TEKNIK MEMBACA TEXT BOOKS

Ciri-Ciri Naskah Ilmiah Akademik

Mahasiswa  mau tidak mau harus banyak membaca referensi dan literature berbahasa Inggris. Kita membacanya karena tuntutan tugas, atau karena kita ingin mencari pengetahuan dan informasi baru.  Sulitkah? Harusnya tidak. Kita harus ‘akrab’ dengannya dengan semakin mengenali bentuk dan karakteristiknya.

Naskah ilmiah biasanya memiliki ciri-ciri sebagai berikut (a) menggunakan kosa kata ‘tinggi’, (b) memiliki struktur panjang tapi padat, dan (c) menggunakan jargon yang spesifik. Agar bisa memahami naskah ilmiah (berhasa Inggris), kita harus (a) memiliki banyak kata; (b) menguasai tata bahasa; (c) memahami struktur; dan (d) mengetahui idiom

 

Memperkaya Kosa Kata

Untuk memperkaya kosa kata,  kita diantaranya harus menguasai Sinonim, Polisemi, Cognates, Substitusi, Derivatives, dsb.  Kata-kata yang sering digunakan sebagai sinonim diantaranya adalah “because”, “since”, “for”, dan “as” yang sama-sama bisa punya arti “karena”. Ragam arti  atau polisemi adalah satu kata yang memiliki banyak arti. Kata “since” tidak selalu berarti “sejak”, tapi kadang berarti “karena”.   Penggunaan cognates (kata-kata yang mirip) juga sering menyesatkan. Sebagai contoh, kata “solar system”. Frasa tersebut artinya “ tata surya”. Jadi tidak ada hubungannya dengan ‘bahan bakar solar’ dalam bahasa Indonesia.  Juga ketika kita menafsirkan ’royal family’ sebagai ’keluarga yang royal’. ’Royal’ dalam bahasa Inggris artinya ningrat, tidak ada hubungannya   dengan boros. Kata ’instruction’ seringkali otomatis diterjemahkan ’instruksi’ atau perintah. Kita lupa bahwa kata itu juga bisa berarti pengajaran. Kita juga mengenal kata ’instructor’ yang artinya pengajar.

 

Memperbaiki Tata Bahasa

Untuk menguasai Tata Bahasa  kita juga perlu menggunakan scientifical guessing (menebak makna secara ilmiah, menggunakan analogi dan asosiasi). Sebagai contoh, awalan in berarti tidak. Maka kata inhuman, incorrect, dsb. , mengandung arti tidak.   Kita juga bisa memahami arti dari bentuknya. Kita sudah familier dengan kata “beautiful”. Tentu tidak sulit kita menerjemahkan kata “beautify” (mempercantik), “beauty” (kecantikan), dan “beautician” (ahli kecantikan) karena masing-masing kata itu punya ciri bentuk sendiri-sendiri yang bisa dianalogi pada kata-kata lain. Maka kita juga mengenal kata-kata seperti “identify” dan “identity”.

 

Idiom

Tak kalah pentingnya, kita juga harus memahami idiom, yaitu rangkaian kata yang artinya seringkali ‘tidak bisa’ atau ‘tidak tepat’ bila ditelusuri dari kata-kata asli yang membentuknya. Kadang-kadang konteks kalimat bisa membantu memahami artinya. Sebagai contoh, kalimat (a) “He run out of the room and screamed”  kita terjemahkan “Dia berlari keluar kamar dan menjerit. ” Sedangkan kalimat (b) “He run out of blood” kita terjemahkan  “Dia kehabisan darah. ”

 

Teknik Terjemahan

Ada tiga teknik terjemahan. Ketiga cara tersebut digunakan secara terintegrasi, dan tidak pernah bisa dipilih salah satunya saja. Artinya, dalam suatu naskah ada bagian yang bisa dibaca (diterjemahkan) secara urut (kata demi kata), secara struktural (sesuai dengan struktur bahasa Sumber / Target), dan kadang-kadang bisa diterjemahkan secara bebas (tidak mengikuti norma sintaksis maupun tata bahasa).

a. Terjemahan Kata demi Kata

Dengan teknik alih bahasa ini, tidak ada perubahan makna atau arti kata dan tidak ada penyesuaian tata bahasa, karena setiap kata diterjemahkan dengan kata lain yang punya acuan makna sama.

Contoh: several patients = beberapa pasien

b. Terjemahan Struktural

Teknik ini mengharuskan adanya perubahan struktur dari Bahasa Sumber ke Bahasa Target. Bahasa Inggris biasanya menggunakan pola “Menerangkan – Diterangkan” sementara bahasa Indonesia “Diterangkan – Menerangkan”.

Contoh: malignant tumor = tumor ganas

c. Terjemahan Bebas

Dalam memaknai suatu bacaan, ada kalanya kita tidak bisa berpegang pada acuan makna kamus,  tidak bisa pula dengan merujuk pada aturan tata bahasa, sehingga bacaan itu dialihbahasakan secara bebas.

Contoh: Still water runs deep = Air tenang menghanyutkan

Agar bisa diperoleh padan makna, maka kita harus membaca secara kontekstual, yaitu membaca dengan memperhatikan situasi atau lingkungan bahasa. Dengan kata lain, kita harus memperhatikan kata-kata yang menyertai. Sebagai contoh, ‘ambulatory service’ bisa dimaknai layanan antar jemput, sedangkan ‘inpatient service’ artinya ‘pasien rawat inap’

 

Kesamaan dan Perbedaan

Agar bisa lancar membaca naskah bahasa Inggris kita harus tahu ‘KESAMAAN’ (bukan ‘perbedaan’) struktur antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Secara umum bahasa Inggris menggunakan struktur kalimat yang sama dengan bahasa Indonesia, yaitu: URUT. Artinya, Subyek, Predikat, dan Obyek menempati posisinya secara konsisten. Sebagai contoh: I wear shoes. Atau, I go to school.

Perbedaan baru kita jumpai dalam ‘KATA MAJEMUK’, yaitu dua kata atau lebih untuk menggambarkan satu hal / benda. Contohnya, ‘leather shoes’ atau ‘medical school’. Struktur ini pun sebenarnya bisa ditulis secara tidak terbalik menjadi ‘shoes of leather’ atau ‘school of medicine’.

Bagaimana dengan kosa kata yang terbatas?

Mudah! Sebenarnya kita bisa melipatgandakan perbendaharaan kata kita dengan metode analogi dan asosiasi. Bila kita tahu bahwa ‘beautiful’ artinya ‘indah’ maka kita juga (harus) otomatis tahu kata ‘beautify’, ‘beauty’, ‘beautifully’, dan ‘beautician’.  Bisa kita katakan bahwa menghafal kata haruslah kata yang serumpun. Tidaklah efektif menghafal kata-demi-kata yang tidak bertalian arti.

 

pintarbahasa@yahoo.com

 

 

Leave a Reply