TEH HIJAU DAN GINGIVITIS

Pertumbuhan Streptococcus alpha  pada plak gigi penderita gingivitis setelah berkumur dengan ekstrak teh hijau (Camelia sinensis)

Intisari

Teh        hijau (Camelia sinensis) telah dikenal luas sebagai minuman kesehatan sejak lama. Salah satu dari zat pada teh hijau yang bisa memberikan manfaat kesehatan adalah catechin, sebuah zat antibakteri.  Tujuan dari penelitian ini adalah  untuk mengetahui efikasi dari berkumur dengan ekstrak teh hijau pada pertumbuhan Streptococcus alpha pada plak gigi penderita gingivitis. Subyek riset terdiri dari 30 penderitan gingivitis ringan, dan subyek-subyek ini dibagi menjadi  dua kelompok: kelompok yang mendapatkan perlakuan atau ‘treatment’ (20 penderita) dan kelompok kontrol (10 penderita). Sepuluh penderita dalam kelompok perlakuan berkumur dengan 0,25% ekstrak teh  hijau dan  10 lainnya dengan 0,5% ektrak teh  hijau. Sementara itu kelompok kontrol menggunakan Bactidol (0,1% Hexetidine). Berkumur dilakukansetiap pagi dan malam selama lima hari. Sampling dilakukan pada hari pertama dan keenam. Sebelum pembersihan  data dianalisis menggunakan ANAVA dan hasilnya menunjukkan perbedaan yang signifikan. Uji ANAVAselanjutnya dilakukan  menggunakan  nilai  proporsi. Hasil Uji ANAVA menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang  signifikan diantara para penderita  dalam kelompok  perlakuan. Hasil ini  menunjukkan  bahwa  efek  membersihkan mulut  dengan 0,25% dan 0,5% ektrak teh hijau  sama dengankelompok  kontrol (0,1% Hexetidine) untuk  menghambat pertumbuhan S. Alpha pada plak gigi penderita  gingivitis ringan. Dari  dua  konsentrasi  ini, belumdiketahui yang mana  yang paling efektif  untuk  menghambat  pertumbuhanalfa pada penderita  gingivitis.

Kata Kunci: tehhijau (Camelia  sinensis), Streptococcus alpha, gingivitis ringan

 

Pendahuluan

Plak gigi adalah  timbunan lunak pada permukaan  dentin yang terdiri dari berbagai bakteri maupun  mikroba. Plak terbentuk  karena  adanya penumpukan bakteria pada pellicle. Massa plak terdiri dari 70-80% bakteri dan pada 1 mg plak, ada 200-300 spesies bakteri.

Mulanya Gram positive Streptococcus ditemukan pada plak. Streptococcus alpha adalah baktria yang dominan pada plak yang barusaja terbentuk, dan akan selalu berada pada plak. Streptococcus alpha juga disebut  Streptococcus viridans, karena membentuk warna kehijauan yang mengitari koloninya. Bakteri ini tidak memainkanperan  langsung dalam menimbulkan penyakit periodental, tapi berfungsi hanya dalam memfasilitasi kolonisasi bakteria  lain,  termasuk anaerobic bakteria, yang memainkan peran penting dalammenimbulkan  penyakit periodental. Streptococcus, namun, juga menghasilkan  histolytic enzyme dan zat-zat beracun yang bisa menyebabkan kerusakan jaringan.

Streptococcus alpha memiliki peran penting dalam meningkatkan proses kolonisasi bakteri  plak. Bakteri ini  memfasilitasi penempelan bakteri-batker i lain pada plak gigi, karena mampu membentuk extracellular polysaccharides dan bisa menjadi lingkungan yang menguntungkakn bagi perbumbuhan bakteri lain. Streptococcus ini bisa menarik kolonisasi bakteria negative gram lain dan menghasilkan  asam yang bisa merusak  sel-sel.

Bla pertumbuhan plak diabaikan dan plak tidak dibersihkan, maka akan  membentuk koloni bakteri yang  kompleks. Pertumbuhan plak akan  mengakibatkan  gingivitis. Signifikansi  akumulasi plak sebagai penyebab utama gingivitis telah dilaporkan  oleh seorang  peneliti Denmark. Dia  melaporkan  bahwa dalam waktu kurang  dari 14 hari tanpa pembersihan  mulut, akumulasi plak  dalam jumlahbesar akan   terbentuk pada  individu dengan  gingiva  sehat, sehingga  akan  m;engakibatkangingivitis.  Sejumlah studi epidemiologi juga menunjukkan  bahwa ada hubungan positif antara  skor plak dengan  skor gingivitis.

