ACHALASIA

Pendahuluan:

Achalasia (istilah darii bahasa Yunani yang berarti “tidak rileks” adalah sebuah penyakit yang penyebabnya tidak diketahui dimana banyak terjadi kehilangan peristalsis pada distal esophagus (yang musculature nya sebagian besar terdiri dari otot-otot yang lembut) dan kegagalan relaksasi LES. Walau kedua abnormalitas ini mengganggu pengosongan esophageal, symptom-simptom dan tanda-tanda achalasia terutama disebabkan oleh adanya cacat pada relaksasi LES.   Kerasnya kontraksi LES pada achalasia telah menyebabkan obstruksi fungsional pada esophagus yang berlangsung hingga tekanan hydrostatic bahan yang tertahan melebihi tekanan yang dihasilkan oleh otot sphincter.

Berbagai manifestasi dan diagnosis achalasia akan direview disini. Perawatan bagi gangguan ini dibahas secara terpisah. Topik ini juga dibahas dalam pedoman resmi yang diterbitkan oleh the American Gastroenterological Association.

 

Manifestasi Klinis

Achalasia adalah gangguan yang tidak lazim yang biasanya terjadi dengan insidensi sekitar 1 kasus per 100. 000 orang. Pria dan wanita memiliki kemungkinan terkena yang sama. Penyakit ini bisa terjadi pada semua umur, tapi onset sebelum dewasa tentu saja tidak lazim. Achalasia biasanya didiagnosis pada para pasien yang berusia diantara 25 sampai 60 tahun.

Dysphagia untuk padatan (91 persen) dan cairan (85%) adalah fitur klinis yang utama pada achalasia (tunjukkan Gambar 1). Walau dysphagia untuk cairan dapat terjadi pada para pasien dengan gangguan-gangguan motilitas esophageal lain (contoh, sclerosis sistemik progresif), symptom ini  merupakan karakteristik achalasia dan memang menunjukkan diagnosis itu).

Kesulitan bersendawa dialami oleh sekitar 85 persen pasien, walau ada juga yang menunjukkan gejala ini secara spontan (tanpa ada rangsanan dari dokter). Kesulitan bersendawa ini disebabkan oleh cacat pada relaksasi sophageal sphincer bagian atas yang biasanya terjadi ketika esophagus didorong oleh gas.

Kehilangan berat badan, muntah, nyeri dada, dan ulu hati seperti terbakar, terjadi pada sekitar 40 sampai 60 persen pasien (tampilkan Gambar 1):

  • Berat badan biasanya berkurang 5 sampai 10 kg, walau bisa juga lebih.
  • Muntahan yang tertahan di flaccid esophagus dapat menyusahkan, terutama selama saat berbaring telentang di malam hari.
  • Nyeri dada biasanya merupakan symptom achalasia. Adanya nyeri tidak bias diprediksi dari temuan-temuan manometer maupun radiografi dan tidak selalu membaik setelah pembesaran pneumatic. Nyeri dada lebih umum dijumpai pada para pasien yang lebih muda, dan cenderung berkurang setelah beberapa tahun.
  • Rasa dada seperti terbakar, yang adalah simptom gastroesophageal reflux disease (GERD), terjadi lebih sering pada achalasia. Para pasien dengan symptom ini seringkali memiliki tekanan LES yang lebih rendah daripada mereka yang tidak mengalami dada seperti terbakar; selain itu, dada seperti terbakar mungkin menghilang dengan onset sysphagia, yang menunjukkan bahwa achalasia telah berkembang pada pasien yang dilandasi adanya GERD. Dada seperti terbakar juga bisa disebabkan oleh iritasi lini esophagus secara langsung  oleh darah, pil, atau produksi lactate oleh fermentasi bakteri pada karbohidrat yang tertahan.
  • Pasien yang terkena gangguan ini mungkin makan lebih lambat dan menggunakan manufer-manufer tertentu seperti mengangkat lehar  atau melemparkan punggung ke belakang untuk memacu pengosongan esophagus.
  • Rasa tenggorokan tersumbat telah dilaporkan sebagai symptom yang juga muncul.
  • Tersedak adalah umum terjadi dan mungkin disebabkan  oleh obstruksi atau sumbatan pada distal esophagus.
  • Hubungan antara kekurangan adrenal glucocorticoid dengan achalasia  (sindroma 3A atau sindroma Allgrove) telah ditemukan pada anak-anak dengan achalasia. Bisa jadi bahwa varian sindroma ini dijumpai pada orang dewasa karena dalam sebuah laporan, 4 dari 20 pasien (20 persen) pasien dewasa  dengan achalasia terbukti mengalami kekurangan produksi air mata.

