DAMPAK BURUK KEKERASAN FISIK

Kapasitas anak yang mengalami kekerasan untuk menekan atau mengingkari rasa sakitnya sendiri dan rasa sakit anak lain, ketidakmampuan mereka untuk mengungkapkan perasaan, labil dan impulsifitas mereka, distorsi mereka terhadap realitas, persepsi mereka terhadap ancaman dimana sebenarnya tidak ada ancaman, dan kecenderungan mereka  untuk mengungkapkan kemarahan dengan tindakan dan bukan dengan kata-kata bisa menjadi suatu gaya adaptasional yang berlangsung terus menerus.

Salzinger dkk (1993)  menemukan bahwa anak-anak yang mengalami kekerasan lebih tidak disukai dan tidak populer dibanding anak-anak yang tidak mengalami kekerasan. Mereka cenderung tidak akrab, lebih banyak konflik, dan afeksi negatif dengan teman bila dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mengalami kekerasan (Parker dan Herrera 1996).

Kapasitas anak yang mengalami kekerasan untuk menekan atau mengingkari rasa sakitnya sendiri dan rasa sakit anak lain, ketidakmampuan mereka untuk mengungkapkan perasaan, labil dan impulsifitas mereka, distorsi mereka terhadap realitas, persepsi mereka terhadap ancaman dimana sebenarnya tidak ada ancaman, dan kecenderungan mereka  untuk mengungkapkan kemarahan dengan tindakan dan bukan dengan kata-kata bisa menjadi suatu gaya adaptasional yang berlangsung terus menerus.  

Salzinger dkk (1993)  menemukan bahwa anak-anak yang mengalami kekerasan lebih tidak disukai dan tidak populer dibanding anak-anak yang tidak mengalami kekerasan. Mereka cenderung tidak akrab, lebih banyak konflik, dan afeksi negatif dengan teman bila dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mengalami kekerasan (Parker dan Herrera 1996).

 

Agresi

Akibat kekerasan yang paling sering adalah agresi. Anak-anak prasekolah yang mengalami kekerasan menunjukkan perilaku agresif lebih sering dibanding teman-temannya (Klimes-Dougan dan Kistner 1990), dan mereka seringkali menuduh temannya berniat jahat (Dodge dkk. 1990). Anak-anak yang mengalami kekerasan juga berisiko melakukan kejahatan pada saat remaja (Herrenkohl dkk 1997) dan saat dewasa (Widom 1989).  Remaja yang memiliki riwayat kekerasan jga lebih banyak melakukan agresi pada teman-temannya  dan dalam berpacaran (Wolfe dkk 1998).

Etiologi agresi ini adalah kompleks,  dimana lingkungan diyakini memainkan peran besar. Mekanisme pertahanan patologis mungkin juga berperan, termasuk identifikasi dengan si agresor.  Diyakini bahwa memberikan rasa sakit secara berulang-ulang bisa menumbuhkan agresi, seperti yang terjadi pada pelatihan anjing aduan dan banteng (Berkowitz 1984). Lewis (1996) mengatakan bahwa pengalaman kekerasan menjadi contoh bagi terjadinya kekerasan, mengajarkan agresi melalui penguatan, menimbulkan rasa sakit, dan cedera menyebabkan sistem syaraf pusat yang berhubungan dengan impulsivitas, ketidakstabilan emosi, dan gangguan dalam membuat penilaian. Pengalaman ini juga menciptakan rasa terancam dan sehingga meningkatkan paranoia dan menurunkan kapasitas si anak untuk mengenali perasaan-perasaan dan anak tak mampu mengungkapkannya dengan kata-kata, tapi dengan tindakan.