Gingivitis  adalah sebuah reaksi inflamasi pada gingiva,  sebauah  respon  terhadap  akumulasibakteri dan  produknya  pada  wilayah  gingival  sulcus. Inflamasi gingiva ini secara klinis mengakibatkan perdarahan; warna gingiva dan perubahankontur; gingiva bengkak,  kemerahan,  bersinar,  dan  lunak; papilla hypertrophy; dan  peningkatan  aliran cairan crevice gingiva. Ada banyak faktor, baik lokal maupun sistemik, yang  merupakanetiologi gingivitis. Salah  satu  dari  faktor etiologilos yang paling penting   yang  sering ditemukan  adalah  akumulasi  plak  pada  dentin.

Kecenderungan untuk ‘kembali ke alam’ mendorong  orang  menggunakantanaman sebagai  agen  antibakteri. Teh seringkali  dikonsumsi sebagai minuman  karena rasanya yang enak,  harganya murah, dankarena  mudah  didapatkan. Ada banyak  jenisteh berdasarkan pada prosesnya,yaitu: tehhijau,  teh hitam, dan  teh oolong.  Tea hijau  dihasilkan  tanpa proses  fermentasi dan memiliki  kandungan catechin  paling  banyak dibandingkan  dengan  jenis-jenistehlain.   Berbagai  studi  telah  dilakukan untuk mengetahui manfaat  teh hijau.  Kandungan  khusus dalam teh  yang  bagus  untuk  kesehatan adalahkandungan  flavanoid yang disebut  catechin. Catechin pada  teh hijau  memiliki  kemampuan  antibakteri terhadapStreptococcus alpha dengan  konsentrasipenghambatan minimum  0,5 mg/ml.

Studi  in vitro yang sama juga menyimpulkan bahwa  konsentrasi teh hijau yang efektif  dalam menghambat Streptococcus alpha adalah 16%, dengan  waktu kontak minimum 1 menit. Semua jenis ekstrak teh bisa menghambat pertubuhann Streptococcus mutans dengan konsentrasi antara 0,625 sampai 2,5 mg/ml, sementara untuk teh hijau Indonesia,  konsentrasi penghambat minimum terhadap Streptococcus mutans Ingbritt  adalah 1,25 mg/ml dan loose Streptococcus Sobrinus OMZ 176 adalah 2,5 mg/ml. Selain catechin, kandungan fluor pada teh juga mampu menghambat  Streptococcus mutans, sehingga jumlah plak gigi berkurang. Penggunaan ekstrak teh hijau dengan  konsentrasi 0,25% dan 0,5  pada penderita gingivitis  menunjukkan penurunan keparahan gingivitis ditandai denan  penurunan  ginngivitis  index setelah  membersihkan mulut selama 5 hari.

Catechin sebagai  senyawa phenol memiliki karakteristik  sebagai disinfektan, antiseptik, bacteriostat dan bacterioside. Phenol bisa menyebabkan   denaturasi protein  karena kerusakan  komposisi protein  dan perubahan dalam permeabilitas sel-sel bakteri.

Mencuci  mulut  adalah salah satu metode untuk mengontrol  plak gigi secara kimia dalam mengobati gingivitis. Berkumur bisa menurunkan jumlah bakteri plak dan gingivitis, krena berkumur bisa menjangkau area interproximal  dan menginfiltrasi area subgingiva.  Selain berfungsi sebagai penghambat kolonisasi bakteri, berkumur juga memiliki efek mekanis dari gerakan berkumur . Ketika berkumur, otot pipi akan bergerak, sehingga berkumur akan  secara  mekanis menghilangkan partikel-partikel sisa yang terdiri dari banyak bakteri.

Berkumur menggunakan ekstrak tehhijau bisa menghambat pertumbuhan  Streptococcus  alpha sebagai  koloni  bakteri  pada  plak,  sehingga bisa  mencegah pertumbuhan bakteri  plak yang bisa membuat gingivitis  menjadi  lebih serius. Permasalahannya adalah, belum diketahuibagaimana  efikasi  berkumur  dengan  ekstrak  teh  hijau dalam menghambat  pertumbuhan Streptococcus alpha pada plak  gigi penderita  gingivitis.

