MANFAAT BERMAIN BAGI ANAK

Bermain adalah pekerjaan anak-anak kecil, dan merupakan bagian dari perkembangan mereka, bukan hanya sekedar hiburan. Melalui bermain,  anak merangsang indera, belajar menggunakan otot mereka,  mengkoordinasikan pandangan dengan gerakan, menguasai tubuh mereka, dan membangun kemampuan-kemampuan baru. Para peneliti mengkategorikan permainan anak berdasar isinya (apa yang dilakukan anak ketika mereka bermain) dan dimensi sosialnya (apakah mereka bermain sendiri atau dengan anak lain).

Jenis-Jenis Permainan

Permainan pura-pura adalah salah satu dari empat kategori bermain yang oleh Piaget dan kawan-kawan dianggap sebagai adanya peningkatan kompleksitas kognitif (piage, 1951; Smilansky, 1968). Bentuk yang paling sederhana, yang sudah dimulai sejak bayi, adalah ’permainan fungsional’ aktif yang melibatkan pengulangan gerakan-gerakan otot (seperti menggelindingkan atau memantulkan bola). Tingkat kompleksitas kognitif yang kedua adalah ’permainan konstruktif’, yang menggunakan obyek atau bahan untuk membuat sesuatu,seprti rumah dari balok atau menggambar dengan krayon.   Tingkat ketiga adalah  ’permainan pura-pura’ yang juga disebut ’permainan fantasi, permainan drama, atau permainan imajinatif’,yang mengandalkan pada fungsi simbolik, yang muncul mendekati akhir tahap sensorimotor (Piaget, 1962).   Tingkat kognitif yang keempat adalah ’permainan formal dengan aturan’ yaitu permainan-permainan yang diatur dengan prosedur dan hukuman tertentu, seperti bermain kelereng.

Anak-anak yang sering bermain secara imajinatif cenderung lebih banyak bekerjasama dengan anak-anak lain dan cenderung lebih populer dan lebih gembira dibanding mereka yang tidak (Singer & Singer, 1990). Anak-anak yang banyak menonton televisi cenderung bermain kurang imajinatif, mungkin karena mereka terbiasa secara pasif menyerap imaji saja dan tak pernah membuatnya sendiri (Howes & Matheson, 1992).

 

Dimensi Sosial dalam Bermain

Mildred B. Parten (1932) mengidentifikasi enam jenis permaianan pada tahap awal perkembangan. Ketika anak beranjak lebih besar, permainan mereka cenderung  lebih sosial, artinya lebih interaktif dan lebih kooperatif. Mula-mula, anak bermain sendiri, kemudian di samping anak-anak lain, dan akhirnya bersama-sama.

Anak-anak yang bermain sendirian berisiko mengalami permasalahan sosial, psikologis, dan pendidikan. Namun, jenis-jenis permainan nonsosial tertentu, seperti permainan paralel dan permainan mandiri tetap mengandung kegiatan-kegaitan yang merangsang perkemangan sosial, fisik, dan kognitif.

Permainan paralel atau mandiri bisa jadi menunjukkan kemandirian dan kematangan,  bukan karenaketidakmampuan beradaptasi(Harrist, Zain,Bates, Dodge, & Pettit, 1997; K. H. Rubin dkk. ,1998). Anak-anak yang memilih permainan seperti itu mungkin saja lebih berorientasi pada tugas atau pada obyek dan bukan pada orang.

Di sisi lain, permaian mandiri pada sejumlah anak memang merupakan tanda malu, cemas, takut, atau ditolak secara sosial (Coplan dkk. , 2004; Henderson, Marshall,Fox, & Rubin, 2004; Sinrad dkk. , 2004). Permainan ’diam’ (menonton anak lain bermain) seringkali merupakan manifestasi malu (Coplan dkk. , 2004). Namun perilaku diam seperti bermain di dekat anak lain, menonton apa yang mereka lakukan, atau berjalan mondar-mandir tanpa tujuan bisa jadi merupakan pendekatan sebelum bergabung dengan anak-anak lain (K. H. Rubin, Bukowoski, & Parker, 1998; Spinrad dkk. , 2004).

 

Pengaruh Gender pada Permainan

Sebagian besar anak laki-laki menyukai permainan yang aktif, bertenaga, dan dalam kelompok yang cukup besar; anak perempuan lebih suka bermain yang lebih tenang dan memperhatikan harmoni dengan teman-teman bermain. Anak laki-laki suka permainan yang riuh sedangkan anak perempuan lebih suka yang lebih kooperatif.   Kecenderungan-kecenderungan ini akan semakin menguat ketika anak bermain dalam kelompok (Benenson, 1993; Fabes dkk. , 2003; Maccobsy, 1980; Serbin, Moller, Gulko, Powlishta, & Colburne, 1994).

 

Pengaruh Budaya pada Permainan

Bentuk-bentuk permainan berbeda antar budaya dan dipengaruhi oleh lingkungan bermain yang dibuat oleh orang dewasa untuk anak-anak, yang pada gilirannya merupakan cerminan dari nilai-nilai budaya (Bodrova & Leong, 1998).

Anak-anak Anglo-Amrican lebih suka permainan sosial, sedangkan anak-anak Korean-American  lebih memilih permainan paralel. Anak-anak Korean-American bermain dengan lebih kooperatif, sering menawarkan mainan pada anak lain, yang merupakan cerminan dari harmoni kelompok. Anak-anak Anglo-American lebih agresif dan sering merespon negatif terhadap saran anak lain, yang mencerminkan persaingan alam budaya Amerika.

Anak-anak Irish-American cenderung berpura-pura dengan anak-anak lain, dan anak-anak Cina berpura-pura dengan pengasuhnya, yang sering menggunakan mainan sebagai kendaraan untu mengajarkan perilaku yang semestinya.

Supriyono Suroso

Sumber: Terjemahan “Perkembangan Psikososial pada Anak”

Leave a Reply