Kapasitas anak yang mengalami kekerasan untuk menekan atau mengingkari rasa sakitnya sendiri dan rasa sakit anak lain, ketidakmampuan mereka untuk mengungkapkan perasaan, labil dan impulsifitas mereka, distorsi mereka terhadap realitas, persepsi mereka terhadap ancaman dimana sebenarnya tidak ada ancaman, dan kecenderungan mereka  untuk mengungkapkan kemarahan dengan tindakan dan bukan dengan kata-kata bisa menjadi suatu gaya adaptasional yang berlangsung terus menerus.  

Salzinger dkk (1993)  menemukan bahwa anak-anak yang mengalami kekerasan lebih tidak disukai dan tidak populer dibanding anak-anak yang tidak mengalami kekerasan. Mereka cenderung tidak akrab, lebih banyak konflik, dan afeksi negatif dengan teman bila dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mengalami kekerasan (Parker dan Herrera 1996).

 

Agresi

Akibat kekerasan yang paling sering adalah agresi. Anak-anak prasekolah yang mengalami kekerasan menunjukkan perilaku agresif lebih sering dibanding teman-temannya (Klimes-Dougan dan Kistner 1990), dan mereka seringkali menuduh temannya berniat jahat (Dodge dkk. 1990). Anak-anak yang mengalami kekerasan juga berisiko melakukan kejahatan pada saat remaja (Herrenkohl dkk 1997) dan saat dewasa (Widom 1989).  Remaja yang memiliki riwayat kekerasan jga lebih banyak melakukan agresi pada teman-temannya  dan dalam berpacaran (Wolfe dkk 1998).

Etiologi agresi ini adalah kompleks,  dimana lingkungan diyakini memainkan peran besar. Mekanisme pertahanan patologis mungkin juga berperan, termasuk identifikasi dengan si agresor.  Diyakini bahwa memberikan rasa sakit secara berulang-ulang bisa menumbuhkan agresi, seperti yang terjadi pada pelatihan anjing aduan dan banteng (Berkowitz 1984). Lewis (1996) mengatakan bahwa pengalaman kekerasan menjadi contoh bagi terjadinya kekerasan, mengajarkan agresi melalui penguatan, menimbulkan rasa sakit, dan cedera menyebabkan sistem syaraf pusat yang berhubungan dengan impulsivitas, ketidakstabilan emosi, dan gangguan dalam membuat penilaian. Pengalaman ini juga menciptakan rasa terancam dan sehingga meningkatkan paranoia dan menurunkan kapasitas si anak untuk mengenali perasaan-perasaan dan anak tak mampu mengungkapkannya dengan kata-kata, tapi dengan tindakan.

 

Penyalahgunaan Obat dan Perilaku Melukai-Diri

Anak-anak akan memilih perilaku-perilaku  yang mempermudah disosiasi yang dimediasi-opioid, seperti memukul, membenturkan kepala, dan mutilasi-diri, yang mana stimuli rasa sakit ini mengaktifkan opiate endogen pada otak.   Anak-anak yang mengalami kekerasan  juga cenderung menyalahgunakan obat. Alkohol berfungsi mengurangi kecemasan, opium memicu disosiasi yang menenangkan, dan stimulant seperti kokain mengaktifkan wilayah dopaminergic reward mesolimbic  pada anak-anak yang tak pernah mendapatkan pujian tulus dalam hidupnya (Perry dan Pollard 1998).

Kapasitas anak yang mengalami kekerasan untuk menekan atau mengingkari rasa sakitnya sendiri dan rasa sakit anak lain, ketidakmampuan mereka untuk mengungkapkan perasaan, labil dan impulsifitas mereka, distorsi mereka terhadap realitas, persepsi mereka terhadap ancaman dimana sebenarnya tidak ada ancaman, dan kecenderungan mereka  untuk mengungkapkan kemarahan dengan tindakan dan bukan dengan kata-kata bisa menjadi suatu gaya adaptasional yang berlangsung terus menerus.  