Para pasien dengan achalasia juga memiliki risiko yang lebih tinggi terkena kanker esophagus. Sebuah penelitian berbasis-populasi di Swedia menemukan bahwa risiko kanker esophagus sangat tinggi pada tahun pertama setelah diagnosis achalasia (karena tumor yang menyebabkan obstruksi distal dan merangsang achalasia); dalam jangka panjang, risiko itu meningkat 16 kali lipat dibandingkan dengan populasi kontrol. Kanker didiagnoses rata-rata 14 tahun setelah diagnosis achalasia. Diperkirakan bahwa dulu endoskopi survelilan tahunan setelah tahun pertama dilakukan pada 406 pria dan 2200 wanita dan hanya menemukan satu  kanker. Peningkatan risiko yang sama telah dikemukakan dalam sebuah laporan dari Amerika, tapi ada juga yang tidak menunjukkan peningkatan risiko, terutama dengan perawatan awal achalasia. Kami menduga risikonya tidak terlalu tinggi sehingga tidak perlu dilakukan surveilan endoskopi secara reguler.

 

Diagnosis

Simptom-simptom achalasia seringkali tersembunyi saat onset maupun perkembangannya. Sebagai akibatnya, para pasien biasanya sudah mengalami symptom selama bertahun-athun sebelum akhirnya mencari pengobatan. Dalam satu penelitian, 87 pasien dengan achalasia yang baru saja terdiagnosis, durasi symptom rata-rata adalah 4,7 tahun. Kalambatan diagnosis ini disebabkan oleh kesalahan interpretasi temuan-temuan oleh dokter dan bukan karena manifestasi klinisnya yang tidak tipikal. Banyak pasien yang dirawat dengan keliru karena diduga menderita penyakit lain seperti gastroesophageal reflux sebelum diagnosis achalasia ditemukan.

Para pasien yang memiliki riwayat klinis yang mengarah ke achalasia memerlukan evaluasi radiografi, manometer, dan endoskopi untuk memastikan diagnosisnya. Diagnosisnya seringkali ditunjukkan dengan radiograf dada yang datar/polos yang menunjukkan pelebaran mediastinum  karena adanya pembesaran esophagus, dan tidak adanya gelembung udara lambung yagn normal yang disebabkan oleh kegagalan relaksasi LES yang mencegah air agar tidak masuk ke perut (tunjukkan radiograf  1).

 

Studi-Studi Radiograf

Menelan barium adalah tes screening utama ketika dicurigai ada achalasia. Akurasi diagnosis achalasia dengan menelan barium sekitar 95 persen. Dengan menelan barium biasanya dapat diketahui pembesaran esophagus yang berhenti pada penyempitan yang menyerupai paruh yang disebabkan oleh kontraksi lower esophageal sphincter (tunjukkan radiograf  2). Di sejumlah kasus, , pembesarannya sedemikian menonjol sehinga esophagus menyerupai bentuk sigmoid.

Fluoroscopy menunjukkan tidak adanya peristalsis pada bagian otot halus pada esophagus. Di sejumlah pasien, kontraksi kejang dijumpai pada badan esophagus (tunjukkan radiograf 3). Sejumlah radiolog menyebut kondisi yang disebut terakhir tersebut sebagai ‘vigorous achalasia” (achalasia yang kuat).

 

Manometry

Walau temuan-temuan klinis dan radiografis mungkin bisa menunjukkan diagnosis achalasia, pemeriksaan manometrik diperlukan untuk mengkonfirmasi. Ada tiga karakteristik fitur manometrik untuk memastikan achalasia, walau ada juga varian lain (tampilkan Gambar 2).

