DYSPHAGIA

DYSPHAGIA

 

Pendahuluan

Kata dysphagia berasal dari bahasa Yunani “dys” (dengan kesulitan) dan “phagia” (untuk makan). Dysphagia adalah sebuah sensasi subyektif yang menunjukkan adanya abnormalitas organic di saluran cairan atau padatan dari rongga mulut ke perut. Pasien mengeluh mulai dari tidak dapat menelan sampai ke merasakan adanya benda padat atau cair yang menyumbat  di saluran terus ke esophagus sampai ke perut. Istilah “odynophagia” artinya nyeri saat menelan.

Dysphagia dianggap sebagai symptom pemberi peringatan, yang mengindikasikan perlunya evaluasi segera untuk mendefinisikan penyebabnya secara pasti dan melakukan terapi yang diperlukan. Dysphagia pada subyek manula tidak berarti wajar karena penuaan. Penuaan saja menyebabkan abnormalitas motilitas esophageal ringan, yang jarang menunjukkan symptom.

Dysphagia bisa diklasifikasikan menjadi oropharyngeal atau esophageal:

  • Oropharyngeal dysphagia, yang juga disebut transfer dysphagia, disebabkan oleh penyakit pada upper esophagus dan pharynx, atau oleh disfungsi upper esophageal sphincter.
  • Esophageal dysphagia muncul dalam  badan esophagus, lower esophageal sphincter, atau cardia, dan terutama disebabkan oleh sebab-sebab mekanis atau gangguan motilitas.

Pada sejumlah pasien tidak diketahui penyebabnya; para pasien ini dikategorikan mengalami functional dysphagia.

Para pasien yang mengalami oropharyngeal dysphagia mengeluh “makanan tertahan” begitu tertelan, dan menunjukkan ke wilayah cervical ketika diminta mengidentifikasi tempat gejalanya. Sebaliknya, pasien yang mengalami esophageal dysphagia biasanya mendeskripsikan onset gejalanya beberapa detik setelah menelan. Mereka biasanya menunjuk ke suparsternal notch atau dibelakang sternum ketika diminta untuk menunjukkan wilayah yang menimbulkan symptom tersebut. Retrosternal dysphagia biasanya terkait dengan lokasi lesi, sementara suprasternal dysphagia ditunjuk dari bawah.

Riwayat Kesehatan

Langkah pertama evaluasi pasien yang mengalami dysphagia adalah dengan memperhatikan riwayat pasien secara seksama (tunjukkan table 1). Pemahaman tentang berbagai mekanisme yang bisa menyebabkan dysphagia bisa membantu kita mengarahkan pertanyaan yang bisa menentukan penyebab dan langkah yang akan diambil (tunjukkan algoritma 1). Riwayat juga bisa membantu membedakan dysphagia dengan odynophagia dan sensasi globus  (perasaan ada benjolan di tenggorokan) yang mana diagnosis dan evaluasinya bisa berbeda.

Komponen penting dalam riwayat kesehatan adalah menentukan jenis makanan yang menghasilkan simptom-simptom tersebut  (padat, cair, atau keduanya) dan kecepatan perkembangan symptom-simptom tersebut. Dysphagia terhadap benda padat atau cair sejak onset symptom kemungkinan disebabkan oleh gangguan motilitas esophagus. Sebaliknya, dysphagia terhadap benda padat yang kemudian berkembang sehingga mencakup kesulitan menelan cairan kemungkinan mencerminkan obstruksi mekanis.

Menentukan apakah symptom-simptom terjadi terus menerus atau hanya datang dan pergi juga bermanfaat. Dysphagia terus menerus (progresif) biasanya disebabkan oleh kanker atau peptic stricture, sedangkan dysphagia yang datang dan pergi (intermittent) lebih sering berhubungan dengan  lower esophageal ring. Namun,  Pasien dengan gangguan motilitas mungkin juga mengalami dysphagia terus menerus (biasanya achalasia atau scleroderma) atau datang dan pergi (biasanya kejang esophagus, atau gangguan motilitas yang nonspesifik).

