CIRI-CIRI AUTIS

Diduga bahwa anak autis mengalami sejumlah defisit yang mengganggu perkembangan sosial, afektif, linguistik, perilaku, dan kognitif mereka.

Kemampuan Sosial

Riset menunjukkan bahwa gangguan pada keterampilan sosial mungkin tidak disebabkan oleh ketidakmampuan atau tidak adanya keinginan untuk berinteraksi dengan orang lain, tapi mungkin disebabkan oleh gangguan dalam memahami dan merespon informasi sosial (Dawson, Metzoff, Osterling, Rinadi, & Brown, 1998).

Kedekatan

Sigman dan kawan-kawan (Sigman & Mundy, 1989; Sigman & Urenger, 1984a) menemukan bahwa anak-anak pra-sekolah yang mengalami gangguan autis menunjukkan perilaku sosial mencari kedekatan lebih banyak kepada pengasuh (caregiver) mereka dibanding orang lain.

Temuan-temuan penelitian secara keseluruhan menunjukkan bahwa ganggan autis tidak disebabkan oleh gangguan global pada kemampuan membentuk kedekatan, dan bahwa gangguan autis tidak menghambat pembentukan kedekatan hubungan (Dissanayake & Sigman, 2001). Namun tidak diketahui dengan pasti tentang bagaimana kedekatan hubungan berkembang seiring waktu pada anak-anak kecil yang mengalami gangguan autis, atau apakah gangguan dalam memahami orang lain mengakibatkan gangguan kedekatan hubungan di kemudian hari (Dissanayake & Sigman, 2001).

Telah dikatakan bahwa interaksi awal yang melibatkan kegiatan meniru pada bayi  memacu kemampuan bayi untuk memahami hubungan antara diri mereka sendiri dengan orang lain (Meltzoff & Gopnik, 1993; Stern, 1985). Anak-anak kecil yang mengalami gangguan autis mengalami gangguan yang spesifik dalam menirukan gerakan orang lain, teramsuk gerakan tubuh dan tindakan dengan obyek (Curcio, 1978; Dawson & Adams, 1984; Dawson, Meltzoff, Osterling, & Rinaldi, 1998; DeMyer dkk., 1972; Sgiman & Ungerer, 1984; Stone, Ousley, & Littleford, 1997).

Meskipun anak-anak dan orang dewasa yang mengalami autis bisa meniru orang lain, tapi ”gaya” menirunya tidak luwes (Hobson & Lee, 1999; Loveland dkk., 1994).

Teori-teori terbaru menghubungkan gangguan meniru dengan gangguan motor praxis  dalam merencanakan, mengurutkan, dan melaksanakan gerakan-gerakan motorik secara sengaja (Rogers, 1998a) atau menghubungkannya dengan kesulitan dalam memahami pengalaman intersubyektif dengan orang lain, yang mengakibatkan pada  gangguan dalam mencocokkan antara gerakan diri dengan gerakan orang lain (Meltzoff & Gopnik, 1993; Hobson & Lee, 1999).

 

Perhatian Bersama

Yang dimaksud dengan perhatian bersama adalah kemampuan ”mengkoordinasikan perhatian antara mitra-mitra sosial interaktif berkenaan dengan obyek-obyek atau peristiwa-peristiwa  agar bisa sama-sama memahami obyek dan peristiwa tersebut” (Mundy, Sigman, Ungerer, & Sherman, 1986).

Gangguan dalam menggunakan tatapan dan gerak isyarat sebagai sarana untuk berbagi perhatian dengan orang lain adalah sebagian diantara gejala-gejala pertama  yang dijumpai pada gangguan autis.

Namun sejumlah peneliti telah menemukan bahwa besarnya gangguan dalam perhatian bersama  pada anak-anak prasekolah tampaknya berhubungan dengan kemampuan intelektual (Leekman, & Moore; 2001; Mundy, Sigman, & Kassari, 1994).Anak-anak dengan gangguan autis perlu usia mental lebih tinggi atau tingkat intelektual lebih tinggi dibanding anak-anak yang berkembang secara wajar untuk bisa mengembangkan keterampilan perhatian bersama.

