MENGAPA ANAK PENAKUT

Fobia spesifik adalah rasa takut yang sangat kentara dan persisten atas suatu obyek atau situasi; rasa takut ini tidak berhubungan dengan rasa takut malu saat berhadapan di depan publik (fobia sosial) atau rasa takut mengalami serangan panik (gangguan panik).

Reaksi fobia sangat berlebihan dan tidak proporsional dengan situasinya, terjadi tanpa dikehendaki, mengarah ke penghindaran, berlangsung sepanjang waktu, dan maladaptif.

Fobia spesifik yang umum pada anak-anak diantaranya adalah takut pada ketinggian, kegelapan, suara keras (termasuk guntur), suntikan, serangga, anjing, dan binatang-binatang kecil lain (Essau dkk., 2000; King, 1993; Silverman & Rabian, 1993; Strauss & Last, 1993).

Anak dianggap mengalami fobia spesifik terhadap sekolah bila rasa takut itu diarahkan pada situasi yang berhubungan dengan sekolah (misanya, latihan memadamkan kebakaran) dan bukan karena takut malu atas penghinaan (fobia sosial).  Respon anak-anak fobia diwujudan pada tiga komponen kecemasan (kognitif, perilaku, dan fisiologis). Kognisi anak-anak yang fobia ditandai dengan prediksi akan terjadinya bencana. Yang paling umum adalah takut akan ancaman bagi keselamatan pribadi, seperti takut digigit oleh anjing, disambar petir, atau digigit serangga.

Menghindar adalah  respon yang paling dominan pada anak-anak yang mengalami fobia spesifik. Menghindar bisa berbentuk menjerit, menangis, atau bersembunyi  karena takut akan menghadapi stimulus yang menyakitkan. Ketika kontak dengan stimulus fobia tak bisa dihindari, minta gendong dan merengek pada orang tua adalah hal yang biasa.

Perilaku menghindar yang signifikan berhubungan dengan  intensitas rasa takut dan derajad  pengaruh pada fungsi (Siverman & Rabian, 1993). Anak-anak dengan fobia spesifik  melaporkan gejala-gejala fisiologis yang sesuai dengan sensasi panik. Termasuk detak jantung cepat, berkeringat, hiperventilasi, mules, dan lemah.

 

Gejala-Gejala Terkait

Biasanya, anak dengan fobia spesifik mendapatkan perawatan setelah intensias fobianya menyebabkan gangguan yang signifikan pada rutinitas dan fungsi normal dalam keluarga.

Intensitas perilaku seperti itu mencerminkan tingginya tekanan yang dialami oleh anak dan memperburuk frustrasi dan ketidakberdayaan pada orang tua. Essau dkk., (2000) melaporkan depresi dan gejala-gejala somatik sebagai ciri-ciri yang paling umum dijumpai dalam fobia spesifik pada remaja.

Respon fisiologis ditandai dengan percepatan detak jantung, yang diikuti oleh penurunan detak jantung dan penurunan tekanan darah. Pada kasus-kasus yang berat, anak-anak dan remaja yang menunjukkan respon ini bisa pingsan setelah berhadapan dengan stimuli yang mengingatkan mereka tentang  darah atau cedera.

 

Penerjemah Kedokteran www.bahasadokter.com

Leave a Reply