DAMPAK KEKERASAN FISIK PADA SYARAF

Perubahan-perubahan neuroanatomis dan neurofisiologis yang disebabkan oleh kekerasan fisik bisa secara langsung menurunkan kemampuan anak mengekspresikan perasaan-perasaan dalam kata-kata. Anak-anak yang mengalami kekerasan tampaknya kurang bisa berempati, yang sepertinya diakibatkan oleh ketidakmampuan mengungkapkan ekspresi yang disebabkan oleh trauma yang disertai dengan meningkatnya ambang batas nyeri atau sakit.

Gangguan kognitif dan akademik pada anak-anak yang mengalami kekerasan juga telah banyak dikemukakan (Cahill dkk. 1999; Coster dkk. 1989; Fox dkk. 1988; McFadyen dan Kitson 1996). Kelambatan berbahasa  banyak dilaporkan pada anak-anak yang mengalami kekerasan (Fox dkk. 1988). Studi pada anak-anak prasekolah melaporkan penurunan kecerdasan (Vondra dkk. 1990). Perez  dan Widom (1994) melaporkan bahwa anak-anak yang mengalami kekerasan dan yang ditelantarkan memiliki skor IQ yang jauh lebih rendah.

Menurut Perry da Pollard (1998) PTSD tidak selalu terjadi, walau gejala-gejala mirip disosiatif-postraumatic  atau hyperarousal lazim muncul bersama dengan gangguan-gangguan lain pada anak-anak yang mengalami kekerasan. Peristiwa traumatis membanjiri  si anak, mengganggu keseimbangan (homeostasis) dan menciptakan respon yang mendorong terganggunya fungsi ekuilibrium.   Semua bagian pada otak terdampak: cortex, limbic system, otak-tengah, dan batang otak.   Perubahan homeostatis korteks mempengaruhi memori naratif atau kognitif, perubahan homeostasis limbic mempenagruhi memori emosional, dan perubahan homeostasis otak-tengah mempengaruhi memori motor, dan perubahan homeostasis batang-otak memepngaruhi memori keadaan fisiolos (Castro-Alamancos dan Connors 1996; LeDoux dkk. 1989; Perry dan Pollard 1998; Phillips dan LeDoux 1992).

Orang dewasa dengan PTSD yang disebabkan oleh kekerasan seksual atau kekerasan fisik menunjukkan penurunan ukuran hippocampus, yang mempengaruhi gangguan memori pada korban kekerasan (Bremmer dkk. 1995, 1997).   Pada anak-anak dengan riwayat  kekerasan fisik atau kekerasan seksual,  ditemukan abnormalitas elektrofisiologis otak anterior dan frontotemporal.

Ada dua macam respon manusia terhadap stres yaitu hyperarousal dan reaksi disosiatif. Hyperarousal, atau ‘melawan atau lari’, melibatkan aktivasi system syaraf sympathetic melalui midbrain norepinephrine-neuron-containing locus ceruleus. Respon  terkejut, bergetar (arousal), waspada, marah/jengkel, dan tidur  semuanya terdampak oleh aktivasi ini. Anak-anak yang mengalami kekerasan menunjukkan gangguan efisiensi tidur dengan latensi tidur yang lebih lama dan meningkatnya aktivitas selama tidur (Glod dkk. 1997). Itneraksi antara locus ceruleus dan HPA axis mengakibatkan peningkatan pelepasan adrenocorticotropin dan cortisol untuk mempersiapkan pertahanan tubuh (Perry dan Pollard 1998).   Aktivasi kronis HPA axis  bisa menimbulkan akibat negative, termasuk kerusakan hippocampus.   Abnormalitas hippocampus dan limbic mengakbiatkan deficit memori dan disregulasi emosional. Sebagai respon terhadap respon takut akut, otak menciptakan serangkaian memori yang bisa dipicu  oleh pengingat trauma. Anak-anak akan tetap merasa takut, dengan hipersensitivitas dan reaktivitas (Perry dan Pollard 1998).

‘Melawan atau lari’ jarang terjadi pada anak, yang secara fisik mampu mempertahankan diri atau melarikan diri. Satu-satunya respon terhadap nyeri akibat kekerasan adalah mengaktifkan  mekanisme disosiatif seperti melepaskan diri dari dunia luar dengan menggunakan metode pertahanan primitive seperti depersonalisasi, derealisasi (menganggap tidak nyata), kebas (mati rasa) – dan  dalam kasus ekstrim – mengembangkan catatonia (Perry dan Pollard 1998). Akibat kekerasan fisik tergantung pada banyak variable, seperti  bentuk, durasi, dan berat-ringannya trauma serta usia si anak. Bayi dan anak-anak kecil memiliki  perkembangan system syaraf pusat yang belum matang – bayi bisa menunjukkan respon terkejut dan tertekan tapi mungkin tidak bisa merumuskan rencana atau menggunakan kata-kata untuk menyalurkan perasaan tertekan.   Mekanisme utama bayi untuk meminta bantuan adalah menangis, yang justru memicu kekerasan lebih lanjut.

Supriyono Suroso

Sumber: Terjemahan “Kekerasan Fisik pada Anak”

Leave a Reply