PROFESI PENERJEMAH

Menerjemahkan (membaca) adalah bagian dari kebutuhan kita. Kesulitan menerjemahkan sering mengharuskan kita menggunakan jasa terjemahan. Sayangnya, tidak semua lembaga atau jasa terjemahan memiliki kualitas dan kapasitas yang mumpuni.

Mestinya, menerjemahkan tidaklah sulit bila kita mengetahui teknik dan strategi analisis kalimat. Salah satu masalah besar saat menterjemahkan adalah struktur dan tata bahasa. Kita sering menganggap struktur bahasa Inggris’tidak konsisten’. Kadang terjemahan dimulai dari belakang, kadang dari tengah, dan kadang dari depan.   Struktur seperti ini cukup merepotkan. Selain itu, menterjemahkan  juga terhambat terbatasnya kosa kata atau vocabulary. Ketika harus sering-sering membuka kamus, kita bisa kehilangan konsentrasi menerjemahkan. Sungguh merepotkan!

Diperlukan terobosan yang revolusioner agar kita bisa menerjemahkan (membaca) naskah bahasa Inggris dengan cepat dan akurat. Metode Tiga Prinsip mengasumsikan bahwa struktur bahasa Inggris pada dasarnya adalah Lengkap, Urut, dan Sinkron. Lengkap artinya bahwa paling tidak bahasa Inggris terdiri dari Subyek dan Predikat. Mereka ada karena dua hal: (a) karena bermakna; dan (b) karena tuntutan tata bahasa. Kelemahan penerjemah yang belum ahli adalah menganggap semua kata punya arti, sehingga cenderung menerjemahkan semua unsur kata. Sebagai contoh, dalam struktur kalimat ”It is nice to meet you”,  Subyek ”It” tidak berarti apa pun. Keberadaannya adalah untuk memenuhi ’syarat’ sebagai subyek. Demikian pula kata kerja ”is”, yang tidak punya arti. Dalam tata bahasa, ”It’ berfungsi sebagai ”subyek semu”. Masalah yang sama juga bisa dijumpai dalam bentuk ”obyek semu”. Sebagai contoh, dalam kalimat ”I find it easy to speak English”, obyek ”it” hanyalah boneka. Tidak bermakna. Kalimat-kalimat lain yang mengandung obyek semu adalah ”I think it wrong to lie”, dan ”Take it easy”.

Tata bahasa, khususnya ’tenses’ juga menimbulkan masalah. Penanda waktu mempengaruhi arti naskah yang diterjemahkan. Dalam kalimat ”My grandmother was very beautiful”, misalnya, kata kerja ”was” harus diterjemahkan ”dulu”. Jadi kalimat itu mestinya diterjemahkan ”Nenek saya dulu cantik”. Tentu lucu bila diterjemahkan ”Nenek saya cantik”. Orang tak akan percaya kan?

Sekarang masalah kata sandang ”the” yang boleh dibilang tidak punya padan arti harfiah. Padahal kata itu sangat mempengaruhi arti. Dalam kalimat ”Would you switch off the fan?” tidaklah tepat apabila kata sandang ’the’ diabaikan. Tidaklah tepat bila diterjemahkan ”Maukah anda mematikan fan?”, karena itu berarti fan yang akan dimatikan bisa fan yang mana saja, bukan fan di tempat dimana pembicaraan terjadi. Boleh dong lari ke rumah tetangga dan mematikan kipas angin mereka? Fatal kan?

Dalam kalimat ”What a beautiful garden. I love the flowers”, kata sandang ”the” menyebabkan ”flowers” menjadi spesifik. Terjemahannya menjadi ”Saya suka bunganya”. Bukan sembarang bunga, tapi bunga yang ada di kebun tersebut.

Leave a Reply