Salzinger dkk (1993)  menemukan bahwa anak-anak yang mengalami kekerasan lebih tidak disukai dan tidak populer dibanding anak-anak yang tidak mengalami kekerasan. Mereka cenderung tidak akrab, lebih banyak konflik, dan afeksi negatif dengan teman bila dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mengalami kekerasan (Parker dan Herrera 1996).

 

Agresi

Akibat kekerasan yang paling sering adalah agresi. Anak-anak prasekolah yang mengalami kekerasan menunjukkan perilaku agresif lebih sering dibanding teman-temannya (Klimes-Dougan dan Kistner 1990), dan mereka seringkali menuduh temannya berniat jahat (Dodge dkk. 1990). Anak-anak yang mengalami kekerasan juga berisiko melakukan kejahatan pada saat remaja (Herrenkohl dkk 1997) dan saat dewasa (Widom 1989).  Remaja yang memiliki riwayat kekerasan jga lebih banyak melakukan agresi pada teman-temannya  dan dalam berpacaran (Wolfe dkk 1998).

Etiologi agresi ini adalah kompleks,  dimana lingkungan diyakini memainkan peran besar. Mekanisme pertahanan patologis mungkin juga berperan, termasuk identifikasi dengan si agresor.  Diyakini bahwa memberikan rasa sakit secara berulang-ulang bisa menumbuhkan agresi, seperti yang terjadi pada pelatihan anjing aduan dan banteng (Berkowitz 1984). Lewis (1996) mengatakan bahwa pengalaman kekerasan menjadi contoh bagi terjadinya kekerasan, mengajarkan agresi melalui penguatan, menimbulkan rasa sakit, dan cedera menyebabkan sistem syaraf pusat yang berhubungan dengan impulsivitas, ketidakstabilan emosi, dan gangguan dalam membuat penilaian. Pengalaman ini juga menciptakan rasa terancam dan sehingga meningkatkan paranoia dan menurunkan kapasitas si anak untuk mengenali perasaan-perasaan dan anak tak mampu mengungkapkannya dengan kata-kata, tapi dengan tindakan.

 

Penyalahgunaan Obat dan Perilaku Melukai-Diri

Anak-anak akan memilih perilaku-perilaku  yang mempermudah disosiasi yang dimediasi-opioid, seperti memukul, membenturkan kepala, dan mutilasi-diri, yang mana stimuli rasa sakit ini mengaktifkan opiate endogen pada otak.   Anak-anak yang mengalami kekerasan  juga cenderung menyalahgunakan obat. Alkohol berfungsi mengurangi kecemasan, opium memicu disosiasi yang menenangkan, dan stimulant seperti kokain mengaktifkan wilayah dopaminergic reward mesolimbic  pada anak-anak yang tak pernah mendapatkan pujian tulus dalam hidupnya (Perry dan Pollard 1998).

 

Gangguan ADHD

Studi menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja yang mengalami kekerasan  menunjukkanp revalensi yang lebih tinggi mengalami gangguan ADHD. Adalah mungkin bahwa anak yang mengalami ADHD  berkecenderungan lebih besar  memprovokasi adanya perilaku kekerasan pada orang dewasa. Orang tua yang impulsif bisa juga secara genetik menurunkan ADHD kepada anak-anak mereka. Namun bisa juga trauma kekerasan itu sendiri menjadi penyebab terjadinya ADHD (Famularo dkk 1992; Kaplan dkk 1994).

Kapasitas anak yang mengalami kekerasan untuk menekan atau mengingkari rasa sakitnya sendiri dan rasa sakit anak lain, ketidakmampuan mereka untuk mengungkapkan perasaan, labil dan impulsifitas mereka, distorsi mereka terhadap realitas, persepsi mereka terhadap ancaman dimana sebenarnya tidak ada ancaman, dan kecenderungan mereka  untuk mengungkapkan kemarahan dengan tindakan dan bukan dengan kata-kata bisa menjadi suatu gaya adaptasional yang berlangsung terus menerus.  

