan tidak satupun kriteria ekslusi  (riwayat penyakit cardiopulmonary, penyakit neurologis, ginjal, atau liver, diabetes, atau malignansi:  bedah paru atau saluran udara atas eselumnya; atau perawatan sebelumnya karena mendengkur atau OSA) dimasukkan.  Para pasien dengan apnea-hypopnea index (AHI) kurang dari 5 kejadian per jam tidur diposisikan sebagai kontrol  (pasien tanpa OSA), sedangkan pasien dengan AHI 5 atau lebih didiagnosis sebagai OSA. Stud itu disetujui oleh komite etik Instituto Aragones de Investigacion, Zaragoza, Spanyol, dan semua peserta  member persetujuan tertulis.

 

Data Klinis

Data demografi,  antropometrik, dan klinis diperoleh saat rekrutmen dengan menggunakan angket khusus dan ukuran standar oleh para peneliti. Mengantuk di siang hari diukur dengan menggunakan Epworth Sleepiness Scale. Tinggi dan berat badan diukur dan body mass index dikalkulasi dalam kilogram dibagi dengan tinggi dalam meter.

Para peneliti mereview studi-studi tidur baseline dan melakukan studi-studi titrasi CPAP pada semua peserta studi sebagai bagian dari kewajiban klinis mereka di sleep center; sehingga, mereka tidak  blinded dengan ada atau tidaknya OSA. Tekanan darah diukur oleh para perawat bersertifikat yang blinded dengan ada atua tidak adanya OSA menurut pedoman internasional. Tekanan arterial diukur 3 kali degnan sphygmomanometer ketika pasien pada posisi  duduk setelah istirahat 5 menit. Mean 2 hasil  direkam untuk penelitian. Hipertensi didefinisikan sebagai SBP saat istirahat paling tidak 140 m Hg, DBP saat istirahat paling tidak 90 mm Hg, atau mendapatkan perawatan dengan obat antihipertensi.

Merokok saat ini didefiniskan sebagai kebiasaan merokok berapa pun jumlah rokok, cerutu, atau pipa yang dihisap. Penggunaan alcohol didefinisikan sebagai konsumwi  minuman beralkohol  paling tidak 3 kali seminggu. Penyakit kardiovaskuler dianggap ada ketika ada catatan hospitalisasi  karena myocardial infraction, angina tidak tabil,  stroke,  bedah coronary bypass graft, atau coronary angioplasty. Diagnosis penyakit-penyakit kronis lain yang prvalen ditegakkan  menurut riwayat klinis dan penggunaan medikasi t tertentu.

Sampel darah puasa diambil untuk diukur serum lipid dan plasma glucose nya. Dyslipidemia dianggap ada ketika peserta meminum obat penurun-lemak saat rekrutmen atau memiliki tingkat serum total cholesterol atau triglyceride  lebih dari kisaran normal.  Keberadaan diabetes ditentukan berdasarkan riwayat  diagnosis dokter tentang diabetes, penggunaan obat antideabetes, atau meingkatnya level plasma glucose (126 mg/dL;  untuk diubah menjadi milimoles per liter, dikalikan 0,055).

 

Studi Tidur

Sleep-stage scoring dilakukan oleh para teknisi terlatih menurut kriteria standar. Apnea didefinisikan sebagai terputusnya  aliran udara selama leibh dari 10 detik, dan hypopnea didefiniskan sebagai penurunan aliran udara atau thoracoabdominal excursion yang berlangsung paling tidak 10 detik, disertai dengan paling tidak 4%  penurunan saturasi oksigen.  AHI didefinisikan sebagai total jumlah apnea dan hypopnea per jam tidur. AHI paling tidak 5 kejadian  per jam tidur ditegakkan sebagai diagnosis OSA (OSA ringan: AHI = 5,0 – 14,9; OSA sedang : AHI = 15,0 – 29,9; OSA berat: AHI  30,0). Pasien dengan OSA yang memenuhi syarat untuk mendapatkan terapi CPAP menjalani titrasi CPAP nocturnal .