 

Bahan  dan Metode

Riset ini menggunakan tehhijau  Kepala Djenggot. Pembuatan ekstrak teh hijau dilakukan di Pusat Penelitian Obat Tradisional Gadjah Mada Yogyakarta. Pembuatan ekstrak teh  hijau dengan  konsentrasi 0,25%  dan 0,5% dilakukan dengan  melarutkan 250 mg atau 500 mg ekstrak teh  hijau dalam aquabidest hingga 100 ml.

Subyek penelitian meliputi 30 penderita gingivitis ringan, dan subyek-subyek ini dibagi menjadi dua kelompok: kelompok perlakuan (20 penderita) dan kelompok kontrol (10 penderita). Kelompok  kontrol diberi Bactidol (0,1% Hexetidine) sebagai kontrol positif. Sementara itu, kelompok perlakuan diberi ekstrak  teh hijau  dengan  konsentrasi 0,25% dan 0,5%.

Pemlihan subyek penelitian  didsarkan pada Gingival Index GI oleh Loe dan Sillness. Dalam riset ini, subyek yang dipilih adalah para penderita dengan skor dari 0,1 hingga 1,0 (gingivitis ringan). Selain  itu, ada kriteria  lain untuk  para subyek,  yaitu: subyek  tidak sedang  mengalamimenstruasi,tidak mengalamipenyakitsistemik, tidak  sedang menggunakanobat,tidak sedang  menggunakan   perlengkapan  ortodontik dan  prosthetic  yang ‘removable’ (bisa  dilepas),  tidak  diijinkan   makan dan  menggosok   gigi  sebelum  sampling plak dilakulan.

Pengambilan plak sebelum treatment  dilakukan dipagi hari, sebelum subyek menggosok gigi dan makan, setelah puasa sehiari sebelumnya (subyek tidak diperbolehkan makan, mereka  hanya  boleh  minum air  mineral).  Sebelum sampling, ditentukan skor  plak  gigi  berdasarkanpadaPHP index oleh Podshadley dan Haley  . Wilayah pengambilan plak adalah dentin dengan  yang memiliki skor tertinggi. Plak diambil menggunakan  curette. Ujung  curette di stratched pada  permukaan  buccal gigi di  wilayah  marginal dari distal ke mesial. Sampel plak yang diperoleh setelah subyek puasa selanjutnya diletakkan pada tube reaksi steril, dan  disana sudah ada 1 ml garam fisiologis dalam tube. Bila plaknya tidak segera  diproses dalamwaktu  4 jam setelahdiambil,  tube  itu harus  disimpandengansuhu 4 derajad C.

Subyek diperintahkan untuk berkumur lima kali dengan  menggunakan obat  kumur yang diberikanpada mereka. Mereka  harus menggunakan 5 ml obat kumur selama 1 menit di pagi hari dan  malam hari  sebelum tidur, yaitu segera setelah menggosok  gigi. Setelah  itu,   subyek  tidak  dibolehkan  berkumurmenggunakan air.

Pengambilan  sampel plak kedua dilakukan pada hari keenam, yaitu sebelum subyek menggosok  gigi dan makan.  Metode  dan  area pengambilan  adalah sama dengan pengambilan plak pertama. Pada  malam terakhir  berkumur, subyek  tidak boleh  makan dan hanya boleh  minum air  miineral setelah  berkumur.  Sebelum plak  diambil, GI  testing  dilakukan, dan  skor  plak  gigi juga diukur sebagaimana  yang  dilakukan sebelumnya.

Bakteri diidentifikasi  dengan : vortex  tube dangan sampel selama 1 menit, selanjutnya  encerkan  aquadest steril hingga  mencapai seri larutan10. Dari  tiap sampel 10 µl diantaranyadiambil,  selanjutnya ditanamkan  di  Petrodish yang terdiri dari media agar darah. Inkubasi  selama  24 jam dalamsuhu 37 derajad C, selanjutnya hitung  koloni bakteri yang tumbuh.  Bila dalam media agar darah  ada bakteri  dengan  zona  kehijauan  mengelilinginya,  1-2 mm  diameternya,  ada  lyses red  cells,  dan batas kabur  terbentuk  diluar zona kehijauan itu, ini bisa  diidentifikasi  sebagai koloni S alpha. Jumlah S alpha sampel dihitung dnegan mengalikan jumlah  koloni bakteri dengan  seri pengenceran.

Seri pengenceran: X = voluma sampel yang  dikultur,  Y =  jumlah koloni yang dikalkulasi,  K= jumlah  mikrobial: Kx10xYxY ml a= ….CFU/ml.