Gejala atau temuan seperti dada serasa terbakar, penurunan berat badan, hematemesis, coffee ground emesis, anemia, muntah partikel makanan, dan gejala pernapasan bisa membantu kita mempersempit berbagai kemungkinan diagnosis (tunjukkan algoritma 2). Sebagai contoh, dada serasa terbakar yang kronis   pada pasien yang mengalami dysphagia mungkin merupakan tanda adanya komplikasi penyakit gastroesophageal reflux, seperti erosive esophagitis, peptic stricture, dan adenocarcinoma esophagus. Namun, tidak adanya rasa dada seperti terbakar berarti tidak ada komplikasi  yang terkait-reflux karena sekitar sepertempat pasien yang mengalami peptic stricture dan paling tidak sepertiga diantara orang yang mengalami adenocarcinoma esophagus tidak merasakan dada seperti terbakar sebelum didiagnosis. Selain itu, lebih dari sepertiga pasien yang mengalami achalasia mengeluh dada seperti terbakar, walau penyebabnya masih controversial.

 

Diagnosis Diferensial

Banyak kondisi yang berhubungan denagn esophageal dysphagia, yang paling umum akan dibahas berikut ini (tunjukkan table 2).

 

Peptic Stricture

Peptic stricture adalah komplikasi acid refluz, yang terjadi pada sekitar 10 persen pasien yang mengalami gastroesophageal reflux disease (GERD). Terjadinya peptic stricture pada para pasien yang mengalami reflux diduga berhubungan dengan usia lanjut, jenis kelamin pria, dan durasi gejala  reflux yang lebih lama. Selain GERD, peptic stricture telah dijumpai pada sejumlah kondisi lain yang mengarah ke peningatan paparan asam di esophagus.   Contoh-contohnya meliputi scleroderma, Zollinger-Ellion syndrome, nasogastric tube placement, dan Heller myotomy bagi achalasia. Pasien dengan berbagai gangguan lain, seperti esophagitis yang menular, reseksi paska-bedah untuk kanker esophagus atau larynx, menelan sakit, pill esophagitis, dan paparan radiasi dapat berkembang menjadi penyempitan esophagus yang sama dengan peptic stricture meskipun berasal dari nonpeptic.

Gejala peptic stricture  biasanya berada di dalam tapi terus menerus dimulai dengan dysphagia terhadap makanan padat yang diikuti oleh dysphagia terhadap makanan cair. Gejala-gejalanya sama dengan  stricture; dysphagia terhadap makanan padat biasanya muncul ketika esophageal lumen menyempit menjadi 13 mm atau kurang. Sejumlah pasien beradaptasi terhadap perkembangan stricture dengan mengadopsi makanan lembek atau cair. Selain dysphagia, pasien yang mengalami GERD mungkin juga mengalami berbagai gejala lain seperti rasa dada seperti terbakar dan  muntah asam.

 

Esophageal ring dan web.

Esophageal ring dan web adalah struktur yang tipis dan sangat rentan, yang sebagian atau seluruhnya membahayakan esophageal lumen.

  • Istilah web adalah lipatan mucosa tipis yang menonjol kedalam lumen dan ditutupi oleh squamous epithelium. Webs banyak terjadi di bagian anterior pada cervical esophagus, yang menyebabkan penyempitan focal pada area postcrocoid (tunjukkan radiograf 1).
  • Esophageal rings oleh Schatzki dideskripsikan sebagai struktur mucosa pada simpangan  gastroesophageal yang halus, tipis (<4 mm panjang axial), dan tertutup oleh squamous mucosa dan columnar epithelium dibawah (tunjukkan endoscopy 1 dan tunjukkan radiograf  2).