Salzinger dkk (1993)  menemukan bahwa anak-anak yang mengalami kekerasan lebih tidak disukai dan tidak populer dibanding anak-anak yang tidak mengalami kekerasan. Mereka cenderung tidak akrab, lebih banyak konflik, dan afeksi negatif dengan teman bila dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mengalami kekerasan (Parker dan Herrera 1996).

 

Agresi

Akibat kekerasan yang paling sering adalah agresi. Anak-anak prasekolah yang mengalami kekerasan menunjukkan perilaku agresif lebih sering dibanding teman-temannya (Klimes-Dougan dan Kistner 1990), dan mereka seringkali menuduh temannya berniat jahat (Dodge dkk. 1990). Anak-anak yang mengalami kekerasan juga berisiko melakukan kejahatan pada saat remaja (Herrenkohl dkk 1997) dan saat dewasa (Widom 1989).  Remaja yang memiliki riwayat kekerasan jga lebih banyak melakukan agresi pada teman-temannya  dan dalam berpacaran (Wolfe dkk 1998).

Etiologi agresi ini adalah kompleks,  dimana lingkungan diyakini memainkan peran besar. Mekanisme pertahanan patologis mungkin juga berperan, termasuk identifikasi dengan si agresor.  Diyakini bahwa memberikan rasa sakit secara berulang-ulang bisa menumbuhkan agresi, seperti yang terjadi pada pelatihan anjing aduan dan banteng (Berkowitz 1984). Lewis (1996) mengatakan bahwa pengalaman kekerasan menjadi contoh bagi terjadinya kekerasan, mengajarkan agresi melalui penguatan, menimbulkan rasa sakit, dan cedera menyebabkan sistem syaraf pusat yang berhubungan dengan impulsivitas, ketidakstabilan emosi, dan gangguan dalam membuat penilaian. Pengalaman ini juga menciptakan rasa terancam dan sehingga meningkatkan paranoia dan menurunkan kapasitas si anak untuk mengenali perasaan-perasaan dan anak tak mampu mengungkapkannya dengan kata-kata, tapi dengan tindakan.

 

Penyalahgunaan Obat dan Perilaku Melukai-Diri

Anak-anak akan memilih perilaku-perilaku  yang mempermudah disosiasi yang dimediasi-opioid, seperti memukul, membenturkan kepala, dan mutilasi-diri, yang mana stimuli rasa sakit ini mengaktifkan opiate endogen pada otak.   Anak-anak yang mengalami kekerasan  juga cenderung menyalahgunakan obat. Alkohol berfungsi mengurangi kecemasan, opium memicu disosiasi yang menenangkan, dan stimulant seperti kokain mengaktifkan wilayah dopaminergic reward mesolimbic  pada anak-anak yang tak pernah mendapatkan pujian tulus dalam hidupnya (Perry dan Pollard 1998).

 

Gangguan ADHD

Studi menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja yang mengalami kekerasan  menunjukkanp revalensi yang lebih tinggi mengalami gangguan ADHD. Adalah mungkin bahwa anak yang mengalami ADHD  berkecenderungan lebih besar  memprovokasi adanya perilaku kekerasan pada orang dewasa. Orang tua yang impulsif bisa juga secara genetik menurunkan ADHD kepada anak-anak mereka. Namun bisa juga trauma kekerasan itu sendiri menjadi penyebab terjadinya ADHD (Famularo dkk 1992; Kaplan dkk 1994).

 

Depresi dan Bunuh Diri

Bayi-bayi yang mengalami kekerasan rentan terhadap affective withdrawal, penurunan kapasitas untuk menikmati kesenangan, dan kecenderungan untuk menunjukkan afeksi negatif seperti kesedihan dan tertekan (Green 1997). Depresi mayor atau dysthymia juga dijumpai pada 27% anak dengan usia latensi yang mengalami kekerasan (Green 1997). Sekitar 8% anak dan remaja dengan kekerasan fisik didiagnosis mengalami gangguan depresi mayor, 40% mengalami gangguan depresi mayor seumur hidupnya, dan paling tidak 30% mengalami gangguan disruptif seumur hidupnya (ODD atau gangguan perilaku). Depresi bisa jadi merupakan akibat dari kekerasan atau bisa juga mengakibatkan anak menjadi lebih rentan terhadap kekerasan.