  • Peningkatan tekanan LES saat istirahat. Pada LES, kehilangan neuron penghambat biasanya menyebabkan tekanan meningkat ke tingkat hipertensi (diatas 45 mmHg).
  • Relaksasi LES yang tidak sempurna. Biasanya ada relaksasi LES yang sempurna setelah menelan; sebaliknya disini relaksasi LES setelah menelan  mungkin tidak sempurna atau bahkan tidak terjadi sama sekali pada achalasia. Temuan manometric ini dapat membedakan achalasia dari penyakit-penyakit lain yang berhubungan denagn aperistalsis.
  • Aperistalsis; Aperistalsis dijumpai di bagian otot halus pada badanesophagus. Menulan mungkin tidak mengakibatkan kontraksi esophagus atau mungkin diikuti oleh kontraksi-kontraksi yang simultan. Esophagus mungkin juga berkontraksi secara spontan dan spontan. Bagi sebagian besar pasien, seperti apapun kontraksi esophagusnya, biasanya tidak terlalu tinggi; di sejumlah kasus, namun, kontraksi-kontraksi esophagus simultan lebih tinggi (contoh, >60 mmHg). Pasien-pasien sepeti itu disebut mengalami “vigorous achalasia”

Pentingnya  penampakan vigorous achalasia dengan radiografi atau manometri masih controversial. Semula diduga bahwa nyeri dada  mungkin lebih menonjol pada para pasien dengan vigorous achalasia; namun, ternyata tidak ada satupun laporan yang secara klinis dapat dibedakan antara vigorous achalasia dengan classic achalasia.

Penelitian-penelitian lain telah menunjukkan bahwa vigorous achalasia dapat muncul seperti bentuk awal achalasia dimana sel-sel intramural ganglion masih umum, dan bahwa para pasien dengan vigorous achalasia mungkin menunjukkan respon yang lebih baik terhadap terapi dengan injeksi botulinum toxin  dibanding mereka yang mengalami classic achalasia. Pengamatan-pengamatan ini perlu dikonfirmasi. Pada saat ini, perbedaan antara vigorous achalasia dan classic achalasia secara klinis tidak terlalu penting.

Abnormalitas manometrik lain yang dijumpai pada achalasia adalah bahwa tekanan saat istirahat pada badan esophagus sedikit lebih tinggi daripada di perut.

 

Endoskopi

Penilaian endoskopi pada umumnya direkomendasikan untuk sebagian besar pasien dengan achalasia terutama untuk mengeluarkan / mengesampingkan keganasan pada simpangan esopphagogastric yang bisa menyerupai achalasia primer secara klinis, secara radiografis, maupun secara manometris (yang juga disebut “pseudoachalasia” atau achalasia semu). Endoskopi pada achalasia biasanya menunjukkan pembesaran esophagus yang seringkali mengandung bahan-bahan sisa. Mukosa esophagus biasanya tampak normal, walau pembengkakan dan pemborokan /ulserasi  mungkin disebabkan oleh iritasi yang disebabkan oleh tertahannya makanan atau pil. Selain itu, esophageal stasis menjadi pencetus infeksi candida yang mungkin tampak seperti plak keputihan pada permukaan mukosa.

LES tidak membuka secara spontan agar saluran ke perut dapat leluasa, tapi, tidak seperti sumbatan yang disebabkan oleh neoplasma atau penyempitan fibrotic, kontraksi LES pada achalasia biasanya bisa dilewati  dengan mudah dengan sedikit tekanan pada endoscope. Simpangan esophagogastric harus diperiksa secara seksama untuk menemukan bukti neoplasma dan pemeriksaan gastric cardia dan fudus adalah penting karena gastric adenocarcinoma adalah neoplasma yang paling lazim terkait dengan pseudoachalasia (achalasia semu).

 

Analisis Pembeda (Differential Diagnosis)

Malignansi dan berbagai penyakit non-ganas dapat menyebabkan psudoachalasia (tunjukkan table 1). Ini biasanya tidak terlalu lazim dibandingkan dengan diophatic achalasia, kecuali untuk penyakit Chagas pada wilayah endemic di Amerika Tengah dan Selatan. Ciri-ciri berikut ini meningkatkan kemungkinan bahwa pasien mengalami psudoachalasia karena malignansi:

  • Penampakan setelah usia 60 tahun
  • Berat badan berkurang sangat banyak karena lamanya symptom
  • Saluran endoskop yang sulit melalui simpangan gastroesophageal

Manometri esophagus konvensional tidak membedakan antara achalasia dengan peudoachalasia. Namun, CT scan mungkin menunjukkan malignansi bila ada penebalan dinding esophagus yang asimetris atau sangat mencolok (lebih dari 10 mm). Endoskopi dengan biopsy tidak selalu bias digunakan untuk mendiagnose karena tumor seringkali dapat bersifat infiltratif (menembus) dan tidak sampai melewati mukosa ke lumen. Maka, evaluasi dan biopsy berulang-ulang  dianjurkan ketika dicurigai adanya malignansi.

