BAKTERI PENCEMAR PADA MADU

Bakteri pencemar dalam Madu Yang Dikemas Secara Tradisional

Intisari

Madu bisa tercemar oleh mikroorganisme selama dipanen, diproses, dan dikemas. Madu yang dipilih untuk tujuan klinis harus aman, steril, dan mengandung aktivitas antimikroba, sehingga harus dievaluasi menggunakakn uji laboratorium. Tumuan dari studi laboratorium deskriptif ini adalah untuk   mengisolasi dan mengidentifikasi bakteri pencemar dalam madu yang dikemas secara tradisional dalam k aitannya dengan penggunaan madu untuk tujuan medis. Unit-unit pembentuk koloni pada sampel madu yan gdikultur pada agar darah dihitung menggunakan Stuart bacterial colony counter. Terduga koloni bakterial diisolasi dan diidentifikasi berdasarkann pada karakteristik morfologi jaringan. Isolat terduga koloni-koloni bakterial di stain menurut metode Gram and Klein dan selanjutnya diteliti untuk mengetahui reaksi biokimiawinya. Hasil-hasilnya menunjukkan bahwa ada dua bakteri pencemar. Gram-positive cocci yang diidentifikasi sebagai coagulase-negative Staphylococci dan gram-positive rods yang diidentifikasi sebagai Bacillus subtillis.  Kesimpulannya, bakteri pencemar dianggap sebagai bakteri patogen rendah. Subtilin enzyme B subtilis bisa menyebabkan reaksi alergi dan coagulase-negative Staphylococci, Staphylococcus epidermidis juga merupakan patogen oportunis. Tak bisa dipungkiri, untuk tujuan medis madu yang dikemas secara tradisional harus disaring dengan baik, kandungan air diatas 18%, dan sterilisasi standar tanpa kehilangan aktivitas antibakterial atau mengubah kandungannya.

Kata Kunci: bakteri pencemar, madu yang dikemas secara tradisional

 

Pendahuluan

Madu adalah floral nectar atau sekresi tanaman yang dikumpulkan dan diproses oleh lebah madu, atau salah satu produk madu lebah selain  lilin, royal jelly, dan propolis. Madu telah digunakan selama ribuan tahun dalam pengobatan tradisional untuk berbagai tujuan. Di jaman Yunai Kuno, Romawi, dan Cina, maupun Mesir, madu digunakan untuk menyembuhkank luka dan mengobati penyakit. Penulis lain melaporkan bahwa 2000 tahun sebelum bakteri ditemukan sebagai penyebab infeksi, madu digunakan untuk merawat luka infeksi. Selanjutnya, orang Afrika kuno di Afrika Barat makan madu setiap hari sebagai suplemen dalam makanan harian mereka. Mereka juga menggunakannya ketika mengatur regimen makanan harian pasien. Belakangan ini, semakin banyak bukti ilmiah yang mendukung penggunaan madu untuk terapi. Madu telah digunakan sebagai agen terapi modern karena aktivitas antibakterialnya. Telah terbukti bahwa 91% luka yang terinfeksi  yang dirawat dengan madu akan terbebas dari infeksi dalam waktu 7 hari. Pasien yang dirawat dengan madu mengalami tingkat iritasi lebih rendah, penghilangan nyeri lebih besar, dan tidak ada efek sampingnya. Aktivitas anti-inflamasi pada madu  juga mengurangi edema dan exudates dan mencegah atau meminimalkan  parut hyperthrophic.

 

Selain itu madu telah dilaporkan memiliki efek penghambat pada sekitar 60 spesies bakteri termasuk aerobes maupun anaerobes, gram-positive bacteria maupun gram-negative bacteria.

Sejumlah bakteri tahan-antibiotik, seprti MRSA (Methicilin Resistant-Enterococci)  telah  dilaporkan  peka terhadap madu. Secara spesifik, madu Manuka dan Pasture dengan konsentrasi 2,7 – 5%  (v/v) menghambat coagulase-negative Staphylococci. Di Belanda, lulur luka steril dengan basis madu 50% (v/v) digunakan dalam sebuah studi laporan kasus multi-center yang melibatkan 139 pasien yan gmenderita kokreng, koreng decubital, tergores, dan terbakar.

Dalam ilmu kedokteran gigi, madu telah digunakan untuk merawat oral ulcer dan jpenyakit periodontal. Madu juga memiliki anticariogenic. Meski mengandung lebih dari 70% gula, madu pada konsentrasi tinggi memiliki efek penghambat  pada oral sterptococci secara in vitro dan kadar total bakteri dalam saliva  dan Streptococcus mutants menurun  setelah 1 jam menggunakan madu. Aktivitas antibakteri pada madu bisa disebabkan oleh efek osmotic dari kandungan gulanya yang tinggi, PH  rendah 3,9, dan thermo unstable substance yang disebut inhibine, hydrogen peroxide dan enzyme sebagai katalis.