Studi telah melaporkan adanya hubungan antara kekerasan fisik pada masa kanak-kanak dan perilaku bunuh diri serta mengambil risiko (Kaplan dkk 1999). Green (1997) melaporkan  mutilasi-diri dan niat dan upaya bunuh diri  pada anak-anak  yang disebabkan oleh ketakutan dipukul oleh orang tua atau karena merasa terancam ditelantarkan oleh pemberi asuhan. Mengambil risiko mengakibatkan meningkatnya risiko menjadi orang tua saat masih usia remaja serta terpapar pada virus HIV dan penyakit-penyakit yang ditularkan secara seksual (Kaplan dkk 1999).

Kapasitas anak yang mengalami kekerasan untuk menekan atau mengingkari rasa sakitnya sendiri dan rasa sakit anak lain, ketidakmampuan mereka untuk mengungkapkan perasaan, labil dan impulsifitas mereka, distorsi mereka terhadap realitas, persepsi mereka terhadap ancaman dimana sebenarnya tidak ada ancaman, dan kecenderungan mereka  untuk mengungkapkan kemarahan dengan tindakan dan bukan dengan kata-kata bisa menjadi suatu gaya adaptasional yang berlangsung terus menerus.  

Salzinger dkk (1993)  menemukan bahwa anak-anak yang mengalami kekerasan lebih tidak disukai dan tidak populer dibanding anak-anak yang tidak mengalami kekerasan. Mereka cenderung tidak akrab, lebih banyak konflik, dan afeksi negatif dengan teman bila dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mengalami kekerasan (Parker dan Herrera 1996).

 

Agresi

Akibat kekerasan yang paling sering adalah agresi. Anak-anak prasekolah yang mengalami kekerasan menunjukkan perilaku agresif lebih sering dibanding teman-temannya (Klimes-Dougan dan Kistner 1990), dan mereka seringkali menuduh temannya berniat jahat (Dodge dkk. 1990). Anak-anak yang mengalami kekerasan juga berisiko melakukan kejahatan pada saat remaja (Herrenkohl dkk 1997) dan saat dewasa (Widom 1989).  Remaja yang memiliki riwayat kekerasan jga lebih banyak melakukan agresi pada teman-temannya  dan dalam berpacaran (Wolfe dkk 1998).

Etiologi agresi ini adalah kompleks,  dimana lingkungan diyakini memainkan peran besar. Mekanisme pertahanan patologis mungkin juga berperan, termasuk identifikasi dengan si agresor.  Diyakini bahwa memberikan rasa sakit secara berulang-ulang bisa menumbuhkan agresi, seperti yang terjadi pada pelatihan anjing aduan dan banteng (Berkowitz 1984). Lewis (1996) mengatakan bahwa pengalaman kekerasan menjadi contoh bagi terjadinya kekerasan, mengajarkan agresi melalui penguatan, menimbulkan rasa sakit, dan cedera menyebabkan sistem syaraf pusat yang berhubungan dengan impulsivitas, ketidakstabilan emosi, dan gangguan dalam membuat penilaian. Pengalaman ini juga menciptakan rasa terancam dan sehingga meningkatkan paranoia dan menurunkan kapasitas si anak untuk mengenali perasaan-perasaan dan anak tak mampu mengungkapkannya dengan kata-kata, tapi dengan tindakan.