High-resolution endoluminal eltrosonography (HRES) mungkin menunjukkan pelebaran lapisan otot halus lingkaran maupun memanjang pada LES tapi temuan ini tidak cukup spesifik untuk membedakan pasien yang mengalami achalasia dengan kelompok kontrol. HRES berguna untuk menandai tumor pada distal esophagus dan cardia, tapi perannya untuk membedakan achalasia dengan pseudoachasia belum jelas.

 

Pendahuluan

Achalasia adalah gangguan menelan yang disebabkan oleh dua masalah di esophagus (tube yang membawa makanan dari mulut ke perut). Yang pertama adalah bahwa dua pertia esophagus bagian bawah tidak mendorong makanan ke perut dengan benar. Permasalahan yang kedua ada di lower esophageal sphincter (LES), sebuah lingkaran otot yang berada di simpangan esophagus dan perut yang membantu mencegah makanan agar tidak keluar dari perut ke esophagus.   Biasanya, LES rileks sebagai respon terhadap menelan, sehingga makanan bisa masuk ke perut. Pada pasien dengan achalasia, LES tidak bisa rileks, sehinga menjadi penghambat bagi makanan dan cairan untuk masuk ke perut.

Achalasia diderita oleh sekitar 1 dari setiap 10. 000  sampai 100. 000 orang, dan sebagian besar didiagnose pada usia 25 sampai 60 tahun. Ini adalah penyakit kronis yang awalnya memburuk seiring waktu dan tidak bisa pergi dengan sendirinya.

Berbagai perawatan telah tersedia. Tiap perawatan memiliki kelebihan dan kekurangan, dan kita harus selektif dalam menggunakannya. Kita harus tahu informasi tentang kondisi si pasien dan membahas berbagai pilihan perawatan denagn dokter sebelum mengambil keputusan.

Penyebab Achalasia

Penyebab khas achalasia tidak diketahui. Biasanya LES berkontraksi dan rileks sebagai respon terhadap sinyal dari dua kelompok sel syaraf yang ada di dinding esophagus. Pada pasien dengan achalasia, reaksi pembengkakan mengarah ke sel-sel syaraf di esophagus, terutama yang memberi sinyal LES untuk rileks. Reaksi ini menyebabkan sel-sel ini hilang secara berangsur. Akibatnya adalah bahwa LES tidak bisa rileks sehingga menciptakan sumbatan bagi bahan yang ditelan dan tidak bisa masuk ke perut. Lebih buruk lagi, sel-sel syaraf di duapertiga bagian bawah esophagus juga rusak. Sel-sel ini dikirim untuk membuat esophagus berkontraksi dan mendorong makanan ke perut, sebuah proses yang dikenal sebagai peristalsis. Maka, orang dengan achalasia seringkali mengakumulasikan sejumlah besar makanan dan saliva di esophagus. Makanan hanya bisa masuk ke perut ketika ada cukup tekanan di esophagus.

 

Gejala Achalasia

Achalasia biasanya pertama kali terjadi pada usia paruh baya, walau ada juga kasus bawaan. Simptom-sipmtomnya memiliki onset yang lambat dan berkembang secara bertahap. Akibatnya banyak orang terlambat mencari bantuan medis sebelum simptomnya menjadi sudah lanjut. Symptom  utama adalah kesulitan menelan: sekitar 90 persen orang yang terkena achalasia sulit menelan dan 85 persen sulit menelan cairan. Symptom-simptom lainnya diantaranya adalah nyeri dada, muntah makanan dan minuman yang ditelan, dada seperti terbakar, sulit bersendawa, rasa penuh atau ada benjolan di kerongkongan, tersedak, dan penurunan berat badan.