 

Hasil dan  Pembahasan

Hasil dari penelitian ini bisa dilihat di Gambar 1 yang mendeskripsikan koloni S alpha pada sampel plak sebelum dan sesudah perlakuan. Rata-rata  jumlah S alpha (sebelum dan  sesudah berkumur) ditunjukkan di Tabel 1, dan  pola pertumbuhan bisa dilihat di Gambar 2.

Tabel I dan gambar 2 menunjukkan  bahwa  berkumur dengan 0,5% ekstrak teh hijau akan memberi efek  lebih besar pada penurunan  jumlah S  alpha, dibandingkan dengan 0,25% ekstrak teh  hijau atau kelompok kontrol  positif. Ini bisa dilihat dari  interval rata-rata jumlah bakteri terbesar sebelum dan sesudah berkumur  dengan 0,5% ekstrak teh  hijau.

Penurunan ini mungkin disebabkan oleh zat antibakteri, catechin, yang meliputi phenol atau kelompok flavanoid,  yang terkandung dalam teh  hijau. Catechin adalah unsur yang paling  nyata dalam komposisi  teh  hijau.  Catechin  mencapai 30% dari berat kering  teh.  Phenol dan turunannya menyebabkan denaturasi  protein,  sebagai akibat  dari  kerusakan  komposisi dan  perubahan  permeabilitas selaput sel bakteri. Selaput  sel  bakteri terbentuk dari  lemak dan  protein. Phenol memecah  struktur tiga-dimensi protein yang menyebabkan  menjadi struktur acak tanpa kerusakan dalam struktur covalent. Ini menyebabkan denaturasi  protein.

Karena protein selaput sel bakteri mengalami denaturasi, selaput sel bakteri dan  fungsinya juga akan rusak. Dengan hilangnya aktivitas selaput sel bakteri, phenol akan dengan mudah  masuk ke sel, sehingga protein dan nucleic acid   pada  selaput sel bakteri dinaturasi. Proteindan  molekul  nucleic acid  memainkan peran  penting dalam kelangsungan hidup  sebuah  sel sehingga denaturasi protein dan nucleic acid akan menyebabkan  terjadinya  lyses  pada sel, dan bakteri akhirnya akakn mati. Selain itu, kerusakan selaput sel menyebabkan  protoplast terbentuk dari  organsme gram positif, atau  speroplast terbentuk d ari  organisme gram negatif, dan  bentuk ini hanya  dibatasi  oleh  selaput cytoplasmic.  Protoplast atau  speroplast  sangat  peka terhadap tekanan  ososis. Bila bakteri  tidakbisa mengelola  perbedaan tekanan osmosis,  maka bakteri akan mati.

Penurunan  jumlah bakteri dalam riset  ini  didukung  oleh  studi-studi  sebelumnya, yang menunjukkan b ahwa  ekstrak  teh  hijau bisa menghambat pertumbuhan  bakteri  Salpha, sehingga  ekstrak  teh  hijau ini bisa digunakansebagai pembersihmulut.  Kontrol plak secara kimia dengan menggunakan obat kumur antimibkroba bisa mengurangi atau  menghambat  kolonisasi  bakterial pada  permukaan  gigi. Selain efek  bakteriologis, berkumur  juga memiliki efekmekanis dari gerakan yang dilakukan. Ketika berkumur, otot-otot pipik juga akan  bergerak, sehingga berkumur secara  mekanis akan  menghilangkanpartikel-partikel sisa yang  terdiri dari banyak  bakteri.

Hasil dari  uji homogenitas  varian dari jumlah S alpha yang dihasilkan menunjukkan bahwa  ketiga  kelompok perlakuan itu memiliki  varian  yang sama,  karen a mereka  menunjukkan  signifikansi (p=0,309), sehingga uji ANAVA bisa dilakukan, dan   hasilnya dirangkum di Tabel 2.

Tabel 2 menunjukkan  bahwa  ada perbedaan  yang  signifikan  pada jumlah S  alpha sebelum mencuci  mulut, sehingga  uji ANAVA bisa dilakukan dengan menggunakan nilai proporsi penurunan jumlah bakteri. Dari data nilai proporsi, diketahui bahwa data berada dalam kisaran  nilai  30-70%. Hasil nilai proporsi uji  ANAVA     one-line disajikan di Tabel 3.