 

Penyalahgunaan Obat dan Perilaku Melukai-Diri

Anak-anak akan memilih perilaku-perilaku  yang mempermudah disosiasi yang dimediasi-opioid, seperti memukul, membenturkan kepala, dan mutilasi-diri, yang mana stimuli rasa sakit ini mengaktifkan opiate endogen pada otak.   Anak-anak yang mengalami kekerasan  juga cenderung menyalahgunakan obat. Alkohol berfungsi mengurangi kecemasan, opium memicu disosiasi yang menenangkan, dan stimulant seperti kokain mengaktifkan wilayah dopaminergic reward mesolimbic  pada anak-anak yang tak pernah mendapatkan pujian tulus dalam hidupnya (Perry dan Pollard 1998).

 

Gangguan ADHD

Studi menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja yang mengalami kekerasan  menunjukkanp revalensi yang lebih tinggi mengalami gangguan ADHD. Adalah mungkin bahwa anak yang mengalami ADHD  berkecenderungan lebih besar  memprovokasi adanya perilaku kekerasan pada orang dewasa. Orang tua yang impulsif bisa juga secara genetik menurunkan ADHD kepada anak-anak mereka. Namun bisa juga trauma kekerasan itu sendiri menjadi penyebab terjadinya ADHD (Famularo dkk 1992; Kaplan dkk 1994).

 

Depresi dan Bunuh Diri

Bayi-bayi yang mengalami kekerasan rentan terhadap affective withdrawal, penurunan kapasitas untuk menikmati kesenangan, dan kecenderungan untuk menunjukkan afeksi negatif seperti kesedihan dan tertekan (Green 1997). Depresi mayor atau dysthymia juga dijumpai pada 27% anak dengan usia latensi yang mengalami kekerasan (Green 1997). Sekitar 8% anak dan remaja dengan kekerasan fisik didiagnosis mengalami gangguan depresi mayor, 40% mengalami gangguan depresi mayor seumur hidupnya, dan paling tidak 30% mengalami gangguan disruptif seumur hidupnya (ODD atau gangguan perilaku). Depresi bisa jadi merupakan akibat dari kekerasan atau bisa juga mengakibatkan anak menjadi lebih rentan terhadap kekerasan.

Studi telah melaporkan adanya hubungan antara kekerasan fisik pada masa kanak-kanak dan perilaku bunuh diri serta mengambil risiko (Kaplan dkk 1999). Green (1997) melaporkan  mutilasi-diri dan niat dan upaya bunuh diri  pada anak-anak  yang disebabkan oleh ketakutan dipukul oleh orang tua atau karena merasa terancam ditelantarkan oleh pemberi asuhan. Mengambil risiko mengakibatkan meningkatnya risiko menjadi orang tua saat masih usia remaja serta terpapar pada virus HIV dan penyakit-penyakit yang ditularkan secara seksual (Kaplan dkk 1999).

 

Gangguan Disosiasi

Anak-anak yang  mengalami disosiasi mungkin mengalami gejala-gejala psikotik pendek, sebagai contoh mendengar perintah melalui halusinasi. Relatif umum anak-anak yang mengalami kekerasan fisik berat mendengar suara-suara yang memerintahkan  mereka untuk melukai diri sendiri atau orang lain. Karena itu, mereka bisa disalahdiagnosis mengalami gangguan psikotik primer seperti skizofrenia.   Kadang-kadang anak-anak yang mengalami disosiasi ini disalahdiagnose  sebagai anak yang ’externalizing’, yaitu anak yang mengalami ADHD, ODD, atau gangguan kontrol impuls.

Kapasitas anak yang mengalami kekerasan untuk menekan atau mengingkari rasa sakitnya sendiri dan rasa sakit anak lain, ketidakmampuan mereka untuk mengungkapkan perasaan, labil dan impulsifitas mereka, distorsi mereka terhadap realitas, persepsi mereka terhadap ancaman dimana sebenarnya tidak ada ancaman, dan kecenderungan mereka  untuk mengungkapkan kemarahan dengan tindakan dan bukan dengan kata-kata bisa menjadi suatu gaya adaptasional yang berlangsung terus menerus.  