 

Diagnosis Achalasia

Achalasia biasanya dicurigai dengan berdasarkan pada adanya gejala-gejala yang dideskripsikan diatas, tapi pengujian spesitik perlu dilakukan untuk memastikan diagnosisnya dan mengesampingkan berbagai kondisi lain yang memiliki symptom yang sama, seperti penyakit gastroesophageal reflux, psudoachalasia, dan infeksi yang disebut penyakit Chagas, yang hanya dijumpai di Amerika Tengah dan Selatan.

 

Tes Radiografi

Tes yang menggunakan radiasi sinar x bisa berguna untuk memastikan adanya achalasia.

Sinar x dada: sinar x dada yang sederhana bias menunjukkan adanya distorsi esophagus dan tidak adanya udara di perut, dua abnormalitas yang menunjukkan adanya achalasia.

Uji menelan barium: uji menelan barium adalha tes screening primer bagi achalasia. Tes ini meliputi menelan pasta barium yang kental  ketika sinar x dijalankan. Barium menunjukkan bagian dalam dan profil esophagus dan LES.

Menelan barium biasanya dilakukan  dibawah dluoroscopy, sebuah sinar x derajad-rendah terus menerus, yang berguna untuk meneliti gerakan di esophagus. Pada achalasia, tes ini biasanya menunjukkan tidak adanya kontraksi pada esophagus setelah menelan. Seringkali tes ini menunjukkan adanya kontraksi kejang yang tidak ada manfaatnya di esophagus setelah menelan. Bentuk achalasia ini seringkali disebut vigorous achalasia dan mungkinmerupakan variasi dari achalasia.

 

Manometry

Manometry adalah pengukuran tekanan dalam esophagus dan LES. pengukuran ini dilakukan dengan memberikan sensor tekanan pada esophagus. Manometri selalu digunakan untuk memastikan adanya achalasia. Tes ini biasanya menunjukkan tiga abnormalitas pada orang yang menderita achalasia: tekanan tinggi pada LES saat istirahat, kegagalan LES untuk rileks setelah menelan, dan tidak adanya kontraksi yang berguna padda esophagus bagian bawah.   Dua ciri terakhir itu  adalah yang paling penting dan diperlukan untuk membuat diagnosis achalasia.

 

Endoscopy

Endoscopy adalah visualitasi secara langsung apa yang ada di dalam esophagus, LES, dan perut dengan menggunakan tube tipis yang disinari. Tes ini biasanya direkomendasikan untuk orang yang diduga mengalami achalasia dan berguna untuk mendeteksi kondisi-kondisilain yang menyerupai ahcalasia. Pada orang dengan achalasia, encoscopy seringali menunjukkan distorsi esophagus dan adanya makanan sisa; ini bisa juga menunjukkan adanya inflamasi, borok kecil yang disebabkan oleh infeksi makanan sisa atau pil, dan candida (ragi). Endoscope biasanya  digunakan untuk memeriksa kanker perut. Kanker di bagian atas perut bisa menghasilkan gejala-gejala yang hampir mirip dengan achalasia, dan kondisi ini disebut peusoachalasia. Maka, biopsy (sample  kecil jaringan) seringkali diambil di bagian bawah esophagus.

 

Perawatan Achalasia

Ada sejumlah pilihan bagi perawatan achalasia. Sebagian besar telah digunakan bertahun-tahun, tapi satu (injeksi botulinum toxin) relatif baru. Sayangnya, tak satupun dari perawatan-perawatan ini yang bisa menghentikan aau memulihkan hilangnya sel-sel syaraf di dinding esophagus. Namun, semua perawatan ini efektif untuk mengatasi sumbatan yang diciptakan oleh LES dan memulihkan gerakan makanan dan cairan agar normal kembali.

Dan diantara perawatan-perawatan ini (terapi obat dan injeksi botulinm toxin) bekerja secara farmakologis dengan mengurangi tekanan LES sedagkan dua perawatan lain (pembesaran balon dan bedah /myotomy bekerja secara mekanis melemahkan serat-serat otot LES. Masing-masing perawatan ini memiliki keunggulan dan kelemahan.

 

Terapi Obat

Dua kelas obat, nitrate dan calcium channel blockers memiliki efek menenangkan otot. Obat-obat ini bisa menenangkan LES dan menurunkan gejala-gejala pada orang dengan achalasia. Obat itu biasanya ditaruh dibawah lidah selama 10 sampai 30 menit sebelum makan.