Teori-teori sosial tentang gangguan perhatian bersama menunjukkan bahwa anak-anak dengan gangguan autis  tidak mampu secara afektif berbagi pengalaman dengan orang lain. Teori-teori kognitif mengatakan bahwa anak-anak dengan  gangguan autis mungkin mengalami kesulitan dengan orientasi perhatian dan memahami fokus perhatian orang lain (Leekam & Moore, 2001).

 

Orientasi pada Stimuli Sosial

Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dengan gangguan autis lebih sering gagal memperhatikan stimuli sosial (panggil nama, tepuk tangan) maupun stimuli nonsosial (permainan rattle dan jack-in-the-box), tapi ketidakmampuan ini  jauh lebih ekstrim pada stimuli sosial.  Ruffman, Garnham, dan Rideout (2001) mengatakan bahwa anak-anak dengan gangguan autis menunjukkan penurunan kemampuan melihat antisipatif selama tugas bercerita yang melibatkan karakter manusia, tapi tidak selama cerita yang melibatkan benda-benda nonsosial.

Ketidakmampuan memperhatikan stimuli sosial diduga berperan pada gangguan meniru dan gangguan memberi perhatian bersamaan (joint attention). Toth dkk (2001) melaporkan adanya korelasi yang kuat  antara penurunan kemampuan orientasi sosial dan buruknya perhatian bersamaan.  Gangguan orientasi sosial bisa menyebabkan tergangguan perhatian gabungan atau bersamaan, yang pada gilirannya  menyebabkan kelambatan perkembangan bahasa.

 

Persepsi Wajah

Sejumlah penelitian telah menemukan gangguan mengenali wajah pada anak-anak yang lebih besar, remaja, dan dewasa awal yang mengalami gangguan autis (Boucher & Lewis, 1992; Hauk, Fein, Maltby, Waterhouse, & Feinstein, 1999; Tantam, Monaghan, Nicholson, & Stirling, 1989; Teunisse & DeGelder, 1994). Anak-anak dengan gangguan autis tidak mampu mencocokkan gambar dan mengenali gambar yang melibatkan  gambar-gambar wajah bila dibandingkan dengan anak-anak yang berkembang wajar.  Namun mereka mampu  melakukan tugas-tugas yang menggunakan gambar-gambar gedung; hasil-hasil ini menunjukkan bahwa gangguannya hanya spesifik pada wajah dan bukan gangguan memori mengenali secara umum.

Individu yang mengalami autis cenderung memfokuskan pada wilayah mulut dan bukan pada mata. Sebaliknya, individu yang berkembang secara normal cenderung mefokuskan pada mata, bukan pada mulut. Sejumlah studi menemukan bahwa individu dengan gangguan autis  tidak menunjukkan penurunan persepsi wajah ketika ditunjukkan wajah terbalik dan bukan wajah yang tegak (Hobson, Ouston, & Lee, 1988; ongdell, 1978).

Anak-anak yang perkembangannya tipikal maupun yang lambat  mampu membedakan wajah ibu mereka dibandingkan dengan wajah orang asing dan terhadap mainan yang sudah dikenali dan yang belum dikenali. Sebaliknya, anak-anak dengan gangguan autis  tidak mampu membedakan respon elektrik otak terhadap wajah ibu mereka dibandingkan dengan wajah orang asing, tapi menunjukkan event-related-response (ERP) yang lebih besar terhadap mainan yang belum dikenali dibandingkan dengan yang menjadi favoritnya. Pola ERP terhadap mainan sama dengan yang ditunjukkan oleh anak pada umumnya yang sesuai dengan perkembangan umurnya.

 

Ekspresi dan Persepsi Emosi

Hobson (1989) mengatakan bahwa individu dengan gangguan autis mengalami defisit persepsi dan memahami emosi orang lain.   Studi lain menunjukkan terjadinya gangguan performa ketika anak dengan gangguan autis  diminta untuk memilih suatu gambar yang menunjukkan ekspresi emosi tertentu (Bormann, Kischkel, Vilsmeier, & Baude, 1995) atau ketika diminta mencocokkan gambar menurut ekspresi wajah (Celani dkk., 1999). Ini menunjukkan adanya permasaahan persepsi wajah secara umum, atau bisa juga dimaknai bahwa anak-anak dengan gangguan autis  tidak sensitif terhadap ekspresi emosi wajah orang lain.