Madu dianggap steril. Namun, ini keliru. Madu mungkin mengandung Bacillussp, Clostridium, viable spore.

Madu mungkin juga mengandung pestisida serta residu antibiotik seperti tetracycline yang digunakan pada lebah. Madu dijual dalam kemasan tradisional dan madu yang dikemas di pabrik. Diyakini bahwa madu yang dikemas pabrik lebih higinis dibanding madu yang dikemas secara tradisional karena menggunakan proses yang lebih baik dan standar dalam pemanenan, pengolahan, dan pengemasan. Sementara  itu madu yang dikemas tradisional biasanya diproses dengan alat manual pemerah madu. Selanjutnya madu disarinng mennggunakan kain. Sebaliknya, menggunakan madu yang dikemas secara tradisional sebagai agen  terapi tetap merupakan pilihan yang menarik, mungkin karena lebih  murah dibanding madu yang dikemas di pabrik.

Penggunaan madu untuk tujuan medis, khususnya untuk perawatan pada manusia, memerlukan madu yang steril. Ini harus ditekankan agar tidak menimbulkan kerugian pada manusia. Untuk mendapatkan hasil terbaik bahwa madu yang dikemas secara tradisional  bisa secara aman diterapkan sebagai agen terapi, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengisolasi dan mengidentifikasi bakteri pencemar dalam madu yang dikemas secara tradisional yang dijual di Bandung, Indonesia.

 

Bahan dan Metode

Memilih Sampel Madu

Dalam studi pendahuluan kami menggunakan tiga sampel yang dipilih secar aacak (Asy-syifa, Sumbawa, and Danau Sentarum) sebagai produk madu yang dikemas tradisional yang dijual di kota Bandung. Madu yang dikemas secara tradisional  adalah madu lebah yang dipanen, diproses, dan dikemas oleh petani dengan menggunakank tangan secara tradisional.  Untuk membuktikan bahwa bakteri pencemar adalah dari sampel madu, semua sampel madu dibuatkan smear bakterial  pada kaca obyek, dan di stain menggunakank gram-staining.

Bacterial smear yang di s tain ditelidi dengan menggunakan mikroskop. Hasilnya menunjukkan bahwa semua sampel madu sama-sama mengandung gram-positive rods (warna ungu). Selanjutnya, satu  inoculating loop pada tiap sampel madu dikultur pada plate agar darah, diinkubasi selama 24 jam dengan suhu  37derajad C pada inkubator.

Hasilnya menunjukkan bahwa kepadatan koloni bakteri pencemar pada madu Danau Sentarum lebih kecil daripada sampel madu lain. Sehingga mudah mengisolasi terduga bakteri. Selanjutnya, sesuai k epadatan koloni bakteri, studi laboratorium deskriptif ini menggunakan madu Danau Sentarum  sebagai sampel penelitian. Penelitian ini dilakukank di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas  Kedokteran Gigi, Universitas Padjajaran di Jatinangor Bandung.

Karakteristik Bakteri Pencemar

Untuk menentukan karakteristik bakteri pencemar pada sampel madu, salah satu inoculating loop madu dikultur pada plate agar darah pada Petri dish, yang diinkubasi secara aerobik  pada suhu 37 derajad C selama 18-24 jam di inkubator.

Kultur madu dibuat tiga botol.  Koloni bakteri atau unit pembentuk koloni yang tumbuh pada masing-masing plate agar darah dihitung menggunakan Stuart bacteria colony counter. Setelah itu, karakteristik koloni bakteri diidentifikasi berdasarkan pada mofrologinya seperti bentuk, margin, elevasi, ukuran, warna, atau pigmen dan kemapuan mikroorganisme untuk lyse darah dalam kultur.

 

Identifikasi dengan Mikroskop dan Biokimia

Satu inoculating loop isolat masing-masing terduga koloni bakteri di smear pada sebiah kaca obyek untuk bacterial smear preparation dan distain menggunakan Gram staining. Bila Gram-staining  koloni bakteria menunjukkakn gram-positive coccus (warna ungu), maka selanjutnya isolat koloni bakterial disiapkan untuk identifikasi secara biokimia, yaitu uji catalase dan coagulase. Uji catalase digunakan untuk membedakan genus Staphylococcus (catalalse-positive) dan Streptococcus (catalase-negative). Hydrogen peroxide 3% diteteskan pada suspensi bakterial pada 0,85% NaCl pada object glass.