Terapi medis adalah pilihan yang paling mudah untuk mengatasi achalasia. Namun, sebagian orang merasa perawatan medis jangka panjang tidak nyaman, tidak efektif, dan menimbulkan efek samping seperti sakit kepala dan tekanan darah rendah. Selain itu obat ini cenderung berkurang efektivitasnya bila digunakan berulang-ulang.

 

Pembesaran balon (Pneumatic Dilatation)

Pembesaran balon secara mekanis merentang LES yang berkontraksi. Prosedur ini efektif untuk mengatasi sebagian besar sipmtom achalasia pada  sekitar dua petiga pasien walau nyeri dada tetap ada pada sejumlah orang. Hingga setengah pasien mungkin memerlukanlebih dari satu sesi untuk mengurangi gejalanya. PD saat ini diangap sebagai perawatan non-bedah yang standar bagi achalasia.

 

Prosedur

Orang yang menjalani PD biasanya diminta berpuasa paling tidak 12 jam sebelum prosedur dilakukan, dan sebagian orang mungkin diberi makanan cair satu atau dua hari sebelumnya. Dengan fluoroscopy, dokter memasukkan kabel pengarah kedalam esophagus dan meletakkannya di dalam LES. Balon yang telah dikempiskan selanjutnya dimasukkan di sepanjang kabel tersebut, diletakkan di dalam LES, dan digelembungkan selama sekitar 60 detik. Balon itu selanjutnya dikempiskan dan diambil, dan orang itu dimonitor selama lima sampai enam jam untuk mendeteksi adanya komplikasi akibat prosedur yang diambil. Bila tidak ada komplikasi, orang itu biasanya  bisa makan setelah enam jam.

Di sejumlah kasus hanya satu kali penggelembungan balon dilakukan; bila gejala sehari-hari orang itu tidak membaik, maka diperlukan sesi tambahan. Balon tersedia dalam tiga ukuran, ukuran kecil biasanya digunakan selama sesi pertama, dan yang lebih besar untuk sesi-sesi berikutnya. Bila simptom orang itu masih ada setelah tiga sesi, maka dianjurkan bedah.

 

Tingkat keberhasilan

Satu sesi penggelembungan balon bisa meringankan gejala achalasia pada 95 persenorang satu tahun setelah prosedur tersebut dan sekitar 26 persen setelah lima tahun. Namun keberhasilan setelah  lima tahun ini  akan lebih baik lagi kalau menggunakan penggelembung balon yang lebih baru. Kemungkinan pengurangan symptom setelah satu tahun meningkat menjadi sekitar 89 persen bila orang itu menjalani tiga sesi sekaligus. Kemungkinan pengurangan symptom lebih lama lebih besar pada orang diatas 40 tahun.

 

Komplikasi

Sekitar 15 persen orang mengalami nyeri dada berat segera setelah penggelembungan  balon, dan ada yang mengalami demam.

Komplikasi yang paling signifikan adalah terjadinya lubang / perforasi pada dinding esophagsus; komplikasi ini terjadi pada sekitar 2 sampai 6 persen orang. Ini ini lebih mungkin terjadi pada sesi pertama. Nyeri atau rasa tidak nyaman yang terus dirasakan setelah beberapa jam menandakan bahwa esophagus telah koyak. Sejumlah doker secara rutin menggunakan sinar x segera setelah prosedur tersebut untuk memeriksa bila ada kerusakan pada esophagus.

Sebagian besar lubang atau koyak adalah kecil, dan bisa sembuh sendiri dengan antibiotik dan makanan secara intravena. Namun, banyak dokter yang merekomendasikan bedah untuk memperbaikinya, seberapapun besarnya. Risiko mati karena PD sekitar 0,2 persen. Tidak ada cara untuk memprediksikan perforasi.

Kompliksi PD lain diantaranya adalah  lebam pada dinding esophagus, kerusakan lini esophagus, dan berkembangnya kantung-kantung kecil (diverticula)  di esophagus atau perut bagian atas, dan perkembangan gastroesophageal reflux disease (GERD). Karena LES adalah penghalang utama yang menghambat makanan di perut muntah atau mengalir kembali kedalam esophagus, gangguan pada bagian ini bias menjadi pencetus muntahan asam. GERD terjadi pada sekitar 2 persen orang setelah PD, tapi biasanya mudah dikendalikan dengan pengobatan yang mengurangi-asam.