 

Perawatan OSA

Perawatan OSA mengikuti the Spanish National Guideliens for the management of OSA (EMethods). Nasal CPAP therapy  direkomendasikan untuk semua pasien dengan AHI paling tidak 30 kejadian per jam dan untuk pasien dengan AHI 5,0 – 29,9 kejadian per jam dan disertai mengantuk di siang hari yang mempengaruhi aktivitas sehari-hari (eTable 1). Pasien yang dirawat dngan terapi CPAP di follow up di klinik 3 dan 6 bulan setelah perawatan. Pada tiap kunjungan klinis,  kepatuhan pada terapi CPAP diukur menggnakan built-in timer. Diperlukan rata-rata penggunaan harian lebih dari 4 jam per hari  untuk mempertahankan peskripsi CPAP. Bila setelah peride penguatan 3 bulan tambahan si pasien masih menggunakan CPAP kurang dari 4 jam per malam, terapi CPAP dihapus  dan dilakukan perawatan altenatif (bedah,  perlengkapan oral, atau langkah-langkah konservatif lain).  Diantara 922 pasien yang menjalani perawatan, 98 (10,6%) mundur dari terapi CPAP dan dianggap tidak patuh (nonadherent). Karakteristik dasar  subkelompok ini sama dengan karakteristik kelompok yang  mengikuti CPAP (eTable 1). Prosedur bedah yang dilakukan pda pasien yang tidak mematuhi CPAP (nonadherent) dan pda mereka yang  menolak CPAP ditunjukkan die Table 2.

Follow-up

Psien ditindaklanjuti setiap tahun di sleep center. Data anthropometric dan data klinis dikumpulkan pada tiap kunjungan. Tekanan darah diukur dan insiden hipertensi didiagnoses bila (1) pasien melaporkan diagnosis hipertensi  baru oleh dokter  dan peawatan antihipertensi sudah dimulai sejak kunjungan terakhir, atau (2) mean SBP paling tidak 140 m Hg atau mean DBP paling tidak 90 mm Hg dijumpai pada 2 kunjungan tindak lanjut atau lebih yang dipisahkan paling tidak 2 minggu. Daftar medikasi  lengkap  dikumpulkan pada tiap kunjungan tahnan dari informasi yang disediakan leh Department of Pharmacy of Health Services di Aragon dan kepatuhan medikasi dengan medikasi antihipertensi dan penurunan lemak dievlauasi.

Analisis Statistik

Pasien dengan OSA dibagi menjadi 4 kelompok berdasarkan pada status perawatan CPAP: (1) tidak memenuhi syarat untuk terapi CPAP menurut pedoman nasional; (2) memenuhi syarat untuk terapi CPAP tetapi menolak, (3) mulai terapi CPAP tetapi tidak patuh, dan (4) dirawat dengan terapi CPAP. Terlepas dari terapi CPAP,  pasien yang tidak mengalami inseiden hipertensi disensor  pada waktu meninggal, waktu follow-up terakhir, atau pada 1 Januari 2011, yang mana pun yang muncul duluan. Selain itu, pasien yang semul amenolak terapi CPAP tetapi menerimanya di kemudian hari disensor pada saat ketika terapi CPAP dimulai.

Tingkat insidensi  hipertensi onest-baru dikalkulasi sebagai jumlah pasien dengan insiden hipertensi dibagi dengan total jumlah pasien-tahun yang diobsrevasi dan dinyatakan sebagai jumlah kejadian per 100 pasien-tahun. Insidensi kumulatif hipertensi onset-baru untuk tiap kelompok diestimasi menggunakan metode Kaplan-Meier dan dibandingkan dengan log-rank test, dengan Bonferroni adjustment untuk berbagai perbandingan . untuk menguji apakah angka insidensi hipertensi onset-baru meningkat dengan beratnya OSA (yang diukur dengan AHI), peserta dengan OSA dibandingkan dengan pasien dengan OSA yang tidak dirawat, termasuk mereka yang memeuhi syarat untuk terapi CPAP, mereka yang memenuhi syarat terapi CPAP tetapi menolak, dan mereka yang mulai terapi CPAP tetapi tidak patuh. Analisis dilakkan menggunakan fungsi ketahanan hidup Kaplan-Meier  terhdap aktu  hipertensi onset-baru pada masing-masing dari kategori beratnya OSA sebagai  berikut: (1) tanpa OSA (AHI < 5,0), (2) OSA ringan (AHI 5,0 – 14,9), (3) OSA sedang (AHI, 15,0 – 29,9), dan (4) OSA berat   30,0).