Salzinger dkk (1993)  menemukan bahwa anak-anak yang mengalami kekerasan lebih tidak disukai dan tidak populer dibanding anak-anak yang tidak mengalami kekerasan. Mereka cenderung tidak akrab, lebih banyak konflik, dan afeksi negatif dengan teman bila dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mengalami kekerasan (Parker dan Herrera 1996).

 

Agresi

Akibat kekerasan yang paling sering adalah agresi. Anak-anak prasekolah yang mengalami kekerasan menunjukkan perilaku agresif lebih sering dibanding teman-temannya (Klimes-Dougan dan Kistner 1990), dan mereka seringkali menuduh temannya berniat jahat (Dodge dkk. 1990). Anak-anak yang mengalami kekerasan juga berisiko melakukan kejahatan pada saat remaja (Herrenkohl dkk 1997) dan saat dewasa (Widom 1989).  Remaja yang memiliki riwayat kekerasan jga lebih banyak melakukan agresi pada teman-temannya  dan dalam berpacaran (Wolfe dkk 1998).

Etiologi agresi ini adalah kompleks,  dimana lingkungan diyakini memainkan peran besar. Mekanisme pertahanan patologis mungkin juga berperan, termasuk identifikasi dengan si agresor.  Diyakini bahwa memberikan rasa sakit secara berulang-ulang bisa menumbuhkan agresi, seperti yang terjadi pada pelatihan anjing aduan dan banteng (Berkowitz 1984). Lewis (1996) mengatakan bahwa pengalaman kekerasan menjadi contoh bagi terjadinya kekerasan, mengajarkan agresi melalui penguatan, menimbulkan rasa sakit, dan cedera menyebabkan sistem syaraf pusat yang berhubungan dengan impulsivitas, ketidakstabilan emosi, dan gangguan dalam membuat penilaian. Pengalaman ini juga menciptakan rasa terancam dan sehingga meningkatkan paranoia dan menurunkan kapasitas si anak untuk mengenali perasaan-perasaan dan anak tak mampu mengungkapkannya dengan kata-kata, tapi dengan tindakan.

 

Penyalahgunaan Obat dan Perilaku Melukai-Diri

Anak-anak akan memilih perilaku-perilaku  yang mempermudah disosiasi yang dimediasi-opioid, seperti memukul, membenturkan kepala, dan mutilasi-diri, yang mana stimuli rasa sakit ini mengaktifkan opiate endogen pada otak.   Anak-anak yang mengalami kekerasan  juga cenderung menyalahgunakan obat. Alkohol berfungsi mengurangi kecemasan, opium memicu disosiasi yang menenangkan, dan stimulant seperti kokain mengaktifkan wilayah dopaminergic reward mesolimbic  pada anak-anak yang tak pernah mendapatkan pujian tulus dalam hidupnya (Perry dan Pollard 1998).

 

Gangguan ADHD

Studi menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja yang mengalami kekerasan  menunjukkanp revalensi yang lebih tinggi mengalami gangguan ADHD. Adalah mungkin bahwa anak yang mengalami ADHD  berkecenderungan lebih besar  memprovokasi adanya perilaku kekerasan pada orang dewasa. Orang tua yang impulsif bisa juga secara genetik menurunkan ADHD kepada anak-anak mereka. Namun bisa juga trauma kekerasan itu sendiri menjadi penyebab terjadinya ADHD (Famularo dkk 1992; Kaplan dkk 1994).

