KEKERASAN PADA ANAK

Epidemiologi

Hingga saat ini  orang tua tetap merupakan pelaku kekerasan yang utama.   Perlakuan buruk yang paling umum dilakukan oleh orang tua perempuan. Sekitar 60% korban  telah ditelantarkan, sedangkan 21,3% mengalami kekerasan fisik dan 11,3% mengalami kekerasan seksual.

Anak kecil adalah yang paling berisiko mengalami perlakuan buruk.   Dilaporkan bahwa lebih dari 75% fatalitas yang diakibatkan oleh kekerasan  pada tahun 1996 terjadi pada anak-anak dibawawh usia 3 tahun.   Pembunuhan yang terjadi pada beberapa minggu pertama kehidupan hampir sepenuhnya dilakukan oleh ibu. Ibu dan ayah sama kemungkinannya melukai anak-anak dibawah usia 1 minggu sampai 13 tahun. Sementara itu, ayah melakukan 63% pembunuhan yang dilakukan oleh orang tua pada anak usia 13 sampai 15 tahun dan 80% pada anak usia 16-19 tahun (Kunz dan Bahr 1996).

Epidemiologi 

Hingga saat ini  orang tua tetap merupakan pelaku kekerasan yang utama.   Perlakuan buruk yang paling umum dilakukan oleh orang tua perempuan. Sekitar 60% korban  telah ditelantarkan, sedangkan 21,3% mengalami kekerasan fisik dan 11,3% mengalami kekerasan seksual.

Anak kecil adalah yang paling berisiko mengalami perlakuan buruk.   Dilaporkan bahwa lebih dari 75% fatalitas yang diakibatkan oleh kekerasan  pada tahun 1996 terjadi pada anak-anak dibawawh usia 3 tahun.   Pembunuhan yang terjadi pada beberapa minggu pertama kehidupan hampir sepenuhnya dilakukan oleh ibu. Ibu dan ayah sama kemungkinannya melukai anak-anak dibawah usia 1 minggu sampai 13 tahun. Sementara itu, ayah melakukan 63% pembunuhan yang dilakukan oleh orang tua pada anak usia 13 sampai 15 tahun dan 80% pada anak usia 16-19 tahun (Kunz dan Bahr 1996).

 

Etiologi

Diyakini bahwa kekerasan pada anak disebabkan oleh gabungan antara kekerasan pada orang tua maupun anak dan lingkungan. Orang tua yang sa dan menggunakan obat-obatan dan anak yang rentan karena berat lahir rendah dan yang memiliki temperamen yang sulit  semuanya adalah faktor risiko.   Faktor-faktor etiologis lainnya diantaranya adalah tidak adanya  dukungan sosial, kemiskinan, orang tua tunggal, etnis minoritas, tidak adanya akulturasi, adanya empat atau lebih anak dalam suatu keluarga, orang tua terlalu muda, peristiwa-peristiwa yang menegangkan, dan menghadapi kekerasan dalam keluarga.

Faktor-faktor risiko yang mempengaruhi berulangnya kekerasan dianaranya adalah usia korban yang masih muda; banyaknya rujukan ke pusat perlindungan anak sebelumnya; dan karakteristik pemberi asuhan seperti gangguan emosional, penggunaan obat-obatan, dan riwayat kekerasan pada masa kanak-kanak (English dkk. , 1999).   Cicchetti dan Toth (1995) meyakini bahwa probabilitas  kekerasan bisa meningkat dengan adanya faktor-faktor risiko  pada anak seperti permaturitas, keterbelakangan mental, dan cacat fisik.

Anak-anak dengan berat lahir rendah lebih rentan mengalami kekerasan karena cenderung banyak menangis atau perilakunya sulit dikontrol, dimana kekerasan pada anak pada gilirannya menjadi kecenderungan anak agresif di kemudian hari.

Anak dengan defisit kognitif atau neuropsikatri jauh lebih rentan terhadap perlakuan kasar yang mengakibatkan munculnya perilaku agresif pada anak, terutama karena ketidakmampuan membuat pertimbangan yang disertai dengan menurunnya kemampuan mentolerir perasaan dan ketidakmampuan mengungkapkannya dengan kata-kata dan bukan dengan tindakan (Lewis 1992). Kekerasan pada anak berhubungan dengan kemiskinan, pendidikan orang tua yang rendah, pekerjaan tidak menentu, rumah yang buruk, mengandalkan pada bantuan, dan orang tua tunggal. Kekerasan anak cenderung terjadi dalam keluarga yang punya banyak masalah, yaitu keluarga dimana sering terjadi kekerasan dalam rumah tangga, pengucilan sosial, orang tua sakit jiwa, dan orang tua menggunakan obat-obatan.

Green (1980)  menemukan bahwa stres lingkungan yang disertai dengan kepriadian orang tua dan karakteristik si anak, bisa menciptakan suatu iklim yang mendorong terjadinya kekerasan.

Diyakini bahwa kekerasan selama masa kanak-kanak bisa mendorong si korban melakukan kekerasan pada anak-anak mereka di kemudian hari (Kaufman dan Zigler 1987; Oliver 1993; Strauss dkk. , 1980). Tapi tidak banyak studi yang menguatkan pendapat itu.   Penelitian yang menyimpulkan seperti itu hanya bisa digeneralisasi  pada ibu-ibu yang memilikis status sosial ekonomi rendah dan anak-anak mereka hingga usia 24 tahun.   Ibu dari status sosial ekonomi rendah  yang dulunya mengalami kekerasan fisik selama masa kanak-kanak, berkemungkinan sebesar 12,6 kali lipat untuk melakukan kekerasan pada anak-anak mereka dibanding pada ibu-ibu  yang mendapatkan dukungan emosional dari orang tua.   Banyak anak yang mengalami kekerasan tumbuh menjadi anak yang kompeten, menjadi orang tua yang tidak melakukan kekerasan, sebuah teori yang didukung oleh Herman (1992).

Ada dua kategori trauma. Trauma tipe I menghasilkan gejala-gejala yang tipikal  berupa posttraumatic stress disorder (PTSD) setelah suatu peristiwa yang traumatik dan tiba-tiba serta sekali saja. Trauma II adalah akibat dari menghadapi trauma dalam jangka panjang, sama dengan pengalaman kekerasan fisik pada anak. Trauma II seringkali mengakbiatkan karakter mengingkari dan disosiasi dan bukan berupa simptom-simptom PTSD.   Terr (1991) juga mengemukakan  gangguan perilaku, ADHD, depresi, dan gangguan disosiatif pada anak-anak dengan riwayat trauma tipe II.

Supriyono Suroso

Sumber: Terjemahan “Kekerasan Fisik pada Anak”

Leave a Reply