BAHASA DAN KEBOHONGAN IKLAN

Rasetiti merasa terkecoh ketika melamar di perusahaan yang memasang iklan lowongan kerja sebagai ‘Staf Kantor’. Dibenaknya dia akan bekerja semacam karyawan administrasi,  atau resepsionis, atau sekretaris.   Ternyata dia istilah itu hanya permainan bahasa. Dia hanya akan ditempatkan sebagai tenaga pemasaran. Suatu pekerjaan yang sangat tidak diinginkannya!  Sebelumnya dia juga menjadi korban permainan bahasa. Perusahaan itu membutuhkan calon tenaga kerja, dengan syarat mengikuti pendidikan siap kerja. Ternyata ,  ini  permainan bahasa sebuah lembag a pendidikan  untuk merekrut peserta kursus. Istilah pendidikan siap kerja tidak berarti menyalurkan tenaga kerja, hanya membekali keterampilan agar siap kerja.

Lain lagi cerita Rasronto.   Dia kecewa ketika meminta pengembalian “uang pendidikan”  dari sebuah lembaga bimbingan belajar. Dalam iklan lembaga tersebut dulu disebutkan bahwa “Garansi Uang Pendidikan kembali 100% bila gagal diterima di PTN. ” Ternyata lembaga pendidikan itu telah melakukan manipulasi  kata.   Yang dimaksud uang pendidikan, hanyalah sekian persen dari uang yang dibayarkan oleh peserta bimbingan belajar.   Jadi , yang dikembalikan hanya “uang pendidikan”, bukan semua uang yang dulu dibayarkannya. Lembaga itu berdalih bahwa komponen pembayaran meliputi uang pendidikan, uang sarana dan prasarana, uang perpustakaan, uang keanggotaan organisasi ini dan itu, dan sebagainya. Di benak Rasronto saat mendaftar dulu adalah bahwa kalaupun dia gagal diterima di PTN, toh semua uang yang dibayarkannya akan dikembalikan.

Iklan sangat dekat dengan bahasa. Bersama dengan peranti audio dan visual, bahasa menjadi alat untuk mempengaruhi kebutuhan fungsional maupun kebutuhan emosional calon pembeli. Bahasa iklan memang mengandung hal-hal yang positif saja, sekaligus menyamarkan atau menutupi sifat negatif barang atau jasa yang dijual. Ketika  pekerjaan sebagai marketing kurang diminati oleh pencari kerja, maka dilakukanlah manipulasi bahasa dengan memasang iklan ‘dicari staf kantor’.  Siapa pula yang sangka, bahwa lembaga pendidikan sengaja  mengelabui persepsi dengan istilah ‘uang pendidikan’? Lebih gila lagi, pernah ada teman yang mengajak mendirikan lembaga pendidikan (yang syukur saya tolak) di Yogyakarta yang akan bernama “Bimbingan Belajar Pasti Gajah Mada”.   Menurut teman itu, harapannya, para lulusan SMA akan menganggap bahwa lembaga ini menjamin pasti diterima di universitas top di Yogya. Padahal yang dimaksud (sengaja mengelabui atau hanya permainan kata saya tidak tahu) adalah bahwa kata pasti  maksudnya adalah bahwa para pengajarnya berlatarbelakang Ilmu Pasti. Ho. . hooo. . ada-ada saja.

Nah, akhirnya tergantung kita juga untuk memahami iklan secara kritis dan jeli. Belum tentu produk atau jasa seindah bahasanya. Banyak perusahaan (yang tidak jujur) yang sengaja ‘memancing ’ calon pembeli  dengan bahasa yang penuh muslihat.   Lagi-lagi, TELITI SEBELUM MEMBELI…. . !

Leave a Reply