Regression hazard proportional survival models digunakan untuk mengkalkulasi hazard ratio (HRs) dan 95%  CI untuk risiko insiden hiptensi, yang menggunakan peserta studi dngan AHI kurang dari 5 kejadian per jam sebagai kelompok kontrol rujukan. Faktor  pengacau dimasukkan dalam odel-model  progresif. Model 1 (model mentah) mencakup  beratnya OSA (AHI) dan faktor -faktor risiko yang tidak bisa dimodifikasi, seperti jenis kelamin dan usia.  Model 2 melakukan penyesuaian (adjustment)  untuk SBP dan DBP baseline. Model 3 melakukan penyesuaian (adjustment)  untuk BMI baseline, dan model 4 juga melakukan adjustment untuk faktor -faktor risiko lain yang bisa dimodifikasi (Penggunaan alcohol, status merokok, hyperlipidemia, obat penurun lemak glukosa, triglycerides, total  kolesterol lipoprotein kepadatan-tinggi  ) dan status menopaus. Model 5 mencakup perubahan BMI dari baseline hingga kunjungan follow-up terakhir sebgai covariate terikat-waktu. Pada emua model itu,  imputasi digunakan untuk memasukan para peserta yang hilang ke follow-up. Asumsi-asumsi regresi Cox proportional hazards diuji menggunakan residu Schoenfeld   dan menghasilkan temuan-temuan  yang tidak signifikan pada semua analisis. Kami melakukan tes itneraksi antar ahubungan terapi CPAP dengan insidensi hipetensi  dan beratnya OSA serta hubngan antara terapi CPAP dengan insidensi hipertensi  dan peruahan BMI selama  periode follow-up penelitian.

Berdasarkanpada angka insidensi hipertensi onset-baru pada para peserta tanpa OSA, ukuran sampel memberkan 80% kekuatan untuk mendeteksi HR anara 1,41 dan 1,84 bila membandingkan  4 kelmpopk pasien OSA dengan peesrta tanpa OSA. Kekuatannya dikalkulasi berdasarkan 2-sided log-rank test dengan tingkat signifikansi  ,0125 agar sesuai untuk berbagai perbandingan mengunakan riteria Bonferroni. Semua analisis statistic dilakukan menggunakan R versi 2.10 (Institute for statistics and mathematics).

Hasil

Karakteristik Dasar

Antra 1 Januari 1994 dan 31 Desembre 2000, 5382 peserta dirujuk ke sleep center. Karakteristik dasar para pasien tanpa hipretensi yang dimaskkan dan dikeluarkan dari  analisis ditunjukkan di eTabel 3.  Total 189 peserta  tanpa hipetens dimasukkan dalam analis akhir (Gambar 1). Diantara 1579 pasien dengan OSA, 462 tidak memenuhi syarat  utuk terapi CPAP menurut pedoman perawatan nasional, 195 memenuhi syarat tapi menolak terapi CPAP, 98 memenuhi syarat dan memulai terapi CPAP teapi tdak path, dan 824 patuh pada terapi CPAP. Alasan menolak terapi CPAP adalah rasa tidaknyaman (n=79), masalah psikologis atau social (n=63), dan alasan yang tidak spesifik (n=50). Todal 117 pasien dengan OSA menjalani prosedur bedah selama follow-up (eTabel 2). Peserta studi yang tidak mengalami OSA berperan sebagai kontrol (n=310).

Tabel 1 menunjkkan karakteristik dasar peerta studi. Pasien dengan AHI lebih tinggi cenderung memiliki BMI, SBP, DBP, tingkat plasma glucose, dan total kolesterol yang lebih tiggi (semua P utuk trend < .05). Pada para pasien yang menolak terapi CPAP (n=195), 139 mengalami OSA berat, 45 OSA sedang, dan 11 OSA ringan (eTaAbel 1). Konsumsi alcohol, riwayat merokok, dan kepatuhan dengan terapi farmakologi selama peirode follow-up sama pada para psien dengan OSA ringan atau sedang yang tidak memenuhi  syarat terapi CPAP dan pada mereka yang menolak  terapi CPAP (eTabel 4).