 

Rings

Patogenesia esophageal rings tidak diketahui dengan jelas, walau GERD telah sering dijumpai pada para pasien. Dibandingkan dengan mucosal rings, muscular rings termasuk jarang, biasanya dijumpai pada anak-anak, yang berada didalam 2 cm pada simpangan squamocolumnar  dan ditandai oleh hypertrophic musculature pada badan esophagus. Keberadaan banyak ring akan meningkatkan kecurigaan adanya eosinophilic esophagitis.

Kaliber mscular ring berubah selama peristalsis, yang membedakannya dengan peptic stricture atau mucosal ring.   Saat menelan barium dan upper endocopy mereka tampak sebagai sebuah penyempitan tebal variable luminal diameter yang terletak beerapa sentimeter diatas simpangan squamo-columnar.

Pasien dengan esophageal rings biasanya mengalami intermittent dysphagia bagi makanan padat, terutama ketika diameter ring menyempit menjadi 13 mm atau kuang. Rasa seperti ini biasanya berlangsung tidak lama, berhubungan dengan rasa tidak nyaman pada dada, dan sembuh dengan memuntahkan bolus makanan, minum cairan, atau mengubah posisi. Sejumlah pasien menunjukkan dysphagia akut setelah menelan banyak makanan (disebut “steakhouse” syndrome) yang memerlukan intervensi endoscopic segera untuk menghilangkah bolus makanan. Pasien dengan esophageal rings perlu lebih berhati-hati mengunyah makanan mereka dan setelah memakan makanan padat segera meminum cairan dalam jumlah cukup untuk menghindari pengaruh makanan.

 

Webs

Pasien dengan esophageal web seringkali tidak menunjukkan gejala atau hanya mengalami intermittent dysphagia; web seringkali ditemukan secara tidak sengaja selama penelitian radiografis untuk tujuan lain. Namun, esophageal rings selama ini telah dikaitkan dengan kekurangan zat besi (Plummer-Vinson atau Paterson-Kelly syndrome) dimana anemia, koilonchia, atau berbagai manifestasi kekurangan besi lain mungkin muncul (tunjukkan radiograf 3).

 

Carcinoma

Kanker esophagus atau gastric cardia seringkali berhubungan dengan anorexia, penurunan berat badan yang signifikan, dan dysphagia yang berkembang dengan cepat, yang pada awalnya hanya untuk makanan padat tapi kemudian juga makanan cair. Selain itu, pasien sperti itu seringkali merasakan nyeri dada, odynophagia, dan anemia. Sindroma mirip-achalasia (pseudoachalasia) telah ditemukan pada pasien-pasien yang mengalami adenocarcinoma cardia yang disebabkan oleh infiltrasi microskopik myenteric plexus atau syaraf vagus. Pasien biasanya lebih dari 60 tahun, mengalami symptom kurang dari satu tahun, dan melaporkan penurunan berat badan yang signifikan (>10 kilogram).

Dua jenis histologis utama esophageal carcinoma adalah adenocarcinoma dan squamous cell carcinoma, yang memiliki penampakan klinis yang sama meskipun epidemiologinya berbeda. Squamous cell carcinoma berhubungan dengan penggunaan tembakau dan alcohol, lazim dijumpai di Asia (terutama Cina dan Singapura), dan juga digemari dikalangan orang kulit hitam Amerika di Amerika Serikat. Sebaliknya, adenocarcioma terjadi terutama pada lelaki Kaukasia pada usia 60 tahunan yang telah memiliki riwayat GERD lama dan mucosa Barrett yang menyertainya (tunjukkan gambar 1). Insidensi adenocarcinoma esophagus dan cardia adalah diantara yang paling cepat meningkat dari semua kanker di Amerika Serikat.

 

Abnormalitas Kardiovaskuler

esophagus (“dysphagia lusoria”) Sejumlah pembuluh aberrant membentuk ring yang utuh, sedangkan yang lainnya membentuk ring yang tidak utuh disekitar esophagus.

