MENGAPA ANAK AGRESIF?

Ketika seorang anak merebut bola dari anak lain, yang diinginkan hanyalah bolanya, tidak ada maksud untuk melukai orang lain. Ini disebut agresi instrumental, atau agresi yang digunakan sebagai instrumen untuk mencapai suatu tujuan. Ini biasa terjadi  pada anak usia 2,5 sampai 5 tahun.

Antara usia 2 dan 4 tahun, anak mengembangkan konsep pengendalian-diri dan setelah menjadi lebih mampu mengungkapkan diri secara verbal, mereka biasanya mengubah tindakan agresi dari memukul menjadi menggunakan kata-kata (Coie & Dodge, 1998). Pada usia 6 atau 7 tahun, sebagian besar anak menjadi tidak terlalu agresif dan menjadi lebih kooperatif, tidak terlalu egosentris, lebih berempati, dan lebih mampu berkomunikasi, memahami perasaan dan tindakan orang lain, dan lebih mampu mengembangkan cara-cara mengungkapkan diri yang lebih positif. Namun, ketika secara keseluruhan agresi menurun, agresi permusuhan (tindakan yang dimaksudkan untuk melukai orang lain), cenderung meningkat (Coie & Dodge, 1998).

Sejak bayi, anak laki-laki berkecenderungan lebih besar merebut apa pun dari anak lain. Ketika anak mulai bicara, anak perempuan cenderung lebih mengandalkan kata-kata untuk memprotes dan menyelesaikan konflik (Coie & Dodge, 1998). Namun, anak perempuan bisa juga lebih agresif dibanding kelihatannya. Hanya saja mereka menunjukkan agresivitas dengan cara yang berbeda (McNeilly-Choque, Hart, Robinson, Nelson, & Olsen, 1996; Putallaz & Bierman, 2004). Anak laki-laki menunjukkan agresi terbuka, baik itu intrumental atau permusuhan.

Agresi terbuka, baik itu agresi fisik maupun  verbal, ditujukan secara terbuka pada sasarannya. Anak perempuan cenderung menggunakan agresi relasional (yang juga disebut agresi tertutup atau agresi sosial). Agresi ini berupa usaha merusak atau mengganggu hubungan, reputasi, atau psikologi, seringkali melalui ejekan, manipulasi, atau upaya mengendalikan. Bisa juga dalam bentuk menyebarkan kabar burung, merendahkan, atau mengucilkan seseorang dari suatu kelompok atau tim.

Sumber Agresi

Biologi dan temperamen diduga sebagai sumber agresi. Anak yang sangat emosional dan kendali dirinya rendah cenderung mengekspresikan kemarahan secara agresif (Eisenberg, Fabes, Nyman, Bernzweig, & Pinelas, 1994). Perilaku agresif cenderung terpupuk sejak masa kanak-kanak oleh lingkungan keluarga yang penuh tekanan dan tidak merangsang, disiplin yang keras, tidak ada kehangatan ibu dan dukungan sosial, berhadapan dengan orang dewasa yang agresif, kekerasan di lingkungan, dan kelompok-kelompok pergaulan yang sifatnya sementara, yang mencegah terbangunnya hubungan yang stabil.

Rasa tidak aman terpisah dari ibu dan tidak adanya kehangatan dan kasih sayang ibu pada masa bayi menjadi prediktor tumbuhnya agresivitas pada masa kanak-kanak (Coie & Dodge, 1998; MacKinnon-Lewis, Starnes, Volling, & Johnson, 1997). Hubungan negatif antara orang tua dan anak juga memunculkan konflik antar saudara yang destruktif dan berkepenjangan, dimana anak-anak menirukan permusuhan yang dilakukan orang tua.

Pemicu Agresi

Berhadapan dengan kekerasan bisa memicu agresi. Orang tua bisa meringankan efek frustrasi dengan mencontohkan perilaku yang nonagresif. Televisi menjadi kekuatan yang luar biasa dalam memberi contoh perilaku yang prososial atau perilaku agresi.

Ketika seorang anak merebut bola dari anak lain, yang diinginkan hanyalah bolanya, tidak ada maksud untuk melukai orang lain. Ini disebut agresi instrumental, atau agresi yang digunakan sebagai instrumen untuk mencapai suatu tujuan. Ini biasa pada anak usia 2,5 sampai 5 tahun.