Unadjusted Incidence of Hypertension

Mean (SD) follow-up studi adalah 11,3 (4,2) tahun (median, 12,2 tahun). selama 21 003 orag-tahun follow-up, 705 pasien (37,3%) mengalami  insiden hipertensi . dari 705 peserta studi yang mengalami hipertensi, 656 (93%) didiagnosis  oleh dokter pertama mereka dan mendapatkan obat antihipertensi sat kunjunganfollow-up. Sisanya 49 peesrta didiagnosis di sleep center. Analisis sensitivitas yang membedakan 2 subkelompok (angka insidensi hipetensi onset-baru berdasarkan pada diagnosis dokter pertama  versus tekanan darah yang diukur di sleep cener) menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifkan  pada tigkat insiden hipertensi (P=.21). Karakteristik peesrta yang tetap normotensif da mereka yang mengalami hipertensi ditunjukkan di eTabel 5.

Dibandingkan dengan keolmpok konrol (angka insidensi mentah, 2,19; 95% CI, 1,71-2,67), unadjusted insidensi hiprtensi onset-baru (per 100 orang-tahun) lebih besar pada para pasien dengan OSA yang tidak memenuhi syarat  ntuk terapi CPAP (3,34; 95% CI, 2,85 – 3,82; P<.001), pada mereka  yang menolak terapi CPAP (5,84;95 CI, 4,82=6,86; P<.001), pada mereka yang tidak pauth pada terapi CPAP (5,12; 95% CI,  2,70-3,41; P=.003) (Tabel 2). Setelah stratifikasi bredasarkan kategori  berat-ringannya OSA (yang diukur dengan AHI), insidensi hipertensi adalah sama pada masing-masing  kategori berat-ringannya  OSA pada para pasien yang tidak memenuhi  syarat terapi CPAP (P=.67 untuk OSA ringan, P=.68 untuk OSA sedang, da P=.43 untuk oSA berat (Tabel 3). Insidensi hipertensi onset-baru lebih rendah pada para pasien dengan OSA berat  yang dirawat dengan terapi CPAP dibandingkan dengan par apasien dengan OSA berat yang tidak dirawat, sedangkan pasien dengan OSA yang dirawat dan yang tidak dirawat memiliki insidensi hipertensi yang sama. Gambar 2 menunjukkan fungsi kelangsungan hidup Kaplan-Meier  untuk hipertensi onset-baru  pada para kontrol dan para pasien dengan OSA yang tidak dirawat. Insidensi  hipertensi meningkat seiring dengan beratnya OSA (log-rank P<.001).

Adjusted Hypertension  Risk

Dengan menggunakan Cox proportional haxards regression survival models,  penyesuaian untuk sejumlah penggganggu  dialkukan dengan cara sesuai dengan 5 model prediksi  yang berbeda (Tabel 4). Sembilan belas peserta yang hilang saat follow-up diaasi dengan multiple imputation; analisis sensitivitas  yang mengeluaarkan par apeerta  ini memberikan hasil yang sama (eTabel 6). Dibandingkan dengan kntrol, rendahnya risiko hipertensi onset-baru leibh besar pada kelompok  pasien dengan OSA yang tidak dirawat (tidak memenuhi syarat untukt erapi CPAP, yang menolak terapi CPAP, dan yang tidakpatuh pada terapi CPAP) pd amodel 1 (sudah ada penyesuaian untuk AHI, usia, dan jenis kelamin), model 2 (yang melakukan penyesuaian lebih lanjt untuk SBP dan dBP dasar), dan model 3 (penyesuaian lebih lanjut untuk BMI dasar) (Tael 4). Sebaliknya, pasien dengan OSA yang dirwat dengan erapi CPAP memiliki risiko hiprtensi onset-baru sama dengan kelompok kontrol setelah dilakukan pengaturan AHI, usia, jenis kelamin, SBP dan DBP dasar, dan BMI (odel 1-3).  Pengaturan lebih lanjut  pada covariate baseline tidak secara signifikan mengubah hasil-haslnya.