  • Sejumlah anomaly / kelainan vaskuler bias menyebabkan dysphagia dengan menekan Anomali ring vaskuler utuh meliputi lengkungan aorta ganda, lengkungan aorta kanan dengan  retroesophageal left subclavian artery dan left ligamentum arteriosum, dan lengkungan aorta kanan dengan cabang image-cermin dan left ligamentum arteriosum. Prevalensi  lengkungan aorta ganda adalah sebersar 0,36 persen dan diagnosis yang akurat bias dicapai dengan endoscopic ultrasonography.
  • Anomali ring vaskuler tidak utuh meliputi retroesophageal right aberrant subclavian artery dan anomaly arteri pulmoner kiri.

Pada orang lanjut usia, atheroschlerosis berat atau aneurysm besar pada thoracic aorta bias mengakibatkan gangguan pada esophagus dan menyebabkan dysphagia (“dysphagia aortica”). Ketika symptom-simptomnya tidak bisa dilacak, intervensi bedah harus dilakukan. Symptom-simptom biasanya berkembang selama kanak-kanak, tapi bisa berkembang juga pada orang dewasa. Sebagian besar subyek dengan aberrant subclavian artery bebas symptom selama hidup mereka. Namun, batuk, dysphagia, thoracic pain, atau bahkan sindroma Horner mungkin berkembang pada usia lanjut. Pada bayi, ada peningkatan infeksi pulmoner dan abnormalitas pernapasan.

Pembesaran atrium kiri menyebabkan dysphagia pada para pasien dengan penyakit mitral valve. Ini disebabkan oleh kompresi ekstrinsik oleh pembesaran atrium, yangmengakibatkan sumbatan lumen parsial di tengah bagian ketiga bagian bawah esophagus.

 

Cedera Radiasi

Pasien yang menjalani  radioterapi radikal atau yang hanya meringankan gejala saja karena menderita tumor leher dan kepala atau thorax berisiko mengalami esophagitis dan esophageal strictures. Pada seting akut, pasien mungkin mengalami esophagitis yangmengakibatkan dysphagia dan odynophagia. Pada sejumlah pasien, esophagitis radiasi kronis terjadi (>dua bulan setelah radioterapi), yang bisa muncul sebagai ulserasi esophageal atau strictures yang disebabkan oleh iskemia kronis dan fibrosis radiasi. Insidensi stricture setelah radiasi bervariasi tergantung pada jenis dan dosis radiasi, tapi bias mencapai 44 persen. Dalam sebuah laporan, waktu median dari radioterapi sampai perkembangan dysphagia adalah 14 minggu.

Lokasi stricture tergantung pada tempat cedera radiasi maximal. Akibatnya, proximal strictures lebih umum pada pasien yang mendapatkan radiasi untuk kanker leher dan kepala.

Penyebab dysphagia yang potensial lainnya pada para pasien yang mendapatkan radiasi thorax adalah gangguan motilitas. Namun, sebuah laporan menunjukkan bahwa radioterapi hanya memiliki efek kecil pada motilitas atau transit esophageal.

 

Achalasia

Achalasia adalah sebuah penyakit yang penyebabnya  tidak diketahui dimana ada kehilangan peristalsis pada distal esophagus (yang musculature nya terdiri sepenuhnya dari otot-otot halus) dan kegagalan relaksasi LES. Walau kedua abnormalitas itu mengganggu pengosongan esophagus, symptom-simptom dan tanda-tanda achalasia terutama disebabkan oleh cacat pada relaksasi LES. Kontraksi LES menyebabkan sumbatan fungsional pada esophagus yang bertahan hingga tekanan hydrostatik pada bahan makanan yang tertahan melebihi tekanan yang dihasilkanoleh otot sphincter (tunjukkan radiograf 4).