Reaksinya adalah catalase-positive bila ada gelembung oxygen atau udara. Uji coagulase digunakan untuk membedakan Staphylococcus aureus  (coagulase-positive) dan Staphylococcus epidemidis atau Staphylococcus saprophyticus (ciagulase-negative Staphylococci). Pada object glass yang berisi suspensi bakterial diteteskan 0,1 ml plasma darah. Stahylococcus  aereus bisa mengkoagulasi  plasma darah atau uji coagulase nya positif. Bila hasil uji coagulase nya negatif, maka diduga bahwa bakteri isolate bacteria nya adalah Staphylococcus epidermidis atau Stahyloccus saproophyticus. Dalam penelitian ini, kami tidak membedakan  dua spesies terakhir itu. selanjutnya, spesies-spesies terakhir ini disebut coagulase-negative staphylococci.

Bila hasil gram-staining menunjukkan gram-positive rods, isolate koloni bakteri disiapkan untuk iidentifikasi lebih lanjut,  spore-staining dan dan uji manitol. Spore staining sesuai dengan metode Klein digunakan untuk membedakan bacilli pempbentuk spore dan non bacili pembentuk spore. Terduga bakeri yang di smear pada object glass di stain dengan Klein-spore staininig. Spores akan tampak merah dan sel-sel vegetatif akan tampak biru. Satu inoculating looop isolat koloni bakteri ditambahkan pada larutan mannitol pada tabung kaca, diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37 derajad C. Setelah itu, bila indikator merah phenol pada larutan mnnitol berubah menjadi kuning, ini diidentifikasi bahwa bakteri adalha mannitol fermenter (mannitol-positive) atau bakteri diduga sebagai Bacillus subtilis atau Bacillus megaterium. Selanjutnya, uji Voges-Proskauer digunakan untuk membedakan bakteri-bakteri ini. Uji mannitol adalah negatif bila isolate bacteria nya adalah Bacillus cereus.

Skema untuk identifikasi bakteri pencemar dalam madu yang dikemas secara tradisional disajikan di Gambar 1.

 

Hasil

Karakteristik Bakteri Pencemar

Kultur agar darah madu yang dikemas secara tradisional ini bisa dilihat di Gambar 2. Selanjutnyaada dua koloni bakteri pencemar pada sampel madu (Tabel 1 dan Gambar 3). Koloni-koloni  tipe pertama  atau koloni-koloni tipe A adalah bulat, sekitar 1-5 mm diameternya, dan memiliki margin yang tidak beraturan,  pigmen berwarna putih abu-abu, kemiringan datar. Koloni-koloni ttipe A adalah β-hemolytic pada plate agar darah.

Koloni-koloni tipe kedua atau koloni-koloni tipe B adalah bulat, sekitar 1-4 mm diameternya, dan memiliki margin utuh, pigmen putih, kemiringan convex. Sebaliknya, koloni-koloini tipe B adalah unhemolytic pada plate agar darah. Replikasi pertama sampel madu mengandung  koloni-koloni tipe A maupun tipe B. Sedangkan replikasi kedua dan ketiga pada sampel madu mengandung koloni-koloni tipe B saja (Tabel 2 dan Gambar 3).

Jumlah koloni pada masing-masing sampel pada plate agar darah disajikan di Tabel 2. Pada replikasi pertama sampel madu diitunjukkan bahwa jumlah koloni tipe A lebih besar daripada jumlah koloni tipe B. Selanjutnya, jumlah koloni tipe A pada replikasi kedua dan ketiga hampir duakali lipat jumlah koloni A pada replikasi pertama.

 

Pemeriksaan  Mikroskopis dan  Uji  Biokimia

Hasil Gram-staining  menunjukkan bahwa isolate koloni bakteri tipe A adalah gram-psotive rods dan tertata dalam rantai. Hasil Kleini staining menunjukkan bahwa ada pembentuk-spore. Uji  mannitol menunjukkan bahwa koloni bakteri adalah positif atau mengubah indikator merah phenol menjadi warna kuning (Gambar 4).

Isolate bakteri koloni tipe B menunjukkan gram-positive coccus dan tertata dalam kluster seperti buah. Bakteri menghasilkan gelembung udara dalam uji catalase atau positive-catalase. Uji coagulase menunjukkan bahwa  suspensi bakteri tidak mengkoagulasi plasma darah atau coagulase-negative (Gambar 5).

Berdasarkan karakteristik pada  pemeriksaan klein-staining dan gram-staining pada plate agar darah, dan uji mannitol juga, isolate  koloni tipe A diidentifikasi sebagai Bacillus subtilis.

