EMPAT KESALAHAN BERBAHASA

Bertutur mestinya bisa lancar dan cair bila kita menggunakan struktur yang simpel dan konsisten, dan bukan justru kalimat yang wordy dan much ado about nothing. Tidak to the point! Berikut ini contoh keruwetan bertutur yang banyak kita jumpai:

1.      Boros Kata

“Pelaksanaan pengawasan birokrasi harus dilakukan dengan pendekatan pengawasan rutin “. Mengapa kita tidak mengatakan “Birokrasi harus diawasi secara rutin”?  Contoh lain adalah “Analisis hasil penelitian dilakukan dengan menganalisa temuan-temuan dengan statistik”. Bukankah lebih simpel (dan jelas) bila dinyatakan: “Hasil penelitian dianalisis dengan statistic”.

2. Kata Elitis

Kita suka sekali menggunakan kata-kata asing yang terlalu elitis. Apa sih susahnya menyebut “laporan pemeriksaan kesehatan” daripada medical assessment report? Begitu bangga kita menyebut added value dan bukan “nilai tambah”. Beberapa penulis yang berpengalaman dan berwawasan luas justru menggunakan istilah “potong lintang” untuk padanan cross-sectional, dan “runtun waktu” untuk time series dalam bidang statistic.

3.       Salah Pilih Kata

Naskah atau tuturan menjadi semakin sulit dimengerti ketika banyak digunakan istilah yang tidak tepat. Meski salah, dengan percaya diri banyak orang bilang; “Gua boring banget neeh!” (tentu maksudnya bored, bukan boring).   Sepertinya lebih bijaksana bilang: “Aku bosan banget nih…” . Kalau terpaksa ingin kedengaran ‘kebarat-baratan’, ya ngomong: “Gua bored banget nee. . !” Belum lagi kesalaha-kesalahan serupa seperti “Duuh saya interesting / exciting banget pada topik itu!” Tanpa kita sadari pula, kita lebih suka istilah-istilah ‘barat’ hanya karena ‘istilah lokal’ nya terdengar tidak keren. Contoh, milk shake = “susu kocok”.

4.       Salah Struktur

Kesalahan berikutnya adalah (a) tidak lengkap unsur kalimatnya, atau (b) kelebihan unsur kalimatnya.   Contoh: “Di Indonesia giat membangun”. Juga, “Ngapain jajan, di rumah aja masak kok”. Keduanya tidak jelas maksudnya: siapa yang membangun / memasak?.   Pada kasus kedua, kita berkata: “Pak Anton rumahnya di Jakarta” (mestinya, “Rumah Pak Anton di Jakarta”).

Apakah kita masih membuat kesalahan-kesalahan seperti itu? Mari kita biasakan bangga berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Leave a Reply