Antara usia 2 dan 4 tahun, anak mengembangkan konsep pengendalian-diri dan setelah menjadi lebih mampu mengungkapkan diri secara verbal, mereka biasanya mengubah tindakan agresi dari memukul menjadi menggunakan kata-kata (Coie & Dodge, 1998). Pada usia 6 atau 7 ahun, sebagian besar anak menjadi tidak terlalu agresif dan menjadi lebih kooperatif, tidak terlalu egosentris, lebih berempati, dan lebih mampu berkomunikasi, memahami perasaan dan tindakan oranglain, dan lebih mampu mengembangkan cara-cara mengungkapkan diri yang lebih positif. Namun, ketika secara keseluruhan agresi menurun, agresi permusuhan (tindakan yang dimaksudkan untuk melukai orang lain), cenderung meningkat (Coie & Dodge, 1998).

Sejak bayi, anak laki-laki berkecenderungan lebih besar merebut apa pun dari anak lain. Ketika anak mulai bicara, anak perempuan cenderung lebih mengandalkan kata-kata untuk memprotes dan menyelesaikan konflik (Coie & Dodge, 1998). Namun, anak perempuan bisa juga lebih agresif dibanding kelihatannya. Hanya saja mereka menunjukkan agresivitas dengan cara yang berbeda (McNeilly-Choque, Hart, Robinson, Nelson, & Olsen, 1996; Putallaz & Bierman, 2004). Anak laki-laki menunjukkan agresi terbuka, baik itu intrumental atau permusuhan.

Agresi terbuka, baik itu agresi fisik maupun  verbal, ditujukan secara terbuka pada sasarannya. Anak perempuan cenderung menggunakan agresi relasional (yang juga disebut agresi tertutup atau agresi sosial). Agresi ini berupa usaha merusak atau mengganggu hubungan, reputasi, atau psikologi, seringkali melalui ejekan, manipulasi, atau upaya mengendalikan. Bisa juga dalam bentuk menyebarkan kabar burung, merendahkan, atau mengucilkan seseorang dari suatu kelompok atau tim.

Sumber Agresi

Biologi dan temperamen diduga sebagai sumber agresi. Anak yang sangat emosional dan kendali dirinya rendah cenderung mengekspresikan kemarahan secara agresif (Eisenberg, Fabes, Nyman, Bernzweig, & Pinelas, 1994). Perilaku agresif cenderung terpupuk sejak masa kanak-kanak oleh lingkungan keluarga yang penuh tekanan dan tidak merangsang, disiplin yang keras, tidak ada kehangatan ibu dan dukungan sosial, berhadapan dengan orang dewasa yang agresif, kekerasan di lingkungan, dan kelompok-kelompok pergaulan yang sifatnya sementara, yang mencegah terbangunnya hubungan yang stabil.

Rasa tidak aman terpisah dari ibu dan tidak adanya kehangatan dan kasih sayang ibu pada masa bayi menjadi prediktor tumbuhnya agresivitas pada masa kanak-kanak (Coie & Dodge, 1998; MacKinnon-Lewis, Starnes, Volling, & Johnson, 1997). Hubungan negatif antara orang tua dan anak juga memunculkan konflik antar saudara yang destruktif dan berkepenjangan, dimana anak-anak menirukan permusuhan yang dilakukan orang tua.

Pemicu Agresi

Berhadapan dengan kekerasan bisa memicu agresi. Orang tua bisa meringankan efek frustrasi dengan mencontohkan perilaku yang nonagresif. Televisi menjadi kekuatan yang luar biasa dalam memberi contoh perilaku yang prososial atau perilaku agresi.

 

Pengaruh Budaya

Di Jepang, kemarahan dan agresi bertentangan dengan budaya keharmonisan. Ibu-ibu Jepang berkecenderungan lebih besar dibanding ibu-ibu AS dalam menggunakan disiplin induktif (memberi alasan), dengan menunjukkan bagaimana perilaku agresif melukai orang lain. Ibu-ibu Jepang menunjukkan ketidaksetujuan pada anak mereka ketika anak-anak tidak memenuhi standar perilaku ynag ditetapkan. Namun, perbedaan antar-budaya pada kemarahan dan agresivitas anak tetap signifikan meskipun terlepas dari pengaruh perilaku ibu, yang menunjukkan bahwa perbedaan temperamen juga berpengaruh (Zahn-Waxter et al, 1996).

 

Supriyono Suroso

Sumber: Terjemahan dari “PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL PADA ANAK”

Leave a Reply