GANGGUAN AUTIS

Gangguan autis adalah salah satu gangguan perkembangan yang ditandai dengan terganggunya perkembangan keterampilan sosial dan komunikasi, abnormalitas perkembangan bahasa, dan terbatasnya perilaku dan minat.

Istilah autisme pertama kali dikemukakan oleh Beuler pada tahun 1911 untuk menggambarkan individu dengan skizofrenia yang kehilangan kontak dengan realitas (Beuler, 1911’1050).   Pada awal tahun 1940an  Leo Kanner (1943) dan Hans Asperger (1944/1991)  menambahkan bahwa anak autis mengalami kehilangan kontak dengan realitas sebagaimana yang dikemukakan oleh Bleuer, tapi tanpa disertai dengan diagnosis skizofrenia.

Kanner (1943) menyebutkan bahwa anak-anak ini mengalami ”ketidakmampuan menghubungkan diri mereka dengan cara yang lazim dengan orang-orang dan situasi-situasi sekitar sejak awal dalam kehidupan mereka. Sindroma ini menyebabkan penyimpangan bahasa  yang ditandai dengan kelambatan dalam menguasai bahasa, echolalia, kadang-kadang membisu,   salah menggunakan kata ganti diri, dan sangat harfiah. Anak-anak ini juga memiliki keinginan yang obsesif untuk selalu sama yang ditandai dengan melakukan rutinitas dan ritual yang sangat kompleks. Karena mereka memiliki ingatan yang baik dan penampilan fisik normal, anak-anak ini  mampu mencapai kemampuan kognitif normal.

Asperger mendeskripsikan ’autistic psychopathy’  sebagai kesulitan dalam interaksi sosial termasuk kontak mata, ekspresi afektif, dan kemampuan bercakap.

Secara historis, diyakini bahwa orang tua dari anak-anak yang mengalami autisme adalah orang-orang yang intelektual, berhati-dingin, dan kurang berminat pada orang lain, termasuk pasangan dan anak-anak mereka (Kanner, 1943; Betterlheim, 1967). Hingga pertengahan tahun 1970an, regimen perawatan  diantaranya adalah membantu orang tua (biasanya ibu) agar mengurangi penolakan terhadap anak. Namun hipotesa awal tentang etiologi autisme tidak didukung oleh riset empiris yang dilakukan pada tahun 1970an dan 1980an.

Bernard Rimland (1964) dan Eric Schopler (1964, 1971) menentang teori bahwa orang tua berperan dalam terbentuknya autisme pada anak-anak mereka. Rimland mengatakan bahwa gangguan itu disebabkan oleh kerusakan neurologis. Schopler mengatakan bahwa mestinya bukan dengan memberi perawatan pada orang tua, terapi justru melibatkan orang tua sebagai bagian dari tim perawatan yang bekerja dengan anak-anak mereka.

 

Sumber: Terjemahan dari “Autistic Disorder”

Leave a Reply