HADIAH DAN HUKUMAN BAGI ANAK

Orang tua kadang menghukum anak agar si anak menghentikan perilaku yang tidak dikehendaki, padahal sebaliknya anak lebih mudah belajar dari hadiah. Pemberian hadiah secara ekstenal bisa bewujud (permen, mainan) atau tidak berwujud (senyum, pujian, pelukan, perhatian lebih).   Bila dilakukan secara konsisten, anak akan bisa menciptakan hadiah internal, yaitu merasa senang melakukan sesuatu yang benar.

Hukuman yang berat justru kontraproduktif. Anak yang sering dihukum berat justru sering kesulitan memahami tindakan dan perkataan orang lain. Mereka akan menganggap ada niat jahat dari orang lain meskipun sebenarnya tidak ada (B. Weiss, Dodge, Bates, & Pettit, 1992).   Atau anak itu menjadi pasif karena tidak berdaya. Anak menjadi takut bila orang tuanya kehilangan kendali dan akhirnya menghindari orang tua yang suka menghukum, sehingga selanjutnya orang tua semakin sulit mempengaruhi perilaku anak (Grusec & Goodnow, 1994).

’Hukuman badan’  selama ini diyakini lebih efektif dibanding hukuman lain  dan tidak akan mencederai bila dilakukan secukupnya oleh orang tua dengan alasan kasih sayang. Namun, semakin banyak bukti yang menyanggah pendapat ini. Justru hukuman badan bisa memberi konsekuensi yang sangat negatif  (Strauss,1999; Straus s& Stewart,1999).

Hukuman, bila diperlukan, harus konsisten, segera, dan berhubungan dengan pelanggaran. Hukuman harus diberikan dengan tenang, tidak dimuka umum, dan bertujuan untuk menciptakan kepatuhan, bukan menimbulkan rasa bersalah. Hukuman akan efektif bila disertai penjelasan singkat dan sederhana (AAP Committee on Psychosocial Aspects of Child and Family Health, 1998; Baumrind, 1996, 1996).

Hukuman bisa diberikan dengan tujuan mendisiplinkan anak. Ada tiga kategori pendisiplinan: penggunaan kekuatan atau kekerasan, induksi, dan penghentian kasih sayang sementara.

Penggunaan kekuatan bisa berupa hukuman fisik atau verbal semisal permintaan, ancaman, pencabutan hak istimewa, meampar, atau hukuman lain.   Teknik induktif digunakan untuk mendorong terbentuknya perilaku yang dikehendaki (atau mengendurkan perilaku yang tidak dikehendaki) dengan memberikan alasan atau nalar pada anak, misalnya melalui menetapkan batas, menunjukkan contoh akibat  dari suatu tindakan, menjelaskan, berdiskusi, bernegosiasi, dan meminta pendapat anak tentang seperti apa yang disebut adil itu. Menghentikan kasih sayang bisa berupa pengabaian, pengisolasian, atau menunjukkan ketidaksukaan pada anak.

Induksi biasanya adalah metode yang paling efektif sedangkan penggunaan kekuatan adalah yang efektivitasnya paling rendah dalam mendidik anak agar menerima standar yang ditetapkan orang tua (M. L. Hoffman,1970a, 1970b, Jagers, Bingham, & Hans, 1996; McCord, 1996). Penjelasan induktif cenderung membangkitkan empati pada diri anak terhadap korban dari suatu tindakan yang salah serta memunculkan rasa besalah pada si pelaku (Krevans & Gibbs, 1996).

Efektivitas penggunaan disiplin oleh orang tua tergantung pada seberapa baik anak bisa memahami dan menerima pesan orang tua, secara kognitif maupun emosi (Grusec & Goodnow, 1994).

Supriyono Suroso

Sumber: Terjemahan “PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL PADA ANAK”

Orang tua kadang menghukum anak agar si anak menghentikan perilaku yang tidak dikehendaki, padahal sebaliknya anak lebih mudah belajar dari hadiah. Pemberian hadiah secara ekstenal bisa bewujud (permen, mainan) atau tidak berwujud (senyum, pujian, pelukan, perhatian lebih).   Bila dilakukan secara konsisten, anak akan bisa menciptakan hadiah internal, yaitu merasa senang melakukan sesuatu yang benar.  

Hukuman yang berat justru kontraproduktif. Anak yang sering dihukum berat justru sering kesulitan memahami tindakan dan perkataan orang lain. Mereka akan menganggap ada niat jahat dari orang lain meskipun sebenarnya tidak ada (B. Weiss, Dodge, Bates, & Pettit, 1992).   Atau anak itu menjadi pasif karena tidak berdaya. Anak menjadi takut bila orang tuanya kehilangan kendali dan akhirnya menghindari orang tua yang suka menghukum, sehingga selanjutnya orang tua semakin sulit mempengaruhi perilaku anak (Grusec & Goodnow, 1994).

’Hukuman badan’  selama ini diyakini lebih efektif dibanding hukuman lain  dan tidak akan mencederai bila dilakukan secukupnya oleh orang tua dengan alasan kasih sayang. Namun, semakin banyak bukti yang menyanggah pendapat ini. Justru hukuman badan bisa memberi konsekuensi yang sangat negatif  (Strauss,1999; Straus s& Stewart,1999).

Hukuman, bila diperlukan, harus konsisten, segera, dan berhubungan dengan pelanggaran. Hukuman harus diberikan dengan tenang, tidak dimuka umum, dan bertujuan untuk menciptakan kepatuhan, bukan menimbulkan rasa bersalah. Hukuman akan efektif bila disertai penjelasan singkat dan sederhana (AAP Committee on Psychosocial Aspects of Child and Family Health, 1998; Baumrind, 1996, 1996).

Hukuman bisa diberikan dengan tujuan mendisiplinkan anak. Ada tiga kategori pendisiplinan: penggunaan kekuatan atau kekerasan, induksi, dan penghentian kasih sayang sementara.

Penggunaan kekuatan bisa berupa hukuman fisik atau verbal semisal permintaan, ancaman, pencabutan hak istimewa, meampar, atau hukuman lain.   Teknik induktif digunakan untuk mendorong terbentuknya perilaku yang dikehendaki (atau mengendurkan perilaku yang tidak dikehendaki) dengan memberikan alasan atau nalar pada anak, misalnya melalui menetapkan batas, menunjukkan contoh akibat  dari suatu tindakan, menjelaskan, berdiskusi, bernegosiasi, dan meminta pendapat anak tentang seperti apa yang disebut adil itu. Menghentikan kasih sayang bisa berupa pengabaian, pengisolasian, atau menunjukkan ketidaksukaan pada anak.

Induksi biasanya adalah metode yang paling efektif sedangkan penggunaan kekuatan adalah yang efektivitasnya paling rendah dalam mendidik anak agar menerima standar yang ditetapkan orang tua (M. L. Hoffman,1970a, 1970b, Jagers, Bingham, & Hans, 1996; McCord, 1996). Penjelasan induktif cenderung membangkitkan empati pada diri anak terhadap korban dari suatu tindakan yang salah serta memunculkan rasa besalah pada si pelaku (Krevans & Gibbs, 1996).

Efektivitas penggunaan disiplin oleh orang tua tergantung pada seberapa baik anak bisa memahami dan menerima pesan orang tua, secara kognitif maupun emosi (Grusec & Goodnow, 1994).

Supriyono Suroso

Sumber: Terjemahan “PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL PADA ANAK”

 

Comments

  • [...] Hadiah dan Hukuman Bagi Anak Perlukah Hadiah dan Hukuman Untuk Anak [...]

  • Leave a Reply