Achalasia adalah gangguan yang tidak lazim yang insidensinya pertahun sekitar 1 kasus per 100. 000. Pria dan wanita memiliki kemungkinan terkena yang sama. Penyakit ini bisa terjadi pada usia berapa pun, tapi onset sebelum remaja tidak lazim. Achalasia biasanya didiagnose pada para pasien yang berusia antara 25 sampai 60 tahun.

Dysphagia makanan padat (91 persen) dan cair (85 persen) adalah cirri klinis primer pada achalasia. Walau dysphagia makanan cair bisa terjadi pada para pasien dengan gangguan motilitas esophagus lain (contoh,scleroderma), ini adalah karakteristik achalasia yang paling menonjol.

Para pasien dengan achalasia mungkin memiliki sejumlah fitur klinis lain, termasuk penurunan berat badan, batuk kronis, nyeri dada, tersedak, muntah, dada seperti terbakar, dan sensasi globus. Selain itu, hubungan denagn ketidakcukupan adrenal dan alacrima (sindroma tiga A atau sindroma Allgrove) telah ditemukan pada anak-anak yang mengalami achalasia. Mungkin saja bahwa varian sindroma ini muncul pada pasien dewasa karena, dalam sebuah laporan, 4 dari 20 pasien dewasa dengan achalasia mengalami kekurangan produksi air mata. Tersedak lazim dijumpai pada para pasien yang mengalami achalasia dan mungkin disebabkan oleh sumbatan fungsional distal esophagus.

Pasien dengan penyakit Chagas memiliki fitur klinis yang sama dengan achalasia (tunjukkan radiograf 5). Dysphagia berkembang dari hitungan minggu sampai bertahun-tahun setelah Trypanosoma cruzi. Pasien dengan esophagus yang tidak bisa melebar biasanya mengalami dysphagia intermittent ringan, sedangkan mereka yang mengalami megaesophagus mengalami dysphagia konstan terhadap makanan padat maupun cair. Symptom-simptom lain yang sama dengan achalasia mungkin juga dijumpai, termasuk memuntahkan partikel makanan, tersedak, batuk kronis, nyeri dada, dan penurunan berat badan.

 

Gangguan motilitas kejang

Diffuse esophageal spasm (DES), nutcracker esophagus, hypertensive lower esophageal sphincter, dan gangguan-gangguan motilitas esophagus kejang nonspesifik lain bisa menyebabkan dysphagia terhadap makanan padat maupun cair.

 

  • DES mungkin disebabkan oleh kombinasi cacat otot maupun syaraf, yang bisa diperburuk oleh sejumlah rangsangan seperti asam yang berlebih, stress, makanan panas atau dingin, minuman berkarbon, dan bau tertentu (tunjukkan radiograf 6). Pasien dengan DES mengalami intermittent dysphagia, yang berat ringannya sangat bervariasi; symptom-simptom lain dianaranya nyeri dada dan dada seperti terbakar. Pasien dengan kontraksi esophagus < 74 mmHg  cenderung tidak banyak merasakan nyeri dada  dibandingkan dengan mereka dengan kontraksi >100 mmHg.
  • Dysphagia dan nyeri dada juga sering dirasakan oleh para pasien dengan nutcracker esophagus, hypertensive lower esophageal sphincter, dan berbagai gangguan kejang lain.
  • Ineffective esophageal motility disorder (IEMD), yang didefinisikan sebagai paling tidak 30 persen kontraksi distal esophageal dibawah 30 mmHg, telah dikaitkan dengan dysphagia. Sekitar 30 persen subyek d engan IEMD merasakan dysphagia dalam sebuah studi. Namun, studi-studi yang menggunakan pengujian hambatan esophageal itraluminal menunjukkan bahw hingga 68 psersen cairan dan 59 persen makanan liat /kental  pada para pasien seperti itu menunjukkan transit bolus yang normal. Sepertiga pasien memiliki transit bolus yang normal yangmenunjukkan bahwa diagnosis manometerik IEMD tidak selalu berhubungan dengan efektivitas fungsi esophagus.

