KEKERASAN SEKSUAL PADA ANAK

Perspektif Historis

Sejak jaman kekaisaran Bizantium,  meski hukum dan norma agama berlaku sangat ketat, kekerasan seksual terjadi juga pada semua kelas sosial, termasuk kelas penguasa (Lascaratos dan Poulakou-rebelakou 2000). Kelas penguasa melakukan hubungan incest dan melakukan pernikahan antar saudara untuk melanggengkan kekuasaan.

Sebelum abad tujuhbelas, kontak seksual dengan anak-anak belum dipandang sebagai tindakan kriminal. Pada usia 12 tahun anak dianggap sudah bisa dimintai persetujuan akivitas seksual, dan realitas perkembangan psikoseksual tidak diperhatikan sama sekali (Jackson 1993).  Pada abad kedelapanbelas dan sembilanbelas, kekerasan seksual pada anak semakin dipandang sebagai  kriminal atau tidak senonoh (Jackson, 1993).

Pada awal abad keduapuluh, hukum melarang melakukan incest (Jackson 1993). Kesadaran tentang kekerasan fisik pada anak meningkat pesat setelah publikasi paper ”Battered Child Syndrome” oleh Kempe dan kawan-kawan pada tahun 1962.

 

Epidemiologi

Sejumlah studi retrospektif telah menunjukkan bahwa 10%-25% anak perempuan telah menjadi korban kekerasan seksual dengan cara tertentu sebelum usia 18 tahun (Fergusson dkk. 1996b). Studi-studi lain menunjukkan bahwa sebanyak 34% (Whyatt dkk 1999)  perempuan dewasa telah menjadi korban kekerasan seksual sebelum usia 18 tahun. Usia korban anak-anak berkisar dari bayi sampai remaja. Usia yang paling  umum pada saat pertama terjadi kekerasan adalah antara 8 dan 11 tahun (Kempe 1978; Muram 2001).

Orang tua laki-laki  atau figur orang tua laki-laki  adalah pelaku kekerasan seksual yang paling umum (U.S. Department of Health and Human Services 2001). Perempuan  juga dilaporkan sebagai pelaku dalam sejumlah kecil kasus dan remaja juga menjadi pelaku pada 20% kasus (American Academy  of Pediatrics 1999).

Sejumlah survei retrospektif telah menemukan bahwa sebanyak 18% lelaki usia diatas 18 tahun mengaku telah menjadi korban kekerasan seksual saat masih anak-anak (Finklehor dkk 1999; Holmes dan Slap 1998). Anak laki-laki cenderung tidak mengungkapkan kekerasan yang dialaminya, terutama karena takut tidak dipercayai, takut pembalasan, atau takut stigma sosial dan  takut dianggap sebagai makhluk rentan (Holmes dan Slap 1998; Yates 1997). Pelaku kekerasan terhadap anak laki-laki adalah lelaki  dan tidak punya hubungan dengan si korban (Holmes dan Slap 1998). Ketika  pelakunya lelaki, remaja laki-laki  mungkin takut dianggap homoseksual, mungkin malu dengan implikasinya, sehingga cenderung tidak melaporkan  kejadian itu. Ini juga bisa memicu terjadinya perilaku agresif dan homofobia (Watkins dan Bentovim 1992). Studi-studi juga telah menunjukkan bahwa anak laki-laki yang mengalami kekerasan seksual cenderung menjadi homoseksual mereka di kemudian hari dibandingkan dengan anak laki-laki tanpa riwayat seperti itu (Fromuth dan Burkhart 1989).

 

Etiologi

Etiologi kekerasan seksual adalah multifaktor. Ayah sebagai pelaku bekecendeungan lebih besar memiliki riwayat pekerjaan yang tidak stabil, menggunakan alkohol, dan secara seksual dan emosional ditolak oleh pasangan (Yates 1997).  Ayah yang cabul terus mencari pelampiasan pada anak perempuan  sebagai alternatif (Mrazek dan Mrazek 1981; Schetky dan Green 1988).  Karena selingkuh tidak memungkinkan menurut pandangan agama dan masyarakat, pelaku terdorong orang untuk memilih  kekerasan seksual dalam keluarga (Yates 1997).

Keluarga dengan orang tua dan pola pengasuhan yang tidak baik  cenderung melakukan kekerasan seksual. Faktor penyebabnya diantaranya adalah ikatan keluarga yang retak, meningkatnya frekuensi perceraian,  orang tua  yang dulunya dibesarkan oleh ayah tiri,  dan orang tua terlibat dalam kejahatan  (Ferguson dkk. 1996b)

Diyakini bahwa pelaku kekerasan dulunya adalah korban kekerasan juga. Sebuah studi mengindikasikan bahwa 35% pelaku laki-laki dulunya korban kekerasan, dan kecenderungan korban laki-laki menjadi pelaku meningkat bila pelaku kekerasan dulunya adalah kerabat perempuan (Glasser dkk 2001). Ibu yang mengalami kekerasan ketika kanak-kanak  mungkin secara tidak sadar  menciptakan  ulang skenario kekerasan dengan mengalihkan peran-peran orangtua pada seorang anak perempuan,  yang pada akhirnya menjadi terlibat hubungan incest dengan ayah (Yates 1997).

Penerjemah Kedokteran www.bahasadokter.com

Leave a Reply