Dawson dkk (1990) mengatakan bahwa anak-anak dengan gangguan autis mengalami gangguan afektif dalam berbagi pengalaman dengan orang lain.

 

Sandiwara Simbolik

Sandiwara simbolik artinya memberikan karakteristik yang hidup pada obyek-obyek yang tidak hidup (contoh, berpura-pura seolah sebuah boneka bisa berbicara) dan menggunakan satu obyek seolah obyek itu adalah benda lain (contoh, seolah sebuah balok adalah sebutir buah).  Tidak adanya kemampuan sandiwara pada usia 18 bulan  adalah salah atu gejala awal gangguan autis . Ketika anak dengan gangguan autis  mulai membangun bahasa,  sandiwara simbolik mereka meningkat (Amato, Barrow & Domingo, 1999); namun sandiwara simbolik mereka tetap saja tertinggal dibawah yang diharapkan (Amato dkk  dkk 1999; Rigure dkk., 1981)

 

Kemampuan Bahasa dan Komunikasi

Lee, Hobson, dan Chiat (1994) meneliti penggunaan kata ganti pada para remaja  dengan gangguan autis  dan meaporkan adanya kecenderungan  untuk menyebut si peneliti dan diri mereka sendiri berdasarkan nama dan bukan dengan kata ganti diri. Temuan ini menunjukkan bahwa walau kesulitan dengan kata gantidiri personal bisa menjadi kurang menonjol seiring waktu, tapi tetap ada seumur hidup mereka.

Percakapan dengan orang dengan autism ditandai dengan penggunaan detil yang tidak relevan daam pecakapan (contoh, menyebutkan tanggal dan usia ketika membicarakan peristiwa atau orang tertentu), kekerasan hati, berbicara berlebihan pada satu topik percakapan, perpindahan topik yang tidak semestinya, dan mengabaikan umpan pembicaraan yang dikemukakan oleh lawan bicara (Taber-Flushbrg, 1999, 2001; Easles, 1993). Cappas, Kehres, dan Sigman (1998) menemukan bahwa anak-anak dengan gangguan autis  menunjukkan kesulitan berkomunikasi dua arah karena tidak adanya daya tanggap terhadap pertanyaan dan komentar. Anak-anak dengan gangguan autis juga tidak banyak memberikan informasi spontan dibanding dengan anak-anak dengan kelambatan perkembangan lain dalam hal kemampuan bahasa. Easles (1993) berpendapat bahwa gangguan-gangguan fragmatis ini disebabkan oleh gangguan dalam memahami niat atau maksud orang lain selama percakapan.

 

Minat dan Perilaku Mengulang-Ulang

Anak-anak dengan gangguan autis seringkali terlibat dalam perilaku ritualistik yang abnormal. Turner (1999) mengatakan bahwa perilaku repetitif pada anak autis terdiri dari dua kategori perilaku: perilaku level-rendah yang ditandai dengan gerakan motor secara berulang-ulang, dan perilaku yang lebih kompleks dan tingkat-tinggi yang ditandai dengan dorongan untuk mengikuti rituinitas yang rinci dan minat-minat yang terbatas.

Perilaku mengulang-ulang  mungkin muncul sebagai suatu strategi penyelesaian (coping) untuk membantu individu-individu dengan gangguan autis  mengurangi kecemasan yang teramat sangat yang disebabkan oleh dunia sosial yang menakutkan atau tak terduga (Baron-Cohen, 1989). Namun, tingkat perilaku  stereotipe  dilaporkan menurun, dan bukan meningkat, seama periode interaksi sosial (Turner, 1999). Atau, sejumlah peneliti  menduga bahwa perilaku mengulang-ulang dalam altruisme  mungkin berhubungan dengan kerusakan kognitif pada gangguan autis , yang meliputi koherensi sentral, fungsi eksekutif, dan kemampuan abstraksi (Frith & Hoppe, 1994; Kinger, Lee, Bush, Klinger, & Crump, 2001; Ozonoff, Pennington, & Rogers, 1991; Turner, 1999).

Penerjemah Kedokteran www.bahasadokter.com

Leave a Reply