 

Sceloderma

Keterlibatan esophageal dijumpai pada hingga 90 persen pasien dengan scleroderma terlepas dari apakah merka memiliki sindroma CREST atau diffuse scleroderma atau tidak (tunjukkan table 3). Scleroderma terutma meliputi  lapisan otot halus dinding usus , yang mengakibatkan atrophy dan sclerosis dua pertiga distal esophagus. Akibatnya, sebagiah besar abnormalitas motilitas yang paling umum yang dijumpai pada dua pertiga distal esophagus adalah aperistalsis atau kontraksi rendah, dan tekanan esophageal sphincter rendah atau bahkan tidak ada sama sekali. Proximal esophagus  menunjukkan motilitas normal.

Pasien dengan scleroderma yang melibatkan esophagus semakintinggi risikonya terkana penyakit gastroesophageal reflux berat, yang mengakibatkan keluhan dada seperti terbakar yang kronis. Dysphagia progresif terhadap makanan padat maupun cair mungkin bias berkembang bersama dengan abnormality motilitas atau mungkin bisa menunjukkan adanya peptic stricture, yang terjadi hinggap 50 persen dari para pasien ini.

 

Sindroma Sjorgen

Sindroma sjorgen juga berhubungan denagn dysphagia. Dalam serangkaian studi, sebagai contoh, hingga 74 persen pasien mengeluh dysphagia. Xerostomia memperburuk rasa nyaman ketika menelan tapi tampaknya tidak berkorelasi dengan dysphagia. Pada sebagian besar pasien, tidak ada penyebab yang jelas bagi terjadinya dysphagia.

 

Dysphagia fungsional

Dysphagia fungsional adalah sebuah diagnosis eksklusi pada para pasien yang  mengalami dysphagia yang telah menjalani evaluasi diagnosis lengkap tanpa bukti abnormalitas structural atau gangguan motilitas. Kriteria yang direkomendasikan diantaranya:

  • Paling tidak 12 minggu (tidak harus berturut-turut) 12 bulan sebelum merasakan kesulitan menelanmakanan padat maupun cair, tersumbat, atau merasakan abnormalitas saluran  ke esophagus.
  • Tidak adanya gastroesophageal reflux yang patologis, achalasia, atau gangguan motilitas lain berdasarkan  patologi yang diakui.

Simptom-simptom dysphagia mungkin intermittent atau muncul setelah makan, dan mungkin tidak bias dibedakan dengan dysphagia yang disebabkan oleh gangguan motilitas atau mekanis. Pasien-psien ini menghadapi dilemma terapi karena pilihan penanganannya terbatas. Studi-studi yang meneliti epidemiologi, etiologi, dan terapi kondisi ini masih langka. Pasien harus diyakinkan dan diperintahkanuntukmenghidari factor-faktor pencetus dan harus mengunyah dengan baik. Pada para pasien dengan gejala yang berat, perawatan dengan calcium channel blocker, anticholinergic agent, antidepressant, anxiolytic, atau smooth-muscle relaxant bias dipertimbangkan. Sejumlah endoscopist melakukan pembesaran esophagus secara empiris dengan 50 sampai 54 F Maloney dilator, sebuah praktik yang didukung paling tidak dalam sebuah penelitian terkontrol, tapi terbukti tidak efektif pada penelitianlain.