Sementara itu, hasil karakteristik koloni tipe B pada plate agar darah, uji catalase dan coagulase, diidentifikasi sebagai coagulase-negative Staphylococci.

 

Pembahasan

Telah terbukti bahwa sampel madu yang dikemas secara tradisional mengandung gram-positive rods bacteria. Dalam identifikasi lebih lanjut, madu sampel yang dikultur pada plate agar darah menunjukkan bahwa pertumbuhan bakteri    bervariasi. Ini ditunjukkan oleh jumlah koloni di tiap plate agar darah. Jumlah koloni Bacillus subtilis lebih besar daripada jumlah koloni coagulase-negative Staphylococci.

Bisa diasumsikan bahwa B subtilis adalah baketri pencemar tertinnggi  dalam madu yang dikemas secara tradisional di Indonesia. B subtillis adalah  organems saprophytic yang lazim dijumpai di tanah, air, dan udara. Maka, bisa jadi bahw madu juga bisa tercemar oleh B subtilis dari udara atau botol yang tidak steril. Madu kadang bisa mengadung B subtilis sebagai akibat dari kondisi yang non-steril selama pemanenan, pengolahan, dan pengemasan. Penjelasan lainnya adalah bahwa mungkin itu disebabkan oleh B subilis endospore yang mengkontaminasi madu dan mengalami germinasi selama inkubasi. Madu tidak memungkinkan bakteri vegetatif untuk hidup, tapi tetap mengandung viable spores. Spores menunjukkan kemampuan yang spektakuker untuk be rtahan hidup dalam lingkungan  yang tidak bersahabat dalam waktu lama. Mereka juga tahan terhadap banyak ag en kimiawi yang digunakan sebagai disinfektan, lingkungan fisik termasuk suhu tiinggi, radiasi ionisasi, dan desikasi.

Coagulase-negative Staphylococci yang ditemukan pada madu yang dikemas secara tradisional mungkin disebabkan oleh Coagulase-negative Staphylococci  kulit petani  l ebah yang mengkontaminasi madu saat  pemanenan, pengolahan, dan pengemasan. Salah satu spesies coagulase-negative staphylococci, S.epidermidis adalah flora normal pada permukaan kulit, saluran pernapasan, dan saluran lambung dan menyebar melalui kontak.

Baketeri pencemar ditemukan dalam madu yang dikemas secara tradisional di Indonesia meskipun madu itu secara ilmiah memiliki aktivitas antibakteri. Bisa dijelaskan bahwa madu dihasilkan  dari banyak sumber bunga yang berlainan dan aktivitas antibakterianya berbeda-beda tergantung asal  dan  prosesnya. Penjelasan lainnya adalah bahwa ada kecenderungan  sejumlah madu yang dikemas secara tradisional  telah ditambah air untuk menambah volumenya. Mengencerkan madu dengan air akan menurunkan aktivitas antibakteria dan akan meningkatkan pertumbuhan bakteri. Madu yang mengandung air diatas 18% mudah mengalami fermentasi.

B subtilis tidak dianggap sebagai patogen manusia, dia bisa mengkontaminasi makanan tapi jarang menyebabkan keracunan makanan. Namun, B subtilis menghasilkan eproteolytic enzyme, subtilin yang telah terbukti  sebagai allergen okupasional  yang potensial. Di sisi lain, spesies coagulase-negative Stapchicocci, khususnya S. Epidermidis adalah patogen  yang oportunis.

Itu berarti bahwa bakteri menginfeksi manusia dengan kekebalan rendah atau dalam kondisi tertentu. Sebagai contohh, S epidermidis bisa menyebabkan infeksi pada manusia dengan kateter intravena atau cangkok prosthetic. Tak bisa dipungkiri, madu terutama untuk pemakaian medis harus steril dan mengandung aktivitas antimikroba. Radiasi Gamma telah digunakan untuk mensterilkan sejumlah merek madu. Radiasi ini membunuh clostridial spores tanpa kehilanganaktivitas antimikrobia atau mengubah kandungan madu.

 

Kesimpulan

Bakteri pencemar ditemukan dalam madu yang dikemas secara tradisional di Indonesia  dan diidentifikasi sebagai bagian dari spesies Bacillus subtilis dan coagulase-negative Staphylococci. Untuk m;eningkatkan kualitas  madu yang dikemas secara tradisional untuk tujuan medis, madu harus disaring, kandungan air tidak lebih dari 18% v/v, dan diperlakukank dengan sterilisasi standar.

 

Leave a Reply