Pada seluruh cohort, mean BMI meningkat secara signifikan selama follow-up pada pasien yang mengalami insiden hipertensi (dari 30,5 [95% CI, 30,1 – 30,9] menjadi 31,6 [95% CI, 31,2 – 32,0); P<.001) tetapi tidak pada para pasien yang tetap normotensif (eTabel 5). Angka insiden hipertensi lebih besar pada subkelompok yang mengalami penambahan berat badan (eTabel 7 dan eFigure). Setelah memasukkan perubahan BMI sebagai covariate pada model yang sudah disesuaikan sepenuhnya (model 5), HR untuk insiden hipertensi tetap elbih besar pada pasien dengan OSA yang tidak memenuhi syarat terapi CPAP (1,33; 95% CI, 1,01 – 1,75), pasien dengan OSA yang menolak terapi CPAP (1,96; 95% CI, 1,44 – 2,66), dan pad apasien dengan OSA yang tidak patuh pada terapi CPAP (1,78; 95% CI, 1,23-2,58) dibandingkan dengan kelompok kontrol tanpa OSA (Tabel 4). Pada pasien dengan terapi CPAP, risiko hiopertensi onset-baru lebih rendah daripada kontrol dalam model yang sudah disesusikan sepenuhna (HR, 0,71; 95% CI, 0,53-0,94) (Tabel 4).

Tes interaksi dilakukan untuk mengukur apakah hubungan terapi CPAP dengan risiko lebih rendah pada insiden ipertensi dipengaruhi oleh beratnya OSA.  Tidak ada interaksi yang signifikan yang dijumpai pada ke 5 Cox proportional hazards regression survival models (P=.26, .21, .13, .11, dan .07) masing-masing untuk model 1 sampai 5). Tes interaksi antara hubungan terapi CPAP dengan risiko insidensi hipertensi  dan perubahan BMI yang lebih rendah eslama follow-up studi menunjukan tidak adanya interaks yang  signifikan pada model 5 (P=.06). tidak ada hubungan antara skor Epworth Sleepiness Scale  dan insiden hipertensi baik untuk pasien yang tidak memenhi syarat terapi CPAP maupun mereka yang menolak terapi CPAP (eTabel 8). Anlaisis sensitivitas yang mengesampingkan (ekslusi) 2 tahun petama follow-up menunjukkan hasil yang sama.

 

Komentar

Temuan-temuan kami menunjukkan bahwa OSA yang tidak dirawat berhubungan dengan meningkatnya risiko mengalami hipertensi onset-baru dan bahwa terapi CPAP jangka-panjang berhubungan dengan penurunan risiko itu. Setelah memperhitungkan perubahan berat badan  yang terjadi pada para peesrta tanpa OSA maupun pasien dengan OSA yang dirawat maupun yang tidak dirawat, penambahan berat badan selama sepuluh tahun  tidak menghilangkan hubungan terapi CPAP terhadap  terjadinya hipertensi onset-baru pada OSA. Temuan-temuan observasi kiami menunjukkan bahwa OSA merupakan faktor  risiko yang bisa dimodifikasi  bagi hipertensi onset-baru. Temuan itu secara klinis relevan karena OSA, meski sangat lazim di Negara barat, tetap tidak disadari dan belum banyak dirawat.

Dua studi sebelumnya yang mengevaluasi hubungan antara OSA dan risiko insiden hipertensi  melaporka nhasil-hasil yang berbeda. Wisconsin Sleep Cohort Study menunjukkan bahwa risiko insiden hipertensi berkorelasi dengan breatnya OSA pada pasien paruh baya. Esbaliknya, Sleep Heart health Study tidak menunjukkan adanya hubungan antara OSA dan risiko insiden hipertensi pada individu lanjut usia berbasis-komunitas, termasuk mereka yang mengalami OSA berat. Namun, mayoritas peserta   pada kedua studi itu mengalami OSA ringan, dengan kurang dari 13% pasien mengalami OSA sedang sampai berat.  Individu yang relative sehat dengan OSA ringan mungkin berisiko rendah mengalami komplikasi kardiovaskuler selama 10 tahun. Periode follow-up yang relative pendek  pada cohort OSA yang terutama terdiri dari pa  apasien dengan OSA ringan bisa menjelaskan perbedaan temuan itu. Selain itu, perubahan berat badan seirig waktu, yang merupakan pengacau insiden hipertensi, tidak diprtimbangkan pada studi-studi prospektif tu. Studi kami mencoba engatasi permasalahan ini dengan melakukan follow-up cohort dalam jumlah besar  dengan OSA sedang sampai    berat selama lebih dari satu decade, dan dengan mempertimbangkan efek peningkatan brat badan kumulatif dan faktor -faktor pengacau lain bagi terjadinya hipertensi.

Temuan-temuan kami mendukung laporan –labporan sebelmnya yang menunjukkan adanya hubungan indepnden antara OSA dan peningkatan morbiditas kardiovaskuler. Hubungan antara OSA yang tidak dirawat dan peningkatan risiko mengalami hipertensi onset-baru  tetap ada  meskipun setelah dilakukan  penyesuaian  variable-variabel pengacaunya, termasuk BMI baseline dan pubahan BMI seiring waktu. Temuan-temuan ini sesuai dengan laporan-laporan yang mendukung OSA sebagai kontributor yang dominan bagi terjadinya disfungsi vaskuler pada obesitas. Mengingat tingginya prevalensi OSA yang tidak terduga  pada para pasien obesitas,  risiko vaskuler yang banyak dikaitkan dengan obesits bisa jadi berhubungan dengan OSA. Risiko yang lebih rendah pada hipertensi onset-baru yang berhubungan dengan terapi OSA yang efektif menguatkan alasan untuk melakukan screening dan terapi  segera pada OSA, pada para pasien yang brat badannya kelebihan dan kegemukan.

Keterbatasan studi kami adalah karena bentuknya observasi. Pasien dengan OSA yang bersedia untuk mematuhi terapi CPAP mungkin lebih sadar kesehatan dan seingga lebih patuh pada modalitas perawatan lain dan cenderung lebih sejahtera. Walau literature menunjukkan bahwa kepatuhan  yang baik pada terapi farmakologi, termasuk placebo,  mengutungkan kelangsungan hidup, rendahnya kepatuhan pada obat yang diresepkan  tidak bisa menjelaskan lebih banyaknya mortalitas pada pasien dengan hipertensi.  Selain itu, kepatuhan dengan terapi farmakologi tidak selalu berhubungan dengan kepatuhan pada penggunaan alat medis seperti CPAP. Dalam penelitian kami kepatuhan pada obat antihipertensi dan penurun lemak sama pada pasien yang patuh pada terapi CPAP dan mereka yang tidak.  Selain itu, perilaku terkait-kesehatan seperti konsumsi alcohol dan merokok sama pada pasien dengan OSA yang tidak  dirawat dengan terapi CPAP karena tidak memenuhi syarat  dan pada mereka yang menolak perawatan. Temuan studi observasi kami menunjukkan bahwa beratnya OSA merupakan faktor  penting terjadinya hipertensi pada OSA yang ttidak dirawat  terlepas dari mengapa tidak ada  terapi CPAP. Namun, bias yang behubungan dengan penempatan kelompok yang berdasarkan pada kepatuhan pada terapi, yang melekat pada desain studi observasional,  menghambat kesimpulan sebab-akibat mengenai efek terapi CPAP pada risiko hipertensi pada OSA.

Terapi dengan CPAP telah menjadi stndar perawatan untuik OSA sedang sampai   berat, sehingga randomisasi jangka-panjang pada pasien dengan OSA dalam mendapatkan terapi CPAP vs tanpa terapi CPAP mungkin tidak layak lagi. Walau terapi CPAP  tidak dialokasikan secara acak pada pasien-pasien kami,  rendahnya risiko hipertensi dengan tegas menunjukkan bahwa OSA bisa jadi merupakan faktor  risiko independen yang bisa dimoditikasi bagi terjadiya hipertensi onset-baru. Korelasi yang diamati antara beratnya OSA dan besranya risiko hipertensi lebih lanjut mendukung OSA sebagai kontributor utama bagi risiko kardiovaskuler. Kesimpulannya, dibandingkan dengan peserta tanpa OSA, OSA yang tidak dirawat berhubugnan dengan meningkatnya risiko hipertensi onest-baru, sedangkan perawatan dengan terapi  CPAP berhubngan dengan lebih rendahnya risiko hipertensi onset-baru.

 

Leave a Reply