MENGAPA ANAK CEMAS

Ciri esensial fobia sosial  adalah ketakutan terhadap satu situasi sosial yang dikawatirkan akan membuatnya malu.  Karena keterbatasan perkembangan kognitif,  anak-anak dan remaja ini tidak menyadari bahwa rasa takut ini tidak masuk akal dan berlebihan.  Pada anak-anak dan remaja, gejala-gejala itu harus ada paling tidak 6 bulan  berturut-turut dan menyebabkan terganggunya fungsi atau ketegangan, sebelum didiagnosis mengalami fobia sosial.

Fobia sosial juga mencakup rasa takut terhadap situasi-situasi dimana orang dihadapkan pada orang lain yang belum dikenalnya.

Anak-anak dan remaja dengan fobia sosial seringkali hanya memiliki sedikit teman, dan enggan mengikuti kegiatan-kegiatan kelompok, merasa kesepian (Beidel, Tuner, & Morris, 1999; La Greca, 2001) dan diangap lebih pemalu dan pendiam oleh orang tua dan teman-teman. Di sekolah, mereka sangat takut dengan berbagai situasi, termasuk takut membaca keras atau berbicara di kelas, takut meminta guru membantu, takut bertemu teman tanpa diduga,  takut mengikuti acara gym, takut bekerja dalam tim, takut mengikut tes, dan takut makan di kafetaria (Beidel dkk., 1999; Hofmann dkk., 1999). Anak-anak dengan fobia sosial  seringkali disebut ”penyendiri”.

Anak-anak kecil  dengan gangguan fobia sosial ini menghindar dari pertemuan keluarga, mengindar menjawab telepon atau membukakan pintu, dan malu ketika bertemu teman atau anggota keluarga. Anak-anak yang lebih besar menolak memesan sendiri makanannya di restoran. Remaja dengan fobia sosial  tidak bisa memenuhi tantangan perkembangan sesuai dengan remaja pada umurnya seperti berkencan dan mencari pekerjaan.

Dalam situasi yang ditakuti, anak dengan fobia sosial akan selalu merasa takut, takut dinilai negatif, dan takut ditolak. Pikiran mereka ditandai fokus-diri negatif dan merendahkan-diri, dan disertai dengan gejala-gejala otonomi dan sensasi (Albano, 1995; DiBartolo, Heimberg, & Barlow, 1995; Beidel dkk., 1999; Spence, Donovan & Brechman-Toussaint 1999). Keluhan sakit perut dan sakit-sakit lain adalah lazim, khususnya pada anak-anak yang lebih kecil. Anak-anak yang lebih besar dan remaja menunjukkan manifestasi fisik seperti kecemasan, sama dengan fobia sosial pada orang dewasa.

Perilaku anak-anak kecil mungkin termanfestasi pada terus menerus minta gandeng dan menangis, sedangkan anak-anak yang lebih besar cenderung menghindari kontak  sosial dan menghindari menjadi fokus perhatian.

Fobia sosial adalah gangguan yang paling sering didiagnose pada remaja tapi sebenarnya terjadi lebih awal  pada masa kanak-kanak (Beidel dkk., 1999; Vasey, 1995).

 

Penerjemah Kedokteran www.bahasadokter.com

Leave a Reply