Tabel 3 menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara konsentrasi ekstrak teh hijau dan  kontrol  pertumbuhan S alpha.  Ini berarti bahwa  berkumur dengan ektrak  teh hijau dengan  konsentrasi  0,25%, 0,5% dankontrol (0,1% hexetidine) memberi efek yang sama dalam menghambat pertumbuhan  S alpha.

Dalam riset ini,  0,25% ektrak teh  hijau  diyakini  mampu menghambat S alpha. Catechindari teh  hijau memiliki kemampuan antibakteri terhadap S. Alpha dengan konsentrasi  penghambatan minimum  0,5 mg/ml. Telah terbukti secara in vitro bahwa semua jenis  ekstrak teh hijau bisa menghambat pertumbuhan Sterptococcus  mutans dengan konsentrasi 0,625 – 2,5%.

Ektrak teh  hijau 0,5% menunjukkan kemampuan  lebih besar dalam menekan pertumbuhan   S alpha dibandingkan dengan  konsentrasi  lain, seperti yang bisa terlihat  dalam interval terbesar (Tabel 1). Ini mengindikasikan bahwa perbedaan konsentrasi ekstrak teh hijau memiliki tingkat kemampuan yang berbeda dalammenghambat  pertumbuhan  S alpha. Semakin tinggi konsentrasinya,  semakinbanyak material antibakteri yang bisa dilarutkan, sehingga semakin banyak bakteri yang terbunuh. Oleh karena  itu,  semakin  tinggi konsentrasi  ekstrak  teh hijau, semakini  tinggi  potensiantibakterinya.  Ini sesuai  dengan pernyataan  Pelczar dan  Chan,  bahwa faktor-faktor yang  mempengaruhi kekuatan  antimikroba adalah  konsentrasi, periode  kontak  target, suhu, spesies, dan  material organik.

Karena keterbatasan peneliti, penelitian ini belum mengetahui  konsentrasi maksimum yang  paling  efektif. Seperti yang diketahui sebelumnya,  konsentrasi yang tinggi memiliki batas tertentu  agar mampu menghambat  pertumbuhan bakteri. Setelah mencapai  titik maksimum,  efek obat  akan  menurun.  bakteri  pada  plak  adalah faktor  awal yang bisa menyebabkan penyakit periodontal. Maka, ini harus dicegah  denganusaha menghambat pertumbuhan bakteri lebih  lanjut,  khususnya  S alpha, karena iniadalah bakteri   yang paling  dominan pada  awal pembentukan plak supragingiva.  Dengan mencegah  pertumbuhan  S alpha, ini  berarti bahwa  kita mencegah  pembentukan plak subgingiva,  yang bisa mencegah  penyakit periodontal. Konsentrasipenghambat  minimum adalah konsentrasi zat minimum  yang bisa secara in vitro menghambat  aktivitas biologis bakteri. Di rongga mulut, ada saliva yang bisa menurunkan konsentrasi larutan, sehingga  konsentrasi larutan kumur harus  paling tidak 4 kali lipat dari konsentrasi  penghambat minimum, sehingga bisa  secara efektif  digunakan sebagai material pencuci.

Perbedaan yang tidak terlalu signifikan antara konsentrasi 0,25% dan 0,5%, dan kontrol dalam menghambat S alpha kemungkinan  disebabkan oleh efek saliva. Selain itu, perlu diketahui bahwa S alpha terdiri dari sejumlah spesies bakteri. Komposisi atau jumlah bakteri pada plak gigi bervariasi tergantung pada perbedaan waktu  dimulainya pembentukanplak (usia plak), lokasi, aturan makan dan jenis makanan, dan juga gaya hidup dalam merawat kesehatan  mulut dan  gigi. Juga  telah diketahui bahwa : mengetahui efek obat antimikroba di rongga mulut, yang dilakukan secara in vivo, dipengaruhi oleh banyak faktor yang mempengaruhi rongga  mulut. Faktor-faktor ini bisa segera berubah dan bisa berbeda-beda  untuk tiap individu.

Ada banyak faktor yang mempengaruhi  hasil penelitian ini. Kepatuhan obyek dalam menggunakan  pencuci  mulut bisa saja  mempengaruhi  hasilnya. Selain itu,menu harian, gaya hidup subyek dalam memelihara  kesehatan  gigi dan mulut yang  tidak bisa  dikontrol,  danjuga  kesalahan  prosedur  bakteriologis bisa saja menyebabkan kesalahan dalam penelitian ini.

 

 

Leave a Reply