 

Depresi dan Bunuh Diri

Bayi-bayi yang mengalami kekerasan rentan terhadap affective withdrawal, penurunan kapasitas untuk menikmati kesenangan, dan kecenderungan untuk menunjukkan afeksi negatif seperti kesedihan dan tertekan (Green 1997). Depresi mayor atau dysthymia juga dijumpai pada 27% anak dengan usia latensi yang mengalami kekerasan (Green 1997). Sekitar 8% anak dan remaja dengan kekerasan fisik didiagnosis mengalami gangguan depresi mayor, 40% mengalami gangguan depresi mayor seumur hidupnya, dan paling tidak 30% mengalami gangguan disruptif seumur hidupnya (ODD atau gangguan perilaku). Depresi bisa jadi merupakan akibat dari kekerasan atau bisa juga mengakibatkan anak menjadi lebih rentan terhadap kekerasan.

Studi telah melaporkan adanya hubungan antara kekerasan fisik pada masa kanak-kanak dan perilaku bunuh diri serta mengambil risiko (Kaplan dkk 1999). Green (1997) melaporkan  mutilasi-diri dan niat dan upaya bunuh diri  pada anak-anak  yang disebabkan oleh ketakutan dipukul oleh orang tua atau karena merasa terancam ditelantarkan oleh pemberi asuhan. Mengambil risiko mengakibatkan meningkatnya risiko menjadi orang tua saat masih usia remaja serta terpapar pada virus HIV dan penyakit-penyakit yang ditularkan secara seksual (Kaplan dkk 1999).

 

Gangguan Disosiasi

Anak-anak yang  mengalami disosiasi mungkin mengalami gejala-gejala psikotik pendek, sebagai contoh mendengar perintah melalui halusinasi. Relatif umum anak-anak yang mengalami kekerasan fisik berat mendengar suara-suara yang memerintahkan  mereka untuk melukai diri sendiri atau orang lain. Karena itu, mereka bisa disalahdiagnosis mengalami gangguan psikotik primer seperti skizofrenia.   Kadang-kadang anak-anak yang mengalami disosiasi ini disalahdiagnose  sebagai anak yang ’externalizing’, yaitu anak yang mengalami ADHD, ODD, atau gangguan kontrol impuls.

 

Gangguan Kecemasan dan Posttraumatic Stress Disorder

Green (1997) mendeskripsikan keadaan-keadaan kecemasan, gangguan tidur, mimpi buruk, dan keluhan-keluhan psikosomatik pada anak-anak yang mengalami kekerasan, dimana sebagian anak memenuhi kriteria  PTSD. Famularo dkk (1992)  melaporkan bahwa 39% anak yang mengalami kekerasan didiagnosis PTSD.

Talbott (2001) melaporkan bahwa anak-anak lebih sering menunjukkan perilaku tidak terorganisir atau perilaku agitatif dibandingkan rasa takut, tidak berdaya, dan takut sebagaimana yang dijumpai pada orang dewasa.

Pelcovitz dan kawan-kawan (1994) melaporkan bhwa anak-anak yang mengalami kekerasan fisik berisiko lebih tinggi mengalami kesulitan perilaku, emosional, dan sosial dibandingkan dengan anak-anak yang jelas-jelas mengalami PTSD.   Ini kontras dengan temuan Green (1997) yang mengatakan bahwa remaja yang mengalami kekerasan fisik berisiko mengalami PTSD.   Pelcovits dkk (1994) mengatakan bahwa remaja yang mengalami kekerasan fisik akan menerima akibat sebagai korban dan tidak menunjukkan reaksi terhadap kekerasan tersebut dalam bentuk gejala-gejala PTSD.   Ada perbedaan antara kekerasan fisik dan seksual, dimana kekerasan seksual seringkali dirahasiakan dan menimbulkan rasa malu, yang bisa memperkuat timbulnya gejala-gejala PTSD. Tanda-tanda eksternal kekerasan fisik, sepreti lebam dan memar atau fraktur bisa menumbuhkan dukungan, sehingga mempermudah pengintegrasian terhadap trauma.

Supriyono Suroso

Sumber: Terjemahan “Kekerasan Fisik pada Anak”

Leave a Reply