 

Pengujian Spesifik

Pengujian awal pada para pasien dengan dysphagia harus didasarkan pada riwayat kesehatannya (tunjukkan algoritma 2). Pasien dengan dysphagia biasanya memerluakan rujuan dini karena sebagian besar memerlukan endoscopy. Pasien dengan riwayat atau cirri klinis awal yang menunjukkan lesi proximal esophagus (contoh, bedah untuk kanker esophagus atau larynx, Zenker’s diverticulum, atau terapi radiasi),  comlex stricture  (contoh, riwayat terapi radiasi) atau achalasia harus dievaluasi sejak awal dengan menelan barium. Pada para pasien ini, menelan barium akan merupakan tes yang lebih sensitive dan lebih aman daripada upper endoscopy; intubasi proximal esophagus selama endoscopy dilakukan relatif  buta, sehingga membahayakan terjadinya perforasi / pelubangan pada pasien dengan upper esophageal pathology.   Pada pasien lain menangani secara langsung dengan upper endoscopy adalah masuk akal. Selain karena bernilai diagnostik, endoscopy menawarkan suatu kesempatan untuk mendapatkan sample jaringan dan melakukan intervensi terapi.

Lingkaran esophagus bagian bawah atau kompresi esophagus ekstrinsik seringkali diabaikan selama upper endoscopy. Evaluasi radiografis menggunakan teknik kolom lengkap bisa berguna bila diduga terjadi sumbatan mekanis  meskipun upper endoscopy adalah negatif. Pasien harus diperintahkan untuk meminum barium pada posisi miring; distensi maksimal simpangan esophagogastric dicapai dengan meminta pasien minum barium secepatnya. Selain itu, meminta pasien untuk menelan 13 mm barium tablet atau bolus padat, seperti marshmallow atau roti, bias membantu menunjukkan lesi yang sangat  halus pada pasien dengan dysphagia makanan padat yang intermittent maupun yang menetap.

Abnormalitas motilitas harus dicurigai pada para pasien dimana pengujian diatas tidak menunjukkan hasil. Gangguan motilitas (sebagian besar tidak spesifik atau achalasia) telah terdeteksi pada 50 persen pasien dengan dysphagia nonstructural. Standar untuk mendiagnosis gangguan motilitas adalah studi motilitas esophagus. Namun, gangguan motilitas tertentu (seperti achalasia) bisa dicuriga berdasarkan pada karakteristik penampakan radiografisnya pada tahap lanjut. Namun, ini masih harus dibuktikan dengan studi motilitas lebih lanjut.

 

Dysphagia Akut

Pasien yang menunjukkan dysphagia akut memerlukan evaluasi dan intervensi segera. Insidensi per tahun diperkirakan 13,0 per 100. 000 dan rasio antara pria dan wanita adalah 1,7 dibanding 1. Angka tersebut meningkat seiring usia, terutma setelah beberapa decade. Pasien biasanya memiliki komponen sumbatan mekanis yang secara medis telah ditangani sebelumnya atau tidak pernah diperhatikan oleh doker.

Makanan adalah penyebab yang paling umum pada dysphagia akut pada orang dewasa. Pasien biasanya mengalami symptom-simptom itu setelah menelan daging (sebagian besar daging sapi, ayam, atau kalkun) yang sepenuhnya menyumbat esophageal lumen, yang mengakibatkan ekspektorasi liur.  Pengambilan bolus makanan dengan mendorongnya turun ke perut atau menariknya keluar adalah baik. Teknik mendorong adalah aman dan efektif pada perawatan sebagian besar pasien yang mengalami gangguan karena menelan.

 

Rekomendasi

Dysphagia dianggap sebagai gejala yang memberikan peringatan, yang mengindikasikan perlunya evaluasi segera untuk bias mendefinisikan penyebab pasti dan langkah yang perlu dilakukan (tunjukkan algoritma 1 dan tunjukkan algoritma 2).

  • ini bisa diklasifikasikan sebagai oropharyngeal atau esophageal
  • Langkah pertama yang perlu diambil adalah mengamati riwayat dengan seksama
  • Sejumlah besar kondisi berhubungan dengan esophageal dysphagia (tunjukkan table 2).
  • Pengujian dini bagi esophageal dysphagia harus didasarkan pada riwayat kesehatan (tunjukkan algoritma 2).

 

 

Leave a Reply