 

Bedah (Myotomy)

Bedah bisa digunakan untuk secara langsung  mengatasi serat-serat otot LES yang berkontraksi. Teknik bedah yang sering digunakan disebut Heller myotomy. Di masa lalu, bedah dilakukan melalui insisi terbuka di dada atau lambung, tapi sekarang bisa dilakukan dengan insisi kecil dengan menggunakan tube tipis  (laparoscope atau thoracoscope). Pendekatan baru ini tidak terlalu menimbulkan trauma dan memperpendek waktu pemulihan.

 

Tingkat keberhasilan

Bedah mengurangi gejalan achalasia pada 70 sampai 90 persen orang. Pengurangan symptom ini bertahan pada sekitar 85 persen orang 10 tahun setelah bedah dan sekitar 65 persen pada orang 20 tahun setelah bedah.   Sejumlah studi menunjukkan bahwa bedah adalah solusi yang lebih permanen bagi achalasia dibanding ballon dilatation atau injeksi botulinum toxin, walau bedah lebih mahal.

 

Komplikasi

Bedah yang berhasil  berarti menghilangkan LES. Maka, semakin  ringgi risiko terkena penyakit gastroesophageal reflux, terutama di kemudian hari. Ini perlu dideteksi dan dirawat karena pasien dengan achalasia bisa mengalami luka yang berat dan sulit untuk dirawat setelah terjadi. Maka pasien perlu dimonitor secara teratur.

 

Injeksi Botulinum Toxin

Injeksi botulinum toxin adalah perawatan achalasia yang terbaru. Prosedur ini masih dianggap  coba-coba dan seringkali hanya bisa didapatkan di pusat-pusat kesehatan perguruan tinggi. Botulinum toxin meracuni sel-sel syaraf yang memberi sinyal LES untuk berkontraksi. seringkali injeksi botulinum toxin digunakan sebagai tes diagnosispada orang-orang yang diduga mengalami achalasia yang hasil-hasil tesnya tidak  meyakinkan. Karena yang digunakan tidak banyak maka risikonya kecil.

 

Prosedur

Prosedur injeksi dilakukan selama endoskopi rutin. Botulinum toxin disuntikkan secara langsung ke LES.

 

Tingkat keberhasilan

Satu sesi injeksi botulinum toxin meringankan symptom pada 65 sampai 90 persen orang dalam jangka pendek (tiga bulan sampai sekitar satu tahun). Pada sekitar separuh dari orang yang gejalanya kambuh, injeksi lanjutan bisa meringankan symptom. Studi menunjukkan bahwa injeksi botulinum toxin  lebih efektif pada orang diatas usia      50 tahun dan pada orang yang mengalami vigorous achalasia.

Bila dibandingkan dengan PD, injeksi botulinum toxin memiliki efektivitas yang sama untuk mengurangi symptom pada satu sampai dua tahun pertama setelah tindakan dilakukan. Namun, agar efektifif dalam jangka panjang perlu dilakukan banyak injeksi botulinum toxin pada 40 sampai 50 persen orang. Meski mengurangi symptom dengan tingkat yang sama, PD menurunkan tekanan LES dan menurunkan retensi makanan di esophagus secara lebih efektif daripada injeksi botulinum toxin. Efektivitas injeksi botulinum toxin dalam jangka panjang tidak diketahui.

 

Komplikasi

Sekitar 25 persen orang mengalami nyeri dada sementara (bebreapa jam) dan 5 persen mengalami dada seperti terbakar segera setelah injeksi botulinum toxin. Kerusakan dinding dan lini esophagus jarang terjadi. Keamanan injeksi botulinum toxin dalam jangka pendek sepertinya lebih besar daripada kamanan PD jangka-pendek maupun bedah.

 

Risiko Jangka-Panjang dan Kanker Esophagus

Orang dengan achalasia memiliki risiko lebih tinggi  terkena kanker esophagus, terutama bila sumbatan itu tidak diatasi dengan benar. Risiko bisa mencapai 16 kali lipat dari risiko  populasi umum, tapi risiko mutlaknya sangat rendah (hanya sebagian kecil pasien dengan achalasia yang akan menderita kanker). Namun, sejumlah dokter merekomendasikan endoscopic screening secara reguler untuk mendeteksi kanker secara dini.

 